Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tumpes Kelor

Jawanto Arifin • Minggu, 4 Juni 2023 - 19:15 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi
Oleh: Dody Widianto




SETIDAKNYA, tujuh orang dalam satu trah keluarga di kampung kami pernah mati secara beruntun hanya dalam jeda hitungan hari. Mereka bertujuh masih dalam satu keterikatan tali darah walau beda keluarga.

Tragedi itu masih menyisakan tanya hingga sekarang. Apa dan kenapa, kami tak pernah tahu. Yang kami tahu, kejadian mengerikan itu terjadi sehari setelah kepala desa yang baru dilantik Bupati.

Seminggu lagi, pemilihan kepala desa baru akan digelar setelah enam tahun jabatan selesai. Lalu, ketika dua orang tamu yang kukenal sudah ada di depanku saat membukakan pintu, ibu segera menyuruhku ke belakang dengan sopan. Walau dalam hati, rasa penasaran membuatku seperti tak ingin bergeser dari duduk.

Ibu menggeleng. Aku beranjak, pura-pura pergi dan sengaja menguping di pintu samping kamar. Lalu kudengar mereka menyebut nama Mbah Pawiro, ayah dari bapak yang tiduran di atas lincak bambu di bawah rindang pohon waru belakang rumah, sedang menunggu azan zuhur.

“Kang Dar dan Pak Lik pulang saja. Bapak sudah sepuh. Tak seharusnya ia diikutkan untuk urusan begini. Memang ia masih punya hak suara di kampung ini. Namun, seharusnya kita tahu jika menjadi pemimpin itu seharusnya atas keinginan warga, keinginan masyarakat. Bukan keinginan pribadi, lalu mengemis agar memilih beliau. Dari bapak mertua, saya belajar banyak hal. Ada hal di dunia ini yang tidak selalu bisa dibeli dengan uang.”

“Nanti selesai magrib saya ke sini lagi Sih. Barangkali kamu sama suami berubah pikiran. Kalian dapat nominal paling beda lho daripada yang lain.”

Pak Lik Dar dan Mbah Wongso akhirnya gegas pulang setelah sebelumnya berpamitan pada ibu. Aku masih belum begitu paham apa yang mereka bicarakan. Kukira mereka akan membayar jasa membajak sawah mereka yang dikerjakan bapak. Tebakanku salah. Ibu melepas mereka di depan pintu dengan raut aneh, lalu berjalan ke belakang dan menemui Mbah Pawiro. Merapikan cangkir bekas kopi di atas lincak bambu dengan cairan kental hitam yang mengendap di bawah.

“Si Dar sama Wongso mau apa Sih?” Mbah Pawiro sudah terduduk. Tatap mata ibu tajam melesat ke wajah kakek yang menghadap hampa ke depan.



Ora ono opo-opo Pak. Tidak ada apa-apa. Biasa kalau musim begini.” Ibu membalas pertanyaan Mbah-ku dengan santai.

“Sudah biasa dari dulu Nduk.”

Sejak lahir, atas nama takdir, dua mata kakek tidak berfungsi sama sekali. Barangkali kakek tahu dari nada dan intonasi suara dua tamu tadi. Sebetulnya jarak ruang tamu dan teras belakang rumah dekat pohon waru agak jauh. Entah dari mana kakek tahu.

Kata orang, mata batin lebih tajam dari mata biasa. Itu terbukti saat ibu belum memasak dan harus berangkat ke sawah pagi-pagi, aku belum sempat sarapan, bapak sudah di sawah. Anehnya, ketika aku pulang, bapak dan ibu belum di rumah, sudah terhidang masakan untukku di meja. Siapa lagi kalau bukan kakek pelakunya. Mbah Pawiro.

 

***

Tujuh hari sejak kedatangan dua tamu itu, ada hajatan besar di desa kami. Di Balai Desa di seberang barat jalan utama yang membelah desa. Sebagai anak lelaki satu-satunya, ini kali kedua aku merasakan ada hajatan besar di kampung kami.

Namun, bukan acara itu yang membuatku ingin datang ke halaman Balai Desa bersama teman-teman. Satu alasan yang membuatku ingin ke sana hanya karena ramainya orang dagang makanan dan mainan.

Ada penjual gulali dan gula-gula kapas harum manis. Penjual cilok dan bakso tusuk. Pedagang balon dan pedang-pedangan yang bisa memancarkan sinar. Dan banyak lagi penjual mainan yang kadang membuatku merasa uang jajan pemberian bapak di hari itu sangatlah sedikit.

“Kamu tidak masuk sekolah?”

Bapak tahu ini adalah tahun terakhir aku duduk di bangku SD. Beberapa bulan lagi ujian akhir. Agak aneh jika tiba-tiba aku seolah malas berangkat ke sekolah.

“Hari ini libur. Kan ada pilihan Lurah. Kata Bu Guru begitu.”



Wajah bapak menanggapi aneh. Raut mukanya mendadak berubah. “Aneh. Zaman dulu perasaan tetap masuk biarpun ada hajatan apa pun.”

Aku tak menanggapi pertanyaan bapak. Hanya memberi isyarat sebuah tengadah telapak tangan kanan sambil tersenyum merayu. Bapak menggeleng, tersenyum, memberikan selembar uang warna ungu dari kantong celana tiga perempat yang di bawahnya masih sedikit belepotan lumpur. Senyum semringah kuberikan untuk bapak setelahnya. Bapak lebih cepat pulang dari biasanya. Bilang juga akan ke Balai Desa.

Namun, ketika angin senja yang teduh turun perlahan menapaki setiap jengkal halaman Balai Desa, suasana kampung kami malah mendadak panas. Di tengah-tengah teriakan dan umpatan beberapa orang, bapak terus berjalan di tengah kerumunan, menoleh ke kanan kiri mencariku.

Ia berlari ketika menemukanku duduk di pinggir pematang sawah bersama teman-teman. Belakang Balai Desa. Seolah abai dan tak tertarik dengan suasana panas di halaman pendopo Balai Desa. Meminum es cendol dengan sedotan sambil berusaha mencari ikan dalam kubangan air.

“Pulang sekarang Le.”

Bapak gegas menarik lenganku dan memintaku untuk segera pulang. Biasanya ia akan marah jika sampai sore hari, aku belum pulang, belum mandi dan terus bermain.

Aku menatap raut wajah bapak berbeda. Seolah memendam ketakutan. Tak ada omelan, tak ada raut murka. Bapak terus menarik lengan, menyeret langkah, menyusur jalan pulang ke rumah.

Sampai di halaman belakang dengan sedikit menyisakan tanah becek akibat ganasnya gempuran air hujan, perlahan bapak menggeser pintu rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Menuntunku ke kamar mandi. Menyuruhku mandi dan istirahat saja di rumah.

Bapak malah menyusuri segala penjuru dan sudut rumah. Menanyakan keberadaan Mbah Pawiro kepada ibu. Ibu menggeleng ragu. Setengah dipaksa, aku melihat dari balik pintu jeding, kedua pundak ibu digoyang-goyangkan bapak. Seolah memohon.



Ibu menunjuk ke belakang. Menunjuk jalan setapak. Jalanan kecil berliku menuju pinggiran aliran sungai yang menuju pantai paling wingit di selatan desa kami. Pantai Gondomayit.

Bapak gegas berlari keluar. Ibu diam saja di pintu belakang. Aku masih mengintip di sela pintu, mematung telanjang dengan pakaian penuh noda lumpur yang berpelukan di lantai kamar mandi. Entah bapak mau ke mana aku tak tahu. Namun, gerakan kakinya seolah dalam langkah terburu.

Sopo sing kepati, bakal mati. Sopo sing curang, bakal musno.”*

Rapal mantra itu terdengar berulang-ulang belasan kali diselingi gemercik air di pinggir sungai. Tanpa siapa pun ada yang tahu. Tangan keriput itu gegas mengikat tujuh batang lidi yang terbungkus kafan di atas leyeh berisi air bunga setaman dengan kulit kayu pohon kelor. Dengung mantra Tumpes Kelor kembali ia dengungkan saat kakinya telah bersila di atas lembaran daun waru di tepi sungai.

Masih dalam ingatannya ketika pagi hari ia dituntun oleh seseorang ke bilik suara, lalu mengarahkan untuk mencoblos pada gambar yang tak pernah ia suka. Mereka mengira orang picek, buta, bisa diakali demi selisih angka. Bagaimana mungkin akan bisa mengemban tanggung jawab jika diawal saja sudah merencanakan kecurangan?

Enam tahun lalu, ada tujuh nama yang mati dengan mengenaskan secara beruntun di desa ini. Hanya berjeda seminggu. Tujuh nama yang masih terikat dalam satu keluarga Lurah yang menang. Dengan perut menggembung, muntah darah, sakit tanpa sebab hingga kurus kering.

Nama-nama itu pernah menemani masa kecil bapak. Salah satu nama yang pernah mengisi hatinya yang kosong sebelum bertemu istrinya yang sekarang, Asih.

“Pak, aku mohon hentikan!”

Dalam engah napas, Bapak terus memohon ketika telah menemukan Mbah Pawiro di bawah pohon waru besar tepi sungai. Dan di antara sinar akhir hari yang redup yang perlahan turun menyelinap di antara tebing sungai dan dedaunan ilalang, ada yang menetes di sudut mata bapak. Dar masih terikat tali darah dengan Asih, istrinya. Sayang, rapal mantra itu tak pernah bisa dihentikan. (*)

 

*) Dody Widianto lahir di Surabaya. Karyanya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional

*) Siapa yang terikat, bakal mati. Siapa yang curang, akan musnah. Editor : Jawanto Arifin
#cerpen radar bromo