BANGIL, Radar Bromo - Kondisi ketenagakerjaan Kabupaten Pasuruan pada Agustus 2025 menunjukkan perbaikan signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pasuruan mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,22 persen, menyusut 0,80 persen poin dibanding Agustus 2024.
Penduduk usia kerja di Kabupaten Pasuruan mencapai 1,31 juta orang, dengan 981,06 ribu orang masuk angkatan kerja. Dari jumlah tersebut, 939,65 ribu bekerja dan 41,41 ribu menganggur.
Sektor jasa masih menyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 39,22 persen, disusul pertanian 30,84 persen, serta manufaktur 29,94 persen.
Yang cukup mencolok, sektor pertanian mencatat kenaikan paling tinggi—naik 5,71 persen poin dibanding tahun sebelumnya. Sementara jasa dan manufaktur turun.
Struktur ketenagakerjaan didominasi pekerja informal. BPS mencatat 57,71 persen penduduk bekerja masuk sektor informal, sedangkan formal hanya 42,29 persen.
Pekerja berstatus buruh/karyawan/pegawai mendominasi dengan 38,74 persen, disusul pekerja berusaha sendiri.
Sebanyak 53,98 persen pekerja hanya tamat SD ke bawah. Namun tingkat pengangguran tertinggi justru berasal dari lulusan perguruan tinggi dengan TPT 8,37 persen, sementara pengangguran tamatan SD ke bawah hanya 2,59 persen.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun menjadi 74,72 persen, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
TPAK laki-laki mencapai 86,55 persen, jauh di atas perempuan yang hanya 63,05 persen.
Plt Kepala BPS Kabupaten Pasuruan, Yeni Setiowati, menegaskan bahwa kondisi ketenagakerjaan tahun ini harus menjadi perhatian pemangku kebijakan untuk memperkuat kualitas tenaga kerja.
“Penurunan TPT memang kabar baik, tetapi struktur tenaga kerja yang masih didominasi lulusan pendidikan rendah serta besarnya sektor informal menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas SDM secara lebih serius,” katanya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kompetensi, vokasi, serta perluasan sektor-sektor produktif harus menjadi prioritas.
“Data ini menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah dalam merancang program ketenagakerjaan ke depan, terutama agar lulusan berpendidikan tinggi tidak terus mendominasi angka pengangguran,” ujarnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin