Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kalender Caleg

Jawanto Arifin • Minggu, 7 Januari 2024 - 22:05 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Herumawan P.A.


SUDAH bulan Desember. Sebentar lagi tahun yang lama akan ditinggalkan. Berganti tahun yang baru. Tapi hingga saat ini, kalender baru yang kubuat lalu kusebar ke beberapa di toko belum banyak yang laku.

"Bagaimana kalender saya, Pak?" Si pemilik toko menggelengkan tangan. Aku pergi ke toko lain dengan muka masam.

"Bagaimana kalender saya, Bu?" Pertanyaan yang sama aku lontarkan.

"Belum ada yang kejual, Mas." Aku berjalan gontai ke toko lain.

"Bagaimana kalender saya, Pak?" Pertanyaan yang sama aku lontarkan.

"Ada yang beli tapi bisa dihitung jari." Aku senang mendengarnya. Akhirnya ada yang mau membeili kalender bikinanku.

"Alhamdulillah. Bisa saya minta uangnya, Pak. Lumayan bisa buat tahun baruan nanti."

"Oh gak bisa, Mas. Uangnya kan buat bayar kopi dan gula yang tempo hari utang." Aku tersenyum pahit sepahit ampas kopi yang kuminum pagi tadi, masih tersisa di bibir.

***

Aku bisa memaklumi penjualan kalenderku yang menurun dari tiga tahun lalu. Mungkin orang sekarang sudah tak butuh kalender. Karena di gawai dan komputer mereka sudah ada kalender yang tak perlu lagi diganti.

Kupandangi tumpukan rancangan kalender-kalender baru yang sedang kubikin. Raut muka sedih terpancar di wajahku. Ini tak jauh berbeda dengan yang kualami tiga tahun lalu. Penjualan kalender bikinanku memang merosot beberapa tahun ini.

Aku mencari cara agar banyak orang membeli lagi kalender bikinanku. Sempat ada usul untuk memuat gambar perempuan berpakaian terbuka di kalender.

Tapi aku tegas menolaknya. Karena aku khawatir itu akan jadi bumerang untukku dan tokoku. Alih-alih mendapat pembeli yang banyak, aku bisa dilaporkan ke Polisi dengan sangkaan penyebaran pornografi.

Ada seorang teman yang mengusulkan agar aku menemui mereka yang nyaleg di Pemilu. Aku pun baru ingat bulan Februari nanti ada Pemilu.

"Untuk apa?"

"Ya biar mereka promosi diri dan janji-janjinya di kalendermu."

"Caranya?"

"Minta foto mereka yang paling keren. Lalu pasang di kalendermu. Jangan lupa catat semua janji-janjinya untuk ditulis nanti di kalender." Aku langsung setuju dengan usulnya.

Segera kutemui beberapa orang di kampung yang aku ketahui nyaleg. Aku menawarkan agar membuat kalender promosi nyaleg-nya di tempatku. Ada yang langsung bersedia. Ada juga yang ragu-ragu dan malah tak mau.

Kalau sudah begini, aku akan memaksa dengan dalih akan memilihnya hingga memberitahu orang sekampung untuk tak memilihnya, karena pelit.

Akhirnya yang semula menolak atau ragu-ragu mau memakai jasaku membuatkan kalender promosinya. Tak lupa, aku minta foto yang paling keren dan juga janji-janji kampanyenya.

Aku lalu mendesain kalender tujuh lembar. Di bagian sampul kalender, aku pakai selembar penuh untuk wajah caleg dengan nama, nomor urut dan partainya. Di enam lembar berikutnya, aku tuliskan janji-janji kampanyenya di bagian atas tanggal dan bulan kalender.

Tak lupa tanggal 14 Februari di kalender yang kubikin, aku beri warna pink. Bukan untuk hari Valentine, tapi sebagai pengingat hari libur pencoblosan. Selesai sudah pekerjaanku.

Kubaca lagi janji-janji kampanyenya. Ada yang terasa menggelitik, aneh, bahkan terlampau tinggi untuk bisa dipenuhi. Tapi apa peduliku. Bagiku yang penting, kalender caleg sudah rampung dan uang pelunasan sudah ditranfer.

Langsung kusebar ke toko-toko langganan aku menjual kalender. Kini aku hanya bisa menunggu orang-orang membeli kalender bikinanku. Setiap hari, aku berharap ada satu atau dua orang mau membelinya. Tapi dari beberapa toko yang kudatangi beberapa hari kemudian, belum ada kalender bikinanku yang terjual.

"Salah sendiri pakai gambar caleg ditambah ada janjinya. Sudah tahu pada muak dengan janji-janji caleg, tapi saat terpilih mendadak lupa." celoteh seorang pemilik toko yang biasa kutitipi kalender bikinanku. Aku tersenyum kecut.

***

“Apa aku obral saja ya?” pikirku. Ya apa salahnya melakukan mirip dengan yang biasa obral janji kampanye. Aku memutuskan mengobral kalender-kalender bikinanku di depan rumah. Tapi tetap saja tak banyak terjual. Hanya satu atau dua yang terjual. Itu pun pembelinya orang tua atau lansia.

Aku benar-benar dibuat frustasi melihat hasil penjualan kalender bikinanku yang tak kunjung naik. Lalu kuputuskan menggratiskan kalender-kalendernya. Hasilnya luar biasa. Dalam hitungan jam, kalender-kalender bikinanku sudah ludes tak tersisa.

"Kenapa beli banyak, Mbak? Karena gratis ya." Aku bertanya pada seorang pembeli perempuan.

"Iya juga sih. Tapi saya lebih butuh kertasnya buat saya jual di pengepul. Lumayan duitnya bisa buat beli makan." Aku lagi-lagi tersenyum kecut. (*)

Yogyakarta, 5 Januari 2023

Editor : Jawanto Arifin
#caleg #cerpen