BANGIL, Radar Bromo - Rencana alih fungsi lahan seluas 22,5 hektare di kawasan hutan produksi Prigen oleh PT Stasionkota Sarana Permai kini berbuntut panjang.
Bukannya mendatangkan karpet merah, proyek hunian di wilayah resapan air itu justru memicu gelombang penolakan masif dari warga setempat yang khawatir akan ancaman bencana ekologis.
Merespons tensi yang kian memanas, Bupati Pasuruan M Rusdi Sutejo mewanti-wanti agar setiap investasi yang masuk ke Kabupaten Pasuruan, tidak membawa kegaduhan yang merusak kondusivitas wilayah.
“Intinya, kami di Pemerintah Kabupaten Pasuruan tidak ingin ada ketidakkondusivitasan di daerah. Jangan sampai investasi malah merusak suasana kondusif,” tegas Mas Rusdi-sapaannya.
Hingga detik ini, orang nomor satu di Kabupaten Pasuruan itu mengaku, pihak pengembang belum menyetorkan selembar pun dokumen perizinan resmi ke meja pemkab.
Minimnya koordinasi formal inilah, yang dinilai menjadi sumbu ledak perbedaan persepsi di lapangan.
Sosialisasi sepihak yang dilakukan pengembang di tingkat bawah, justru dianggap warga sebagai ancaman bagi keselamatan permukiman di bawahnya.
Terkait sengketa yang terjadi, Mas Rusdi mendorong pengembang untuk memiliki itikad baik dengan menemui warga secara langsung guna menjalin dialog terbuka.
“Kalau kami (pemkab, red) tidak ada urusan dengan Stasionkota. Mereka pun tidak pernah mengajukan perizinan langsung ke kami. Kalau ada gelombang protes, ya silakan pihak swasta itu ketemu dengan warga. Dibicarakan baik-baik,” imbuhnya.
Mas Rusdi menegaskan bahwa prinsip investasi di Kabupaten Pasuruan harus membawa keteduhan dan manfaat, bukan justru menyisakan bara konflik di tengah masyarakat.
Bagi pemkab, stabilitas wilayah adalah harga mati. Investasi boleh saja masuk, namun urusan sosial dan dampak lingkungan tidak boleh dikesampingkan demi mengejar angka pertumbuhan ekonomi semata.
“Intinya, kami di Pemerintah Kabupaten Pasuruan tidak ingin ada ketidakkondusifitasan di daerah. Jangan sampai investasi malah merusak suasana kondusif di Kabupaten Pasuruan,” jelasnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin