Oleh: Agus Lithanta
Kabag Umum Sekretariat DPRD Kota Probolinggo; Ketua Komunitas Menulis ‘Bromo Pro Litera’
BEL istirahat berbunyi, bukan sebagai pembebas, melainkan sebagai gong pembuka sebuah pertunjukan sunyi yang riuh. Suara itu mengiris udara pagi yang masih lembap, memecah keheningan kelas menjadi serpihan-serpihan tawa dan teriakan yang saling bertabrakan seperti ombak di karang.
Di tengah pusaran itu, Reka berdiri. Ia bukan bagian dari arus; ia adalah batu karang yang diam, menahan gerusan air. Di tangannya, terselip sebuah kotak kardus usang yang dilapisi plastik bening berisi kue basah, permen karet, pensil patah, dan kelereng yang warnanya sudah memudar dimakan waktu.
Matanya, bak dua kolam cokelat tua yang terlalu dalam untuk ukuran anak seusianya, menyapu wajah-wajah teman sebayanya. Ada harapan yang gemetar di sana, setipis sayap capung, namun sering kali pecah dihantam angin dingin pengabaian.
"Hey, Pedagang Asongan!"
Suara itu datang seperti petir di langit cerah. Bima, dengan postur tubuhnya yang menjulang seperti pohon beringin yang angkuh, melangkah mendekat. Di belakangnya, bayangan-bayangan teman lain mengikuti, membentuk lingkaran setan yang mengepung Reka.
"Jualan apa lagi hari ini? Sampah?" Bima tertawa, suara yang kasar dan tajam, menggores telinga siapa pun yang mendengarnya. Ia menepis tangan Reka hingga kotak kardus itu hampir terjatuh. Beberapa kue menggelinding keluar, berputar-putar di lantai semen yang kotor, lalu berhenti, tak berdaya, seperti nasib Reka sendiri.
Reka tidak menangis. Air matanya telah lama kering, habis tersedot oleh realitas pahit yang harus ia telan setiap pagi sebelum matahari sepenuhnya terbit.
Ia hanya membungkuk, mengumpulkan kembali kue dan kelereng-kelerengnya dengan jari-jari yang kasar dan penuh luka kecil. Ia adalah anak yang belajar bahwa diam adalah perisai terbaik ketika dunia sedang marah.
Namun, perisai itu retak ketika sebuah tangan besar dan hangat mendarat di pundaknya.
"Cukup, Bima."
Suara itu tenang, namun memiliki berat gravitasi yang mampu menghentikan putaran bumi sejenak. Pak Anto berdiri di sana. Seragam batiknya yang rapi tampak kontras dengan kekacauan di lorong sekolah. Matanya, di balik kacamata tebal, menatap Bima bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kekecewaan yang lebih menyakitkan daripada amarah.
"Masuk ke kelas. Semua," perintah Pak Anto singkat. Nadanya tidak tinggi, namun cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri. Bima, yang tadi singa yang mengaum, kini mengecil menjadi anak kucing yang ketakutan. Ia menunduk, menyeret kakinya masuk ke dalam ruangan.
Di dalam kelas, udara terasa padat. Debu dan partikel cahaya menari-nari dalam sorotan jendela, seolah menjadi saksi bisu atas penghakiman yang akan terjadi. Reka duduk di pojok, memeluk kotak dagangannya erat-erat, seolah itu adalah satu-satunya harta yang ia miliki di dunia yang fana ini.
Pak Anto tidak langsung menghukum. Ia berjalan pelan menuju papan tulis, mengambil kapur, dan menulis satu kata besar: PEDAGANG.
"Tahukah kalian," seru Pak Anto, suaranya mengalun seperti sungai yang tenang, "bahwa sebelum menjadi pemimpin umat, sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang? Beliau dikenal sebagai Al-Amin, yang terpercaya. Dagang bukan sekadar tukar menukar barang dengan uang. Dagang adalah seni kepercayaan. Seni melayani. Seni melihat kebutuhan orang lain dan memenuhinya dengan kejujuran."
Pak Anto berbalik, menatap mata murid-muridnya satu per satu. Pandangannya berhenti sejenak pada Reka, lalu beralih ke Bima.
"Menghina seseorang karena ia berusaha mencari nafkah dengan cara yang halal, adalah menghina martabat kemanusiaan itu sendiri. Reka tidak menjual sampah. Ia menjual harga diri. Ia menjual keringat. Dan itu, jauh lebih mulia daripada mulut-mulut yang hanya pandai mengejek tanpa menghasilkan karya."
Hening. Sunyi yang berbeda dari sebelumnya. Bukan sunyi karena takut, tapi sunyi karena kesadaran yang tiba-tiba mengetuk pintu hati mereka seperti tamu tak diundang. Bima menatap lantai, wajahnya memerah, bukan karena marah, tapi karena malu yang membakar dada. Ia menyadari bahwa selama ini ia buta. Buta terhadap perjuangan teman yang duduk hanya beberapa meter darinya.
Pak Anto tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung sejuta makna. "Sekarang, jika kalian lapar, atau butuh pensil, atau sekadar ingin berbagi, Reka ada di sini. Belilah dengan rasa hormat."
Perlahan, seperti es yang mencair di bawah sinar matahari pagi, tangan-tangan mulai terangkat. Seorang gadis bernama Sari maju pertama kali, meletakkan uang lima ratus rupiah di atas meja Reka dan mengambil sebuah permen. "Ini enak, kan, Reka?" tanyanya lembut.
Reka mengangguk, matanya berkaca-kaca. Lalu, satu per satu, teman-teman lainnya mendekat. Bukan lagi dengan ejekan, tapi dengan senyuman canggung dan permintaan maaf yang tersirat dalam tatapan. Bima terakhir kali mendekat. Ia membeli kue yang tadi sempat terjatuh karena ulahnya. Ia menepuk bahu Reka dengan pelan, dan berbisik, "Maafkan saya, ya."
Saat bel masuk berbunyi, kotak kardus Reka kosong. Namun, hatinya terasa penuh, dipenuhi oleh sesuatu yang lebih berharga daripada uang receh: penerimaan.
Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan gradasi ungu dan jingga yang sendu, Reka berjalan pulang. Langkahnya ringan, meski sepatunya tetaplah sepatu usang yang solnya menipis. Ia melewati gang-gang sempit, menyusuri jalan berbatu yang sudah familiar, hingga sampai di sebuah rumah papan kecil yang catnya sudah mengelupas, dimakan rayap, waktu, dan kelembapan.
Di ambang pintu, ibunya duduk di kursi roda tua. Wajahnya pucat, seperti kertas yang lama terpapar sinar matahari, namun matanya bersinar hangat saat melihat Reka datang.
"Bagaimana harimu, Nak?" tanya Ibu, suaranya parau, seperti daun kering yang diinjak.
Reka tersenyum, sebuah senyuman yang merekah indah, menghapus segala lelah seharian. Ia mengeluarkan sisa uang receh dari sakunya, menghitungnya dengan teliti, lalu menyerahkannya pada ibunya. "Laku keras, Bu. Teman-teman baik hari ini."
Ibunya memegang tangan Reka, jari-jarinya yang dingin menggenggam erat tangan anaknya yang hangat. "Syukur... Syukur Alhamdulillah. Uang ini cukup untuk obat Ibu minggu ini."
Reka mengangguk. Ia memandang ibunya, lalu menatap ke luar jendela, ke arah langit yang semakin gelap. Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala, satu per satu, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Ia tahu, besok ia akan kembali berjualan.
Ia tahu, ejekan mungkin masih akan ada, atau mungkin tidak. Ia tahu, hidup adalah lautan yang kadang tenang, kadang bergelora.
Editor : Muhammad Fahmi