Oleh: Endang S. Sulistiya
DERU suara motor, menyalakan rona riang pada wajah Vera. Gegas dia menyambut suami tercinta di muka pintu. Tangannya segera menggelendot manja pada lengan kokoh Hardi.
Tiga hari penuh tidak bertemu, membuat rindu merimbun. Senin sampai Rabu memang jatah untuk istri tua. Sebagai istri muda, Vera mendapat jadwal kunjungan dari Kamis sampai Minggu.
"Mas, mau makan sekarang?" tawar Vera penuh perhatian.
"Aku sudah kenyang," tukas Hardi, singkat.
"Memangnya Mas makan siang di mana?" tanya Vera, menyelidik.
"Di rumah Asih. Dia masak sayur rebung,” jawab Hardi, datar. Tanpa rasa sungkan pada istri mudanya.
"Sayur rebung, Mas? Idih, yang dari bambu itu? Mending makan di sini, aku sudah siapkan makanan spesial. Ada gudeg, gulai singkong, semur ayam kampung, lele...."
"Semuanya beli, bukan?" potong Hardi sinis sambil melerai tangan istri keduanya. Risi.
Vera terdiam. Romannya memerah. Dia tidak habis pikir, baru kali ini suaminya mempermasalahkan perihal beli makanan atau masak sendiri.
Sejak dinikahi Hardi, Vera tidak pernah sekalipun memasak. Bahkan goreng telur atau rebus mi instan saja jarang-jarang. Vera memang tidak bisa memasak dan tidak berminat memasak. Dan hal tersebut sebelumnya tidak pernah dipermasalahkan oleh Hardi.
Kala Vera tengah terpenjara dalam lamunan, Hardi berlalu pergi. Tampak sekali Hardi tidak nyaman dengan sikap kolokan istri mudanya. Setelah coba mengingat-ingat, dia bertambah jengkel.
Hardi sudah menemu kesimpulan. Bahwasanya kemarin proyek jembatan yang ditanganinya sudah selesai. Pembayaran akan segera dilunasi. Pasti karena hal ini Vera jadi lebih agresif.
Menuju ke teras samping rumah, Hardi merokok di sana. Dia sedang ingin sendiri. Dia tak mau diganggu.
Masih dari tempatnya mematung, Vera memandangi suaminya. Kaca jendela teras membingkai sosok Hardi yang tampak menua. Rambut cepak Hardi tampak klimis oleh minyak rambut. Aslinya tanpa semir, uban sudah mengkudeta kepala dari pria yang memang semakin berumur itu. Lima puluh lima tahun. Keriput di wajah Hardi pun kian kentara, tetapi tenaganya di ranjang masih saja membuat Vera ketagihan.
Perihal ranjang, Vera yang baru tiga puluhan tentu masih dapat mengimbangi. Jauh dari perkiraannya, masalah perut yang kini jadi perkara.
Ada pepatah usang mengatakan: taklukkan pria melalui perutnya. Vera tidak menentangnya. Namun tentu saja Vera memahami makna pepatah itu dengan pemahamannya sendiri. Masa sekarang berbagai macam makanan dijual. Tidak perlu memasak sendiri, urusan perut bisa dibeli. Nyatanya lima tahun berjalan, segalanya aman terkendali. Entah mengapa tiba-tiba saja Hardi jadi berubah begini? “Apa mungkin Hardi ada yang mempengaruhi?” batin Vera dalam hati.
Mulanya Vera pikir menjadi istri kedua itu akan jauh lebih disayang. Lebih muda, cantik dan menarik. Apalagi Vera adalah wanita karier yang berdaya ekonomi. Pekerjaannya sebagai marketing cukup dapat dibanggakan. Gajinya lumayan. Penampilannya selalu terjaga.
Dibandingkan Asih yang udik, Vera merasa jauh lebih unggul. Asih hanya ibu rumah tangga biasa. Sehari-harinya cuma pakai daster. Memang Asih menerima permak dan jahitan di rumah, tetapi hal itu menurut Vera semua kegiatan itu untuk kamuflase belaka. Supaya seolah-olah membuat Asih tampak sibuk di pandangan orang-orang. Sehingga Asih bisa melarikan diri lantas menyembuhkan lukanya dari kehadiran orang ketiga.
Pada hari biasa, jarang-jarang saja orang yang menjahitkan baju pada Asih. Ramainya paling pas tahun ajaran baru dan lebaran. Lantaran itu Vera menduga penghasilan Asih tidak seberapa. Buat uang saku Alya saja pasti masih kurang. Maka dari itu Asih sangat tergantung pada nafkah dari suami. Tidak mandiri sama sekali.
Menyetujui suami berpoligami bukan keputusan mudah. Vera yakin sebenarnya Asih tidak ikhlas. Mungkin saja karena takut dicerai dan tidak dapat nafkah itulah, akhirnya Asih pasrah. Padahal sejatinya Vera ingin Asih mundur. Pergi jauh-jauh dari hidup Hardi. Sehingga dia bisa menggeser Asih sebagai istri satu-satunya Hardi. Dengan begitu seluruh penghasilan Hardi sebagai mandor bisa dikuasainya.
Ternyata jalan hidup tidak semulus angan. Awalnya pada tahun pertama pernikahan, Hardi begitu memuja Vera. Segala apa yang diminta istri keduanya itu dipenuhi. Sampai kadang seminggu penuh Hardi berada di rumah Vera. Enggan pulang ke rumah istri tuanya. Vera merasa senang ambisinya sudah terpampang nyata. Tidak lama lagi pasti Hardi menceraikan Asih, pikir Vera saat itu. Merasa menang.
Tidak disangka tahun kedua dan seterusnya, sikap Hardi mulai hambar. Usai ditelusur, Hardi merasa kecewa Vera tidak kunjung hamil. Sedangkan alasan utama Hardi menikah lagi adalah untuk memperoleh keturunan laki-laki.
Tanpa sepengetahuan Hardi, Vera ternyata pasang KB implan. Sebagai marketing, Vera merasa harus mengutamakan penampilan. Dia tidak mau kehamilan mengubahnya jadi gemuk. Pula dia pusing tiap kali membayangkan mengasuh anak.
Enam bulan lalu Hardi akhirnya tahu bahwa Vera telah diam-diam KB. Hardi sempat marah besar. Usai Vera berjanji akan segera mencopot implan, Hardi akhirnya sedikit luluh. Kini Hardi tampaknya menanjak lagi kecewanya lantaran Vera belum kunjung hamil juga. Padahal Hardi sudah memenuhi keinginan Vera untuk bulan madu ke Bali dan permintaan lain-lainnya.
***
Malam Jumat, Vera mematut dirinya di cermin dengan senyum nakal. Dia memuji penampilannya sendiri. Wajah glowing berkat perawatan salon dan skincare mahal. Perut dan pinggang ramping meski tidak selangsing waktu perawan. Malah sekarang dia bisa dibilang lebih montok dengan beberapa bagian tubuh yang menonjol. Secara rahasia dia telah melakukan perawatan suntikan silikon untuk menghasilkan tonjolan itu.
Berjalan mondar-mandir di kamar, sering duduk dan berdiri lagi, membuat lingerie seksi yang dipakai Vera kusut. Gundah, Vera menunggu Hardi yang tidak kunjung tiba. Padahal suaminya itu tadi hanya pamit ke rumah Asih untuk menghadiri acara lamaran Alya.
Alya belum lama ini wisuda. Tak berselang lama, dia dilamar.
Jarum jam tepat menunjuk angka dua belas. Vera geram. Dia yakin pasti Asih dan Alya sengaja mencegah Hardi pulang. Menyabet kunci motor, Vera nekat akan mendatangi rumah sang istri tua. Tentu saja untuk melabraknya.
Mendekati rumah Asih, Vera pikir aneh rasanya bila dia lewat pintu depan. Maka Vera kemudian memutuskan membelokkan motornya lewat jalan samping rumah. Lalu dia berjingkat-jingkat mendekat ke kamar Asih.
Aroma lumpia rebung yang dibawa angin menggelitik indra penciuman Vera. Dia yang semakin diliputi penasaran, mencukil jendela untuk mengintip. Sekonyong-konyong Vera terbakar cemburu. Disaksikannya dengan matanya sendiri, Hardi tengah mencumbu Asih dengan panas.
"Mas, malam ini jatahnya Vera," ucap Asih terbata-bata setelah susah payah melepas jerat bibir Hardi.
“Aku sudah tidak mau sama Vera lagi. Dia itu lugut," tukas Hardi, ngos-ngosan.
Hardi yang tengah di puncak gairah, hendak menancapkan bibirnya ke leher Asih, tetapi istri tuanya itu mendorong dengan lembut.
“Lugut, Mas?” Asih menagih penjelasan terlebih dahulu.
“Ya, lugut. Wanita gatal yang sudah mengganggu rumah tangga kita,” balas Hardi dengan nada emosi.
Terpaku. Vera menyaksikan adegan lanjutan yang membuat dadanya ngilu. Sudah sebulan lebih dia tak pernah disentuh Hardi. Berbagai cara Vera coba untuk memancing insting kejantanan Hardi, tetapi laki-laki itu selalu menghindarinya.
Vera ambruk terduduk. Lemas. Matanya menekuri diri. Lingerie hitam yang menempel ketat di tubuhnya tiba-tiba tampak seperti lugut. Bulu-bulu halus pada pohon bambu yang meresahkan dan mengganggu.
Mau tak mau, Vera menyadari betapa hina dirinya sebagai pelakor. Dengan licik dia telah menjerat lelaki beristri lalu berambisi menguasainya. Tak hanya menyakiti hati seorang istri sah saja, lebih dari itu, dia telah menghancurkan sebuah keluarga yang dahulunya bahagia. (*)
Endang S. Sulistiya, menetap di Boyolali. Alumnus FISIP UNS. Tergabung dalam komunitas DSI (Diskusi Sahabat Inspirasi). Menulis cerpen berbahasa Indonesia maupun cerpen berbahasa Jawa.
Editor : Jawanto Arifin