Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ketimpangan Gender di Kabupaten Pasuruan Makin Menyempit

Muhamad Busthomi • Sabtu, 20 Juni 2026 | 21:41 WIB
Ilustrasi (gemini ai)
Ilustrasi (gemini ai)

BANGIL, Radar Bromo - Indeks Ketimpangan Gender Kabupaten Pasuruan terus membaik. Tahun 2025, angkanya turun menjadi 0,283. Turun 0,063 poin dibanding 2024 yang sebesar 0,346.

Lebih penting lagi, angka itu berada di bawah IKG Jawa Timur yang sebesar 0,329. Artinya, kesetaraan gender di Kabupaten Pasuruan lebih baik dari rata-rata provinsi.

Kepala BPS Kabupaten Pasuruan, Bagas Susilo, mengatakan penurunan IKG ini, bukan kebetulan. Ada perbaikan nyata di lapangan yang mendorongnya.

"Penurunan IKG didorong oleh dua hal utama. Semakin banyak perempuan yang melahirkan di fasilitas kesehatan, dan meningkatnya keterwakilan perempuan di legislatif," ujarnya.

Datanya bicara. Proporsi perempuan yang melahirkan di luar fasilitas kesehatan yang diukur lewat indikator MTF, turun drastis dari 0,204 pada 2023 menjadi hanya 0,009 pada 2025.

Penurunan tajam ini, menunjukkan akses layanan kesehatan reproduksi semakin terjangkau.

Di sisi legislatif, keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Pasuruan, naik dari 12 persen pada 2021, menjadi 18 persen pada 2025.

Namun, ada satu catatan yang perlu diperhatikan. Proporsi perempuan yang melahirkan anak pertama di usia di bawah 20 tahun, justru naik tipis. Dari 0,277 pada 2024, menjadi 0,319 pada 2025.

Angka ini menandakan, pernikahan dini masih menjadi pekerjaan rumah. "Peningkatan indikator ini, perlu mendapat perhatian lebih. Pernikahan dini berdampak langsung pada kesehatan reproduksi dan peluang perempuan, untuk melanjutkan pendidikan maupun berkarir," kata Bagas.

Di pasar tenaga kerja, tren juga menggembirakan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan, naik dari 56,77 persen pada 2023 menjadi 63,05 persen pada 2025.

Gap antara TPAK laki-laki dan perempuan menyempit, dari 29,13 persen poin pada 2023 menjadi 23,50 persen poin pada 2025.

Pengangguran perempuan pun turun. Dari 5,06 persen pada 2024 menjadi 4,59 persen pada 2025.

Untuk konteks provinsi, IKG tertinggi di Jawa Timur tahun 2025, dipegang Kabupaten Bangkalan dengan 0,623. Sementara terendah adalah Kota Madiun dengan 0,092. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#gender #bps #kabupaten pasuruan