BANGIL, Radar Bromo – Hasil perjuangan kontingen Kabupaten Pasuruan di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025 sudah di tangan.
Raihan peringkat 8 dari 38 kabupaten/kota se-Jatim dengan total 227 poin, menjadi catatan tersendiri bagi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Pasuruan.
Tentu hal tersebut tidak memuaskan. Ketua KONI Kabupaten Pasuruan Mamat Aryo Setiawan mengakui, masih kalah jauh dengan beberapa daerah lainnya dalam hal jumlah kontingen dan cabang olahraga (cabor) yang diikuti.
Kota Surabaya misalnya, memimpin karena punya 1.537 kontingen. Sementara Pasuruan hanya mengirim 590 kontingen.
Dari segi cabor, Sidoarjo dan Kabupaten Malang mendominasi dengan 64 cabor. Sementara Pasuruan hanya mengikuti 40 cabor.
"Semakin banyak kontingan, sebenarnya semakin besar peluang memperoleh medali," katanya usai menyerahkan laporan kinerja ke Bupati Pasuruan, Rabu (23/7).
Namun, Mamat yakin ada secercah harapan. Dari segi efektivitas atlet dan pelatih, Kabupaten Pasuruan menunjukkan performa yang cukup baik.
Hanya membutuhkan 2,60 orang untuk mendapatkan 1 medali. Lebih efisien dibanding Kota Batu (2,87) meskipun masih kalah dari Kota Kediri yang hanya butuh 0,83 orang per medali.
Mamat mengakui ada beberapa catatan kritis dalam evaluasi internal KONI. "Kami tidak bisa terus-menerus bergantung pada salah satu cabor," cetus lelaki yang juga advokat tersebut.
Meskipun dia mengakui fakta bahwa cabor selam, yang biasanya jadi lumbung medali, mengalami penurunan poin signifikan.
Jika pada Porprov 2023 selam menyumbang 59 poin (12 emas, 2 perak, 7 perunggu) dan 2022 menyumbang 76 poin (14 emas, 8 perak, 4 perunggu), di Porprov kali ini cabor selam hanya mampu meraih 31 poin (6 emas, 3 perak, 1 perunggu).
Mamat juga menyoroti potensi cabor lain yang sama sekali belum maksimal.
"Kabupaten Pasuruan kehilangan potensi poin sangat besar dari Angkat Besi dan Atletik," ujarnya.
Bagaimana tidak? Cabor Angkat Besi tidak mengirimkan atlet sama sekali. Padahal ada potensi 588 poin yang bisa diperebutkan.
Demikian pula Atletik, hanya mengirim 6 atlet dan 2 pelatih, tapi tak ada satu pun medali yang didapat. Padahal ada peluang 308 poin.
"Ini menjadi pembelajaran penting bagi kami dari sisi pembinaan. Kedepan, cabor lain harus memberikan kontribusi yang signifikan guna menaikkan jumlah poin Kabupaten Pasuruan," tegas Mamat.
Salah satu kendala utama di cabor Atletik adalah minimnya fasilitas. Mereka tak punya lintasan lari, arena lempar, dan sebagainya.
"Sehingga sulit untuk mengharapkan prestasi tanpa adanya sarana untuk melakukan olahraga tersebut," terang Mamat.
Ia menambahkan, tingginya prestasi Kota Kediri, misalnya, yang menorehkan banyak medali dengan jumlah kontingen minim, karena memaksimalkan cabor yang punya banyak peluang medali seperti Angkat Besi dan Atletik.
"Kota Kediri bahkan tidak mendapat medali di cabor permainan seperti Sepakbola, Voli, Basket, dan Hockey," tukasnya. (tom/one)
Editor : Fahreza Nuraga