BANGIL, Radar Bromo - Kenaikan tarif retribusi yang ditetapkan Pemkab Pasuruan, tak mempengaruhi kunjungan wisata.
Terbukti, dengan geliatnya kunjungan wisata pemandian alam Banyubiru.
Bahkan saat momen libur Lebaran tahun ini, kunjungan wisata Pemandian Alam Banyubiru di Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, membludak.
Tingkat kunjungan wisata bahkan melampaui ekspektasi kenaikan sebesar 25 persen.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Agus Hari Wibawa, mengungkapkan total ada 9.150 wisatawan memadati Banyubiru selama periode tersebut.
Angka ini melonjak signifikan, mencapai 60 persen, dibandingkan dengan 5.725 pengunjung pada libur Lebaran tahun sebelumnya.
“Kami melihat antusiasme yang luar biasa dari pengunjung yang datang. Ribuan orang memadati Banyubiru dalam sehari,” ujar Agus.
Dominasi pengunjung, lanjut Agus, berasal dari wilayah Pasuruan sendiri.
Namun, tak sedikit pula kendaraan berpelat luar Pasuruan terlihat memadati area parkir.
Mereka rata-rata adalah keluarga atau warga Pasuruan yang bekerja di luar daerah dan memanfaatkan momen mudik untuk berlibur ke Banyubiru.
“Momen Lebaran memang menjadi daya tarik tersendiri. Banyak pemudik yang pulang kampung dan menyempatkan diri menikmati kesegaran Banyubiru,” jelasnya.
Agus menyebut lonjakan kunjungan hingga 60 persen merupakan tren positif.
Mengingat harga tiket masuk Banyubiru sempat dinaikkan dari Rp 10 ribu menjadi Rp 15 ribu selama tujuh hari libur Lebaran.
“Kenaikan harga tiket ternyata tidak menyurutkan antusiasme pengunjung,” katanya.
Menatap masa depan, Pemerintah Kabupaten Pasuruan berencana melakukan revitalisasi Banyubiru.
Informasi terbaru menyebutkan, kolam buatan yang pernah menjadi ikon Banyubiru akan kembali dibangun.
Namun, Agus menegaskan bahwa usulan anggaran pembangunan kolam buatan tersebut akan diajukan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) ke Kementerian Pariwisata RI.
“Pak Bupati akan menyampaikan usulan tersebut. Termasuk memfungsikan kembali area yang belum terisi dengan wahana dan pemandian buatan yang dulu pernah berstandar nasional,” sampainya.
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Misto Leo Faisal mengakui pesona Banyubiru memang diminati dengan kesegaran alamnya.
Namun bukan berarti pemerintah menjadikannya sebagai satu-satunya daya tarik.
“Pemandian Banyubiru memang daya tarik utama. Namun juga perlu diberikan fasilitas penunjang lainnya,” tandasnya.
Semakin baik dan beragam fasilitas yang ada, kata Misto, akan semakin mendorong masyarakat untuk datang.
Sehingga mereka juga tidak bosan dengan pengalaman rekreasi yang begitu-begitu saja.
“Harus ada fasilitas yang mampu menambah pengalaman berlibur lebih menyenangkan di sana,” desaknya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin