BANGIL, Radar Bromo – Pemkab Pasuruan menggenjot pembangunan irigasi perpompaan, untuk menjaga produksi padi. Tahun ini, sebanyak 23 titik irigasi perpompaan dibangun di enam kecamatan.
Jumlah tersebut melonjak lebih dari tiga kali lipat, dibanding tahun lalu yang hanya tujuh titik. DPRD mengingatkan, pembangunan infrastruktur harus diikuti penguatan peran ulu-ulu, agar distribusi air di tingkat petani berjalan efektif.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan Ainur Alfiyah mengatakan, tambahan alokasi tersebut merupakan dampak perubahan kebijakan pemerintah pusat, yang membuka peluang lebih besar bagi daerah memperoleh bantuan irigasi perpompaan.
"Tahun sebelumnya, pembangunan irigasi perpompaan hanya tujuh titik. Tahun ini meningkat signifikan, menjadi 23 titik. Perubahan aturan dari pusat turut memengaruhi, sehingga alokasi bantuan menjadi lebih banyak," ujarnya.
Puluhan titik irigasi itu, akan tersebar di enam kecamatan yang menjadi sentra produksi padi. Program tersebut diharapkan mampu memperkuat pasokan air, terutama saat musim kemarau. Sehingga, produktivitas pertanian tetap terjaga.
Menurut Ainur, irigasi perpompaan menjadi salah satu solusi, untuk mengatasi keterbatasan air di lahan pertanian, yang tidak terjangkau jaringan irigasi gravitasi. Keberadaan pompa, akan membantu petani mempertahankan intensitas tanam dan mengurangi risiko gagal panen.
Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan Sugiarto mengapresiasi meningkatnya perhatian pemerintah, terhadap pembangunan infrastruktur pertanian. Namun, ia mengingatkan keberhasilan program, tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik.
Menurut politisi Partai Golkar itu, keberadaan ulu-ulu atau petugas pengatur pembagian air di tingkat desa, tetap menjadi kunci agar distribusi air berlangsung adil dan tidak memicu konflik antarkelompok tani.
"Peran ulu-ulu juga harus diperkuat, karena mereka yang mengatur pembagian air di lapangan. Kalau tata kelola airnya baik, manfaat irigasi akan benar-benar dirasakan petani," tegasnya.
Sugiarto menilai, penguatan kapasitas ulu-ulu perlu dibarengi dengan koordinasi yang lebih intensif, antara pemerintah desa, kelompok tani, dan instansi teknis. Dengan demikian, infrastruktur yang dibangun tidak hanya berfungsi, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.
"Air adalah urat nadi pertanian. Infrastruktur penting, tetapi manajemen pembagian air juga tidak boleh diabaikan," paparnya. (tom/one)
Editor : Muhammad Fahmi