BANGIL, Radar Bromo - Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Pasuruan memastikan kuota siswanya tetap terpenuhi setelah tiga siswa dinyatakan keluar dari asrama pada pertengahan semester ini.
Kekosongan itu langsung terisi, lantaran Dinas Sosial (Dinsos) sudah menyiapkan sistem cadangan siswa sejak awal.
Plt Kepala Dinsos Kabupaten Pasuruan, Fathurrahman, menjelaskan bahwa setiap siswa pengganti akan mengikuti kelas khusus untuk mengejar ketertinggalan pelajaran.
Langkah ini dinilai penting, agar mereka bisa menyesuaikan diri dengan ritme belajar yang sudah berjalan.
“Ada kelas khusus supaya anak-anak yang baru bisa menyesuaikan. Kalau SMP dan SMA cadangannya cukup banyak, tapi untuk SD memang terbatas,” jelasnya.
Fathurrahman menambahkan, keberadaan sistem cadangan memungkinkan setiap posisi siswa yang keluar langsung terisi tanpa mengganggu proses belajar.
“Makanya ketika ada tiga siswa keluar kemarin, langsung terisi. Jadi tidak ada kekosongan di kelas,” imbuhnya.
Sebelumnya, tiga siswa resmi keluar dari Sekolah Rakyat. Dua di antaranya pulang atas permintaan orang tua.
Sedangkan satu siswa dikeluarkan karena melakukan pelanggaran berat.
Kepala Sekolah Rakyat, Julianto, mengungkapkan pihaknya sebenarnya sudah berupaya agar dua siswa tersebut tidak ditarik pulang. Namun, keputusan orang tua bersifat final.
“Sudah kami ajak bicara baik-baik, tapi orang tua tetap tidak mengizinkan anaknya tinggal di SR. Akhirnya kami harus melepasnya,” ujarnya.
Sementara untuk satu siswa lain, keputusan dikeluarkan diambil setelah melalui pertimbangan panjang.
Ia terlibat dalam kasus bullying yang sempat memicu kegaduhan di lingkungan sekolah.
“Kami tidak bisa menoleransi tindakan bullying. Keputusan ini diambil demi menjaga ketertiban dan kenyamanan siswa lain,” tegas Julianto. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin