Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dewan Dorong LED Perkopian di Kabupaten Pasuruan, Demi Pemenuhan Pasar Seiring Tingginya Harga Kopi Global

Muhamad Busthomi • Minggu, 13 Oktober 2024 | 22:05 WIB
PANEN: Seorang petani kopi di wilayah Kabupaten Pasuruan saat memanen biji kopi. Harga kopi dan permintaan kopi global, cenderung naik.
PANEN: Seorang petani kopi di wilayah Kabupaten Pasuruan saat memanen biji kopi. Harga kopi dan permintaan kopi global, cenderung naik.

BANGIL, Radar Bromo - Tren ngopi yang kian menggila, ternyata membawa dampak yang cukup signifikan bagi para petani kopi.

Harga biji kopi mentah yang terus meroket, membuat petani tersenyum pahit.

Seorang petani kopi asal Kecamatan Tutur, Ida Irawati mengungkapkan harga biji kopi saat ini sudah menyentuh angka di bawah Rp 100.000 per kilogram. “Harga naik, tapi petani malah susah,” keluhnya.

Menurut Ida, salah satu penyebab kenaikan harga kopi adalah minimnya lahan perkebunan kopi di Kabupaten Pasuruan.

Kendati sentra perkebunan kopi saat ini, sudah tersebar di delapan kecamatan. Selain Tutur, kebun kopi juga ada di Purwodadi, Puspo, Lumbang, Pasrepan, Purwosari, Prigen dan Tosari. “Sementara, permintaan pasar akan kopi semakin tinggi,” katanya.

Terutama dengan fenomena semakin menjamurnya kedai-kedai kopi di berbagai sudut kota.

Selain minimnya lahan, minimnya minat generasi muda untuk bertani kopi juga menjadi masalah tersendiri.

Anak-anak muda sekarang, lebih tertarik merantau ke kota atau bekerja formal. Ketimbang meneruskan usaha pertanian.

Tidak hanya faktor lokal, harga kopi global juga turut mempengaruhi harga kopi di Pasuruan.

Wakil Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto mengungkapkan bahwa kerusakan perkebunan kopi di Brazil, menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga kopi dunia.

Sebab, pasokan kopi dunia berkurang. Sehingga harga komoditas secara global otomatis naik.

Ia mengakui kenaikan harga kopi menjadi pisau bermata dua bagi petani kopi di Kabupaten Pasuruan.

Di satu sisi, mereka senang karena harga jual kopi semakin tinggi. Namun di sisi lain, mereka juga kesulitan memenuhi permintaan pasar akibat terbatasnya lahan dan tenaga kerja.

“Karena itu, pemerintah daerah perlu memaksimalkan program Local Economic Development (LED),” jelasnya.

Dengan begitu, ada kemitraan yang jelas antara pemerintah dengan swasta.

Bentuk dukungan terhadap petani kopi, juga tidak melulu soal penyediaan bibit unggul dan pelatihan. Melainkan juga sirkulasi penjualan dan akses ke pasar yang lebih luas. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#dprd kabupaten pasuruan #kabupaten pasuruan #kopi