BANGIL, Radar Bromo — Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga akhir Januari 2026.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipatif menyusul peringatan potensi cuaca ekstrem yang disampaikan BMKG Juanda untuk awal tahun 2026.
Perpanjangan OMC diputuskan setelah melihat prakiraan cuaca yang menunjukkan potensi hujan lebat masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Pemerintah daerah menilai intervensi cuaca masih diperlukan guna menekan dampak bencana hidrometeorologi, khususnya banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, program modifikasi cuaca telah dilaksanakan sejak 5 Desember 2025.
Upaya tersebut merupakan bagian dari pelayanan pemerintah kepada masyarakat agar risiko banjir dan genangan akibat curah hujan tinggi bisa diminimalkan.
“Kalau tidak dilakukan modifikasi cuaca, potensi hujan bisa jauh lebih lebat dan banjir bisa terjadi hampir setiap hari. Ini bagian dari ikhtiar kita agar dampak hujan ekstrem bisa agak berkurang,” ujar Khofifah dalam kunjungannya di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Rabu (21/1).
Berdasarkan data BMKG, intensitas hujan pada Desember diperkirakan mencapai 20 persen. Namun, pada Januari angkanya melonjak hingga 58 persen atau hampir tiga kali lipat.
Sementara pada Februari, yang bertepatan dengan awal Ramadan, intensitas hujan diprediksi berada di kisaran 22 persen.
“Puncak kewaspadaan ada di Januari. Karena itu OMC kami perpanjang, agar beban hujan tidak turun di satu titik dan risikonya bisa ditekan,” imbuhnya.
Pelaksanaan OMC, lanjut Khofifah, dilakukan melalui koordinasi lintas instansi. Pemprov Jatim secara intens berdiskusi dengan BMKG, Basarnas, serta BPBD untuk memastikan langkah mitigasi berjalan optimal dan selaras dengan kondisi lapangan.
Meski demikian, Khofifah mengakui tidak semua fenomena alam bisa diantisipasi dengan teknologi.
Untuk bencana seperti puting beliung dan gempa bumi, hingga kini belum ada metode modifikasi yang dapat dilakukan.
“Untuk puting beliung dan gempa memang belum ada teknologi yang bisa mengatasi. Yang bisa kita lakukan adalah mitigasi dan kesiapsiagaan, sekaligus berdoa agar kita semua diselamatkan dari fenomena alam,” tuturnya. (tom/one)
Editor : Moch Vikry Romadhoni