“AKU ini dulu menjadi pengusaha muda yang sukses. Aku punya rumah makan besar dengan cabang di mana-mana. Aku mencapai puncak kejayaanku di umur dua puluhan. Memang melalui proses yang panjang karena aku memulai usahaku sejak umur lima belas tahun. Saat itu hasil masih sedikit, tapi aku terus berusaha sampai aku mempunyai rumah makan terbesar di kotaku dan cabang-cabang di kota-kota lain dan semua sukses,” cerita Priya berapi-api.
Tapi tak satu pun temannya yang menanggapi.
“Aku dulu sering mendapat penghargaan sebagai pebisnis muda berprestasi. Aku pernah diundang presiden juga sebagai tamu kehormatan karena aku adalah pebisnis berprestasi. Saat itu aku pebisnis paling muda yang memiliki prestasi paling bagus,” lagi Priya menceritakan tentang masa lalunya kepada teman-temannya.
Priya selalu menceritakan tentang kesuksesannya di masa lalu ketika berkumpul dengan teman-temannya. Cerita itu terus diulang-ulang sampai teman-temannya pun merasa bosan karena setiap hari hanya itu-itu saja yang dibicarakan Priya.
Priya entah sadar atau tidak, sebenarnya teman-temannya juga adalah pengusaha sukses namun mereka jarang menceritakan betapa suksesnya mereka. Mereka yakin, tanpa harus diceritakan pun, dunia akan menunjukkan kesuksesan mereka.
“Halah! Cuma kayak gitu. Tidak bermutu kayak gitu, tu,” kata Priya mengomentari ketika salah seorang temannya bercerita tentang proyek yang baru saja diselesaikannya. Memang bukan proyek besar, tapi hasilnya pasti.
“Lha, memangnya yang bermutu yang bagaimana?” tanya temannya. Dia tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Priya. Dia malah tersenyum menanggapi kata-kata Priya.
“Yang bermutu ya yang seperti aku. Aku dulu proyeknya lebih besar dan hasilnya besar. Tidak seperti ini,” Priya kembali berapi-api memamerkan tentang dirinya di masa lalu.
“Itu masa lalu kan, Mas? Trus hasilnya sekarang mana?”
Skakmat!
Priya, seorang duda ditinggal selingkuh istrinya dan harus menghidupi kedua anaknya karena istrinya tidak mau merawat anak-anak mereka. Menurut pengakuannya, dulu dirinya adalah seorang pengusaha sukses.
Tapi itu dulu. Sedangkan sekarang dia adalah seorang pengangguran. Sesekali dia dimintai bantuan tetangga atau teman. Pekerjaannya serabutan. Sering orang-orang di sekitarnya memberikan bantuan sembako dan uang kepadanya karena dia selalu mengeluh dan menceritakan kehidupannya yang miris.
Awalnya memang banyak yang membantu, tapi hal ini malah membuatnya semakin malas bekerja. Dia berfikir, jika hanya dengan menceritakan kesedihan dan keapesannya saja bisa mendapatkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya dan dia serta kedua anaknya bisa makan, buat apa ngotot kerja.
Untuk menutupi kemalasannya, dia tetap bekerja serabutan seenaknya sendiri. Tapi dia beberapa kali mengeluh sakit asam lambungnya kumat, sehingga membuat orang yang memberinya pekerjaan menjadi kasihan. Kemudian orang tersebut akan menyuruhnya berhenti bekerja dan memberinya bantuan berupa makanan maupun uang. Semudah itu hidupnya.
“Aku ini dulu menjadi pengusaha muda yang sukses. Aku punya rumah makan besar dengan cabang di mana-mana. Aku mencapai puncak kejayaanku di umur dua puluhan. Memang melalui proses yang panjang karena aku memulai usahaku sejak umur lima belas tahun. Saat itu hasil masih sedikit, tapi aku terus berusaha sampai aku mempunyai rumah makan terbesar di kotaku dan cabang-cabang di kota-kota lain dan semua sukses,” lagi dan lagi Priya akan menceritakan kejayaan masa lalunya ketika teman-temannya berkumpul dan membahas tentang bisnis yang sedang mereka jalani maupun yang sedang mereka rintis.
“Aku dulu sering mendapat penghargaan sebagai pebisnis muda berprestasi. Aku pernah diundang presiden juga sebagai tamu kehormatan karena aku adalah pebisnis berprestasi. Saat itu aku pebisnis paling muda yang memiliki prestasi paling bagus.” tak ada bosannya dia terus menceritakan bagaimana dia dulu begitu berprestasi dan pernah diundang presiden sebagai pebisnis muda.
Teman-temannya sebenarnya sudah bosan karena Priya selalu memamerkan kejayaan masa lalu namun dia selalu nyinyir dengan keberhasilan teman-temannya sekarang. Teman-temannya berusaha tetap menghormatinya mengingat dia lebih tua dari mereka, meski diantara mereka juga ada yang lebih tua.
Teman-temannya rata-rata adalah pengusaha sukses, tapi dia seolah meremehkan mereka dan selalu membanggakan seolah hanya dialah yang paling hebat. Kritik-kritik pedasnya yang sering menbuat sakit hati mencoba untuk tidak ditanggapi, ya sekedar rasa hormat mereka kepada orang yang lebih tua. Tidak lebih.
Suatu ketika ada seorang anak muda yang cukup sukses dengan bisnisnya mengomentari ceritanya yang terus diulang-ulang. Pemuda itu memang belum terlalu lama mengenalnya. Dia hanya mengenal Priya sebatas sebagai teman satu komunitas pengusaha.
Namun karena hampir setiap kali berkumpul Priya terus memamerkan kejayaannya di masa lalu, ternyata lama-kelamaan dia merasa risih juga. Apalagi beberapa kali dia kena kritik pedas Priya yang berusaha menjatuhkan mentalnya.
“Pak, kalau memang Anda pengusaha sukses, mana buktinya? Anda hanya pengangguran dengan pekerjaan serabutan. Kalau memang Anda merasa lebih baik, tunjukkan! Jangan hanya mengkritik dengan pedas,” kata pemuda itu tanpa tedeng aling-aling.
“Hei, anak muda! Kamu ini masih bau kencur. Kamu tidak punya pengalaman apa-apa. Beda dengan aku. Aku dulu pengusaha sukses. Aku dulu juga kaya raya dari hasil bisnisku. Kalian semua tidak ada apa-apanya dibanding aku dulu,” lagi-lagi Priya memamerkan kejayaannya di masa lalu.
“Kalau memang Anda dulu sukses dan kaya, mana buktinya? Jangan hanya iri dan dengki melihat keberhasilan kami. Kami tidak ingin bersaing. Kami hanya ingin berusaha terbaik untuk kami sendiri. Tapi Anda menganggap seolah kami ini musuh dan saingan yang harus selalu ditekan. Boleh Anda dulu sukses. Tapi zaman terus berputar. Untuk apa membanggakan kejayaan masa lalu kalau tidak bisa menjamin kehidupan masa kini. Apalagi Anda yang saat ini tidak mau berusaha mengejar tapi hanya memamerkan kejayaan masa lalu dan memupuk rasa iri saja,” pemuda itu bicara panjang lebar.
Priya yang merasa dikuliti habis-habisan oleh pemuda yang jauh lebih muda darinya menjadi emosi. Dia berteriak-teriak terus menghujat pemuda itu. Bahkan ketika pemuda itu hendak meninggalkan tempat, Priya terus mengejarnya dan terus mencaci dan menghujatnya.
Dia terus mengeluarkan kata-kata untuk menjatuhkan pemuda itu. Dia tak segan-segan mencari dukungan teman-temannya yang lain untuk ikut menghujat pemuda itu.
Tapi sayang, semua yang merasa sudah muak dengan sikapnya hanya diam saja. Mereka tak ada satupun yang mencoba membela dan mendukungnya. Mereka justru tampak mendukung pemuda itu yang lebih memilih diam membiarkan Priya terus berteriak-teriak.
“Teruslah berteriak. Orang tak akan ada yang simpati dengan manusia yang terus terpenjara di kejayaan masa lalu dan hanya mengembangkan kebencian dan kesombongan di masa kini tanpa memberikan bukti kalau kamu benar-benar pernah berjaya, atau hanya sekedar bualan saja?” gumam pemuda itu seraya terus melenggang pergi.
Penulis: Fery Yanni
Editor : Abdul Wahid