Para nomine diputuskan setelah digelar penilaian paparan dan inovasi proposal yang dilakukan selama tiga hari, Senin-Rabu (22-24/5). Kegiatan ini dilakukan di ruang rapat Sekretariat Bapelitbangda Kabupaten Probolinggo.
Selanjutnya, tim juri yang terdiri atas lima orang akan melakukan kunjungan lapang atau fact finding selama tiga hari. Semua nomine akan dikunjungi tim juri untuk mengetahui fakta riil di lapangan. Baru kemudian ditentukan pemenangnya.
Dr. Muhammad Hifdil Islam, M.Pd., salah satu juri dalam lomba yang digelar atas kerja sama Bappelitbangda Kabupaten Probolinggo dengan Jawa Pos Radar Bromo ini menilai, inovasi tahun ini relatif ada perkembangan dibanding tahun sebelumnya. Terutama di Bidang Pendidikan dan Sains.
“Saya melihat inovasi tahun ini lebih berkembang dibandingkan tahun lalu. Terutama di Bidang Pendidikan dan Sains. Memang seharusnya begitu. Harus ada perkembangan dari tahun ke tahun,” tuturnya, yang dibenarkan juri yang lain, Sugino, Ph.D.
Yang masih kurang adalah inovasi di Bidang Teknologi dan AI (artificial intelligence). Sedikit sekali peserta di bidang ini yang ikut serta. Bahkan, karena jumlahnya sedikit atau tidak memenuhi kuota, bidang ini akhirnya tidak dilombakan.
“Ini menunjukkan bahwa bidang teknologi dan AI memang masih awam bagi kebanyakan orang. Karena itu, kita (Kabupaten Probolinggo, Red) harus mengejar banyak hal yang sudah berkembang di luar sana,” tuturnya.
Juri yang lain, Prof. Dr. Ir. H. R. Abdul Haris, M.M. menambahkan, tahun ini 15 nomine Lomba Inoda yang ditetapkan tim juri sudah cukup baik dan membanggakan. Selanjutnya, semua nomine harus dikunjungi sebagai bagian dari proses penilaian sebelum menentukan pemenang.
“Saya berharap semua yang menjadi nomine bisa menyiapkan dan memperlihatkan semua proses di lapangan. Mulai siswa, guru, dan instansi,” tuturnya. (hn) Editor : Ronald Fernando