BANGIL, Radar Bromo- Kabupaten Pasuruan masih masuk dalam peta daerah dengan tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi cukup tinggi di Jawa Timur. Sepanjang Januari-November 2025, kabupaten dengan 24 kecamatan ini telah dilanda 448 bencana.
Angin kencang menjadi bencana paling dominan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi mengatakan, selama 11 bulan terakhir, tercatat 161 kejadian angin kencang yang berdampak langsung pada permukiman warga.
Hampir seluruh wilayah di Kabupaten Pasuruan, dinilai memiliki potensi terdampak.
“Fenomena angin kencang tidak mengenal wilayah tertentu. Hampir semua kecamatan berpeluang terdampak, dengan kerusakan mulai dari pohon tumbang hingga bangunan warga yang mengalami kerusakan beragam tingkatannya,” ujarnya.
Selain angin kencang, BPBD juga mencatat 112 kejadian banjir genangan serta 101 peristiwa tanah longsor.
Jenis bencana lain yang turut terjadi, meliputi 54 kejadian pohon tumbang, delapan kasus kebakaran hutan dan lahan, serta kekeringan yang melanda 12 desa.
Untuk banjir, sedikitnya 10 kecamatan masuk kategori rawan. Di antaranya, Kecamatan Gempol, Beji, Bangil, Kraton, Pohjentrek, Gondangwetan, Winongan, Grati, Rejoso, dan Nguling.
Banjir umumnya dipicu luapan sungai, sistem drainase yang belum optimal, serta curah hujan lokal dengan intensitas tinggi.
“Karakter banjir di Pasuruan mayoritas berupa genangan yang cepat surut. Namun, di daerah dengan elevasi rendah, air bisa bertahan lebih lama dan berpotensi mengganggu aktivitas warga,” terangnya.
Sementara itu, potensi tanah longsor lebih banyak mengancam wilayah perbukitan dan pegunungan. Kecamatan Prigen, Purwosari, Purwodadi, Tutur, Tosari, Lumbang, dan Puspo, menjadi kawasan yang masuk prioritas pengawasan BPBD.
Untuk menekan risiko bencana, BPBD telah memasang sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di sejumlah sungai rawan banjir.
Rambu-rambu evakuasi juga dipasang di titik-titik rawan longsor. Selain itu, informasi kondisi di wilayah hulu terus dipantau dan disebarluaskan ke wilayah hilir sebagai langkah antisipasi dini.
“Pengurangan risiko bencana tidak cukup hanya mengandalkan sarana teknis. Membangun kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat melalui edukasi juga menjadi kunci utama,” jelas Sugeng. (tom/rud)
BENCANA DI KABUPATEN PASURUAN
161 angin kencang (berdampak terhadap permukiman)
112 banjir genangan
101 tanah longsor
54 pohon tumbang
12 desa kekeringan
8 kebakaran hutan dan lahan
Editor : Moch Vikry Romadhoni