“Horee… horee… nanti kita bikin sate… horee…”
Bocah laki-laki itu berlari berputar-putar kegirangan. Bayangan sate yang dibakar mengeluarkan asap membubung dan aroma daging bercampur bumbu dan kecap sudah menari-nari di kepalanya.
Bocah laki-laki itu terus berlari mengitari para pemuda dan pemudi yang sibuk membawa kantong-kantong plastik berisi daging kurban.
Dan bocah laki-laki itu tentu saja berharap akan menerima salah satu dari kantong-kantong itu. Bukankah daging kurban dibagikan rata pada semua warga?
Hari belum siang, namun proses penyembelihan hewan kurban di kelurahan sudah selesai. Ada empat ekor sapi dan sebelas ekor kambing yang disembelih untuk kurban tahun ini.
Sungguh luar biasa tahun ini, banyak warga yang ikut berkurban baik secara kolektif maupun individu. Dan usai shalat Dzuhur, daging-daging itu sudah mulai bisa dibagi-bagikan.
“Dik.. Dik.. mau tanya…” salah satu pembawa daging kurban memanggil bocah laki-laki itu. Yah, usianya sekitar enam tahun, pastilah sudah bisa ditanya-tanya.
“Rumahnya Pak Angger mana, ya?” tanya gadis pembawa daging kurban itu. Tangan kirinya memegang kertas berisi catatan daftar penerima daging kurban
. Tangan kanannya sedikit terangkat memegang beberapa kantong berisi daging kurban, sangat dekat ke hidung bocah laki-laki itu. Saking dekatnya, bahkan bocah itu mampu mengendus aroma daging yang masih segar berdarah itu.
“Oh… itu!” bocah laki-laki itu menunjuk rumah di sebelah kanan warung Bu Mur, warung tempat ibunya bekerja, dengan penuh semangat.
Ibu bocah itu, Bu Warsih adalah adik Bu Mur. Mereka tinggal bersebelahan, masih satu halaman. Meski demikian, nasib mereka berlawanan. Bu Warsih hidup dalam kesederhanaan, sedangkan Bu Mur hidup berkelimpahan.
Bu Mur meminta adiknya membantu di warung untuk bisa membantu adiknya itu. Bu Warsih memang tahu diri. Ketika Bu Mur ingin membantunya secara cuma-cuma, dia memilih menolak. Dia justru minta bekerja di warung kakaknya jika memang kakaknya ingin membantunya.
“Kalau Pak Budiono?” tanya gadis itu lagi.
“Itu!” bocah laki-laki itu menunjuk rumah di sebelah kiri warung. Sedangkan rumah Bu Mur, tak perlulah mereka bertanya. Semua juga tahu di mana rumah Bu Mur. Rumah paling megah dan luas dengan warung serba ada di depannya. Namun, meski Bu Mur kaya, dia masih juga mendapat jatah daging kurban.
“Kalau Pak Warsudi? Pak Duryadi? Pak Parmudi?” gadis itu menanyakan semua KK di seluruh kampung itu. “Pak Jumeri?”
“Itu anaknya Pak Duryadi,” jawab bocah itu.
“Pak Budiawan?”
“Anaknya Pak Parmudi,” jawab bocah laki-laki itu lagi.
“Ok… makasih ya, Dik,” gadis itu melenggang pergi.
“Aku nggak dapat, Mbak?” bocah itu bertanya penuh harap.
“Hmm… siapa nama ayahmu? Di mana rumahmu?” tanya gadis yang membawa catatan penerima daging kurban.
“Rumahku di situ. Bapakku Pak Muhdi,” bocah laki-laki itu menunjuk sebuah rumah sederhana di sebelah warung Bu Mur.
“Tidak ada nama Muhdi. Mungkin dia tidak terdaftar sebagai warga di sini,” jawab gadis itu sambil berlalu meninggalkan bocah laki-laki itu yang hanya bisa berdiri mematung dengan tatapan bingung dan putus asa.
Lunglai, bocah laki-laki itu berjalan ke warung Bu Mur untuk mencari ibunya. Hilang sudah cerianya. Buyar angan-angannya untuk membakar sate nanti malam. Bayangan sate yang kinyis-kinyis dengan kecap yang meleleh hilang sudah.
“Mak, kita kok, tidak dapat dagingnya, ya? Semua dapat, tapi kita hanya dilewati,” adunya.
“Sudah.. jangan sedih. Siapa tahu jatah kita datangnya nanti sore. Bukankah kita ikut berkurban? Biasanya orang yang ikut kurban akan mendapat bagian lebih,” hibur ibu mendengar aduan anaknya.
Keluarga Bu Warsih memang kurang beruntung. Bu Warsih bekerja membantu kakaknya, Bu Mur, sebagai sumber penghasilannya. Sedangkan suaminya hanya menjadi buruh lepas bangunan.
Meski terdaftar sebagai warga di RW itu selama lebih dari 10 tahun, namun sekalipun mereka tak pernah mendapatkan jatah daging kurban maupun bantuan-bantuan lainnya. Maka, tahun ini, setelah cukup lama menabung mereka akhirnya bisa ikut berkurban satu ekor sapi yang mereka tanggung sendiri.
Mendengar jawaban ibunya, mata bocah laki-laki kecil itu kembali berbinar-binar. dia kembali memiliki harapan menikmati daging kurban yang selama ini dia harapkan. Namun, kenyataannya, sampai sore tak ada daging kurban maupun daging jatah untuk mereka yang berkurban datang.
“Mak, mengapa kita tidak pernah mendapatkan daging kurban?” bocah laki-laki itu, dengan penuh ketegaran, bertanya pada ibunya..
“Le, sabar, ya…. Mungkin kita tidak pernah mendapatkan daging kurban karena kita ini orang miskin. Sedangkan daging kurban diperuntukkan bagi mereka-mereka yang kaya. Mereka bisa makan daging hanya saat Idul Qurban. Sedangkan orang miskin seperti kita sudah sering makan daging, tak harus menunggu Idul Qurban, kan?” Ibu menghela napas sebentar sebelum melanjutkan.
“Biarlah orang-orang kaya itu berebut daging kurban dari orang miskin seperti kita. Bukankah nanti di surga kita akan lebih kaya dari mereka dengan amalan kita?”
Bocah laki-laki itu manggut-manggut. Segera dia berlari untuk bermain lagi. “Horeee… aku jadi orang miskin tapi memberi makan orang kaya…..” (*)
Oleh: Fery Yanni
*) Penulis berbagai genre yang tinggal di Jatinom, Klaten. Lulusan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni-Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, yang hobi menulis dan memasak.
Editor : Muhammad Fahmi