BANGIL, Radar Bromo—Seratus tahun perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) dirayakan dengan penuh filosofi di "Kota Santri" Bangil, Kabupaten Pasuruan.
Sabtu (31/1), Kantor PCNU Bangil di Jalan Raya Bangil-Pandaan berubah menjadi lautan syukur saat 100 tumpeng berjajar rapi. Menyambut gerbang pengabdian abad kedua organisasi berlambang jagat tersebut.
Deretan gunungan nasi kuning itu bukan sekadar pelengkap seremonial. Angka 100 merupakan simbolisasi genapnya satu abad perjalanan masehi NU sejak didirikan pada 1926.
Suasana sakral istigasah pun mencair menjadi kebersamaan saat para kiai sepuh, pengurus, hingga warga nahdliyin duduk melingkar, mengepung tumpeng untuk dinikmati bersama.
"Seratus tumpeng ini penanda 100 tahun lahirnya NU. Kami makan bersama sebagai wujud syukur sekaligus berburu berkah untuk memasuki abad kedua," ujar Ketua PCNU Bangil, Eddy Supriyanto.
Peringatan bertajuk “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia” ini menjadi gong dari rangkaian harlah yang panjang.
Sebelumnya, PCNU Bangil telah memanaskan mesin organisasi lewat ziarah muassis hingga bakti sosial pengobatan gratis.
Namun, Eddy mengingatkan bahwa tumpeng ini juga menjadi pengingat beban sejarah. Memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi bakal jauh lebih kompleks.
Warisan para pendiri (muassis) tidak boleh berhenti di atas kertas, tapi harus mewujud dalam kesejahteraan jamaah.
"Cita-cita pendiri seperti dakwah, penguatan pendidikan, serta kemandirian ekonomi harus benar-benar terlaksana di akar rumput. Warga NU harus sejahtera dan mampu berkolaborasi dengan semua elemen," tegasnya. (tom/mie)
Editor : Muhammad Fahmi