BANGIL, Radar Bromo - Persekabpas memang gagal promosi ke Liga 2 setelah di laga terakhir enam besar lalu, dikalahkan PSGC Ciamis.
Namun PSSI tak menyoal karena tembus ke enam besar saja sudah di luar ekspektasi.
Itulah yang diungkapkan Udik Djanuantoro, Ketua Askab PSSI Pasuruan saat pembubaran tim Persekabpas, Minggu.
Mengingat pembentukan dan keikutsertaan Persekabpas di Liga Nusantara musim 2024-2025, terbilang mepet.
Udik bilang, skuad Persekabpas sendiri baru terbentuk sebulan sebelum laga pertama babak penyisihan di Bali, dimulai.
Bahkan kesempatan untuk pemain di babak penyisihan, dilakukan dalam tempo hitungan hari.
"Saat laga akan dimulai, bahkan ada pemain yang baru bergabung di Bali. Ada tiga pemain yang ikut pelatihan di Bali. Seperti Patrich Wanggai, Hamzah dan Noman Parwa," beber Udik.
Jika ditarik ke belakang, PSSI juga tak punya banyak waktu untuk membentuk tim. Betapa tidak, PSSI baru menggelar kongres di akhir Oktober. Sementara babak penyisihan Liga Nusantara dimulai pertengahan Desember.
Saat membentuk tim dan ofisial, Askab PSSI juga hanya punya waktu sebentar. Saat itu PSSI membentuk tim 11 yang tujuannya menawarkan orang-orang untuk menjadi manajer.
Tetapi yang terjadi, kata Udik, tak ada orang yang mau menjadi manajer karena tanggung jawab yang besar. Singkatnya, Askab PSSI menunjuk Gaung Andaka.
"Tim 11 yang di dalamnya juga ada Mas Gaung, mencari sosok manajer. Mulai dari politisi hingga pengusaha. Tetapi tak ada yang mau," kata Udik.
Hingga setelah Gaung Andaka menjadi manajer, fokus Persekabpas adalah menyiapkan materi pemain.
Persekabpas akhirnya menekukan kerangka tim yang sebenarnya di awal, tidak diyakini bisa berkompetisi lantaran para pemain belum mengenal betul dengan sesama pemain.
Tidak sedikit biaya yang dikeluarkan manajemen Persekabpas selama mengarungi Liga Nusantara musim ini.
Ini terlihat sejak babak penyisihan digelar. Para pemain dan ofisial harus stay di Bali selama 1,5 bulan. Selama itupula ada biaya yang harus dikeluarkan manajemen.
Sebut saja seperti hotel maupun onsumsi untuk tim. Kabarnya, untuk menyewa hotel selama 1,5 bulan di Bali, manajemen harus mengeluarkan kocek lebih dari setengah miliar.
Belum lagi untuk konsumsi para pemain dan ofisial. Sehari harus ada tiga kali makan dan semuanya harus memenuhi gizi.
Begitu juga saat berlaga away di babak enam besar. Saat melawat ke Ciamis kandang PSGC, Persekabpas harus menginap semalam di hotel. Biaya menginap semalam saja sampai menyedot Rp 30 juta.
"Namun kami apresiasi kerja keras tim. Persekabpas yang awalnya dianggap remeh, justru tembus ke enam besar. Padahal bayangan PSSI waktu itu, ikut kompetisi saja sudah bagus," kata Udik.
Sehingga dengan gagalnya Persekabpas promosi ke Liga 2, PSSI tidak terlalu mempersoalkan.
Melihat persiapan yang singkat jika dibandingkan dengan lawan-lawan selama babak penyisihan.
"Ada Wanaal Brothers yang sudah setahun lebih mempersiapkan. Begitu juga dengan tim lain. Sungguh ini di luar ekspektasi," beber Udik.
Setelah Persekabpas dibubarkan, fokus PSSI adalah menatap ajang lainnya. Seperti menyiapkan Porprov Jatim 2025.
Bagaimana dengan pemain dan pelatih? Sebagian besar pemain mengaku akan kembali ke kampung halamannya.
Sebut saja seperti Patrich Wanggai yang mengaku sudah rindu dengan keluarganya.
“Untuk musim depan, mungkin saya akan mencoba menjadi pelatih sekaligus pemain di tim daerah saya sendiri,” beber Patrich.
Begitu juga dengan Massdra Nurriza, head coach Persekabpas. Kata Masdra, dia pasti akan melamar ke Persekabpas untuk musim depan.
Apalagi, dia juga sudah paham dengan Pasuruan karena pernah melatih Persekap Kota Pasuruan. Soal karirnya, dia jelas lebih terbuka.
”Karena pelatih yang profesional itu adalah pelatih yang tak menganggur,” beber Masdra. (zal/fun)
Editor : Fahreza Nuraga