Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cinta Tak Pernah Bertanya Mengapa

Hana Susanti • Minggu, 26 November 2023 | 17:50 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Cerpen Eko Setyawan

 

LANGIT kota Solo makin pekat. Tapi pendar cahaya bulan menyamarkan kegelapan. Kota meremang dan kegelisahan semakin menjadi-jadi. Malam itu, seseorang berjalan membelah sunyi, meski sesekali terdengar deru suara knalpot.

Lelaki itu baru saja keluar dari hotel yang ia tinggali. Kamar hotel atau beberapa orang menyebutnya sebagai kamar apartemen itu adalah tempat tinggal yang ia dapat selama bekerja di kota ini. Letaknya tepat berada di tengah kota dan terintegrasi dengan mal.

Langkahnya mantap, tapi dalam langkah itu tampak kehati-hatian. Kegelisahan tampak dari raut wajahnya yang terus saja menunduk memandangi jalan. Entah sedang menghitung batu yang berserak atau paling buruk, di kepalanya ada pikiran-pikiran berlarian menjadi lalu lalang yang memusingkan. Sesekali ia menatap lurus, lalu kembali merunduk.

Tujuannya adalah angkringan di pertigaan jalan yang jaraknya tak seberapa jauh dari hotel. Kurang lebih berjarak satu tendangan trambul kiper ketika mengumpan. Ia menyusuri jalan dan ketika hampir sampai tujuan, mata memandang lurus. Dari kejauhan terlihat bayangan lelaki yang berjalan menuju tempat yang sama.

 

 

Ia berdiri sejenak, melihat dengan saksama lelaki yang berjalan ke arahnya. Ia menatap lekat. Lantas mengalun senyum di bibir.

“Kukira kau sudah tiba lebih dulu,” sapanya agak keras.

“Baru saja keluar dari mes, Coach,” balasnya. Lelaki itu melangkah lebih cepat, setengah berlari.

Keduanya mengayunkan tangan. Bersalaman. Lantas menuju tempat duduk. Lelaki yang baru datang itu lantas memesan minum ke penjual angkringan. Seperti biasa, dua, katanya. Penjual itu sudah paham benar apa yang dimaksud. Hal itu dikarenakan lelaki yang sebelumnya berkepala agak botak di bagian depan dan mengucir rambut belakangnya itu sering kali datang. Tapi kedatangannya kali ini dengan tampilan lain, yakni rambut yang dikucir telah dipotong dan disisir ke arah depan sehingga botak di kepalanya agak tertutup.

Angkringan itu sendiri letaknya di pertigaan jalan bersebelahan dengan pos ronda. Hotel tempat tinggal lelaki yang dipanggil Coach terletak di sebelah utara. Sementara mes yang dimaksud lelaki berkepala botak yang sudah berganti gaya terletak di sebelah selatan yang berjarak setengah lapangan sepak bola saja.

Biasanya angkringan dan jalan di depannya ramai. Tapi, entah mengapa malam ini begitu sunyi. Di sana, acap kali orang-orang membincangkan tentang sepak bola. Di mana sepak bola telah menjadi salah satu denyut nadi di kota Solo.

 

 

Berbeda dengan malam-malam yang lain, kesunyian telah merebak ke segala penjuru. Kekalahan tim kota ini menjadi penyebabnya. Salah satu dampak yang terasa yakni di angkringan itu hanya ada dua pembeli yang baru datang.

“Bagaimana menurutmu?” tanya lelaki yang disapa Coach.

“Menyedihkan, Coach. Segalanya menjadi buruk,” jawab lelaki botak yang telah berganti gaya rambut dengan lesu.

“Bagaimana kondisi di mes?” tanya Coach lagi.

“Sangat sunyi. Sangat menyedihkan,” kata lelaki botak dengan siku tersandar di gerobak angkringan sembari memegangi jidatnya dengan tangan.

“Mereka belum terbiasa. Apa yang terjadi adalah hal yang wajar. Kemenangan dan kekalahan itu pasti. Hanya saja kita tak tahu kapan waktunya.”

“Kamu benar, Coach. Aku sudah kenyang dengan hal itu. Tapi teman-teman kurasa belum bisa menerima. Apalagi semua diperparah karena mereka membaca komentar media sosial tim kita.”

Obrolan mereka terpotong ketika penjual angkringan menyodorkan minum. Segelas es teh dengan jeruk nipis yang mengambang. Lantas penjual itu undur diri dan menyimak pembicaraan pembelinya. Itu sudah wajar dilakukan dan selalu ia menimpali percakapan pelanggannya.

“Tapi permainan tadi memang buruk, Mas, Coach,” penjual itu langsung menyambar percakapan yang terpotong tadi.

 

Baca Juga: Warung Kopi

 

“Maksudnya, Mas?” tanya lelaki yang telah berganti gaya rambut.

“Aku juga menyaksikan pertandingan tadi, Mas. Cintaku pada tim ini juga tak kalah dengan cinta orang-orang. Aku merasa pertandingan tadi begitu monoton. Apalagi yang dimainkan itu-itu saja,” kata penjual angkringan dengan raut wajah yang tak bisa ditafsir.

Coach menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Suasana rikuh. Hening sesaat.

“Menurutmu bagaimana, Mas?” tanya Coach pada penjual angkringan. Ia melihat dengan saksama penjual angkringan itu.

“Begini, Coach. Jujur saya sangat hormat pada panjenengan, tapi kadang menjadi manusia kita harus jujur. Meskipun dalam prinsip orang Jawa mengedepankan ewuh-pekewuh, tapi kadang kita harus blaka terbuka pada keadaan.” Penjual angkringan itu menatap Coach lantas melirik lelaki botak seperti meminta persetujuan.

Lelaki berambut botak mengangguk. Secara tidak langsung mengatak setuju dan menyilakan.

“Begini, Coach. Pertandingan hari ini dan beberapa pertandingan sebelum ini sangat monoton. Bahkan sejak awal liga berjalan masih saja monoton. Hampir tidak ada perkembangan signifikan. Dengan hasil kekalahan ini, kita semua tahu, Coach, Mas, bahwa tim ini perlu perbaikan.” Penjual angkringan itu meraih gelas, menyeruput teh dari gelasnya. Lantas melanjutkan apa yang menjadi kegelisahannya. “Skema tim ini begini-begini saja. Starter tim line up ya itu-itu saja orangnya. Saya rasa tim ini rotasi, Coach.”

 

 

Suasana kembali hening. Lelaki botak masih saja memegangi jidatnya. Coach juga melakukan hal yang sama. Seperti meniru tingkah pemainnya itu.

“Aku sebenarnya menyadari itu. Tapi orang-orang yang mencintai tim ini seharusnya memahami bahwa tim ini adalah tim yang baru saja naik level. Jadi semuanya butuh proses,” kata Coach dengan penuh kegamangan.

“Betul, Coach. Aku juga merasakan itu. Tapi kadang rasa cinta memang perlu penjelasan yang kuat. Cinta perlu dipahami mengapa dan bagaimana. Mereka butuh jawaban, Coach,” lelaki berkepala botak menimpali. Diikuti dengan suara sedotan yang berbunyi di dasar gelas karena isinya tandas.

“Aku tahu itu. Apa yang kulakukan sebenarnya sudah maksimal. Namun kadang apa yang kita harapkan belum bisa sesuai harapan. Semua bisa berubah seketika dan tidak sesuai keinginan kita.”

Hening sesaat. Mereka melihat gelas masing-masing untuk membunuh sunyi.

“Mengapa tidak mencoba memainkan pemain muda, Coach. Saat ini kita perlu percaya pada orang-orang muda. Kita punya banyak pemain muda yang lebih tangkas dan lebih baik saat ini. Barangkali itu bisa menjadi opsi ke depan. Ingat, Coach, ini tentang harga diri. Ini tentang tim kebanggaan ini. Semua tentang klub kebanggaan dan bersejarah ini,” kata penjual angkringan dengan menggebu. “Ingat, Coach, tim ini usianya sudah matang dan sudah selayaknya dapat dibanggakan dan lebih digdaya,” tambahnya.

 

 

“Aku memahami itu. Dunia boleh berjalan cepat, tapi Solo tak pernah terburu-buru. Sepakbola adalah cerminan kehidupan masyarakat kota di mana tim itu berada. Di Solo, orang-orang hidup dengan keberanian dan menjadi petarung. Jadi aku ingin menjadikan tim ini menjadi tim petarung dan penuh kegairahan untuk menang dan bertarung sampai akhir. Tapi ingat, kadang dalam sepak bola ada yang perlu dimaklumi. Dalam sepak bola ada menang dan kalah, hanya saja kita tak tahu kapan waktunya. Kita hanya berusaha untuk itu.

“Kali ini saya sepakat, Coach. Semua butuh waktu dan tak perlu terburu-buru. Seperti kota ini. Waktu masih panjang. Mungkin kita belajar dari Pangeran Sambernyawa. Coach bisa menerapkan prinsip dan menanamkan semangat itu di tim ini. Rumangså mèlu andarbèni, wajib mèlu hangkrukebi, serta mulat sarirå angråså wani. Tanamkan itu dalam hatimu, Coach. Pada semua para pemainmu. Jangan meragukan cinta kami pada tim ini. Cinta kami juga tak pernah memiliki alasan. Sebab cinta tak pernah bertanya mengapa.” Penjual Angkringan menjawab mantap.

“Kau betul, Mas. Kupikir kecintaan kita pada tim ini sama besarnya. Aku ingat novel seorang penulis penggemar AS Roma yang berjudul Cinta Bisa Menipis dan Rasa Sayang Bisa Habis yang diterbitkan oleh penerbit miliknya. Tapi kurasa itu kurang tepat, memang betul cinta bisa menipis, tapi kurasa rasa sayang kita pada tim ini tak bisa habis. (*)

Editor : Ronald Fernando
#cinta