BANGIL, Radar Bromo - Awal tahun 2024 ini menjadi masa yang penuh tantangan bagi para nelayan di Kabupaten Pasuruan.
Cuaca ekstrem yang kerap melanda di awal tahun, menyebabkan hasil tangkapan ikan mengalami penurunan tajam.
Hingga saat ini, baru 4.696 ton ikan yang berhasil ditangkap. Capaian itu didapat sepanjang Januari hingga Maret.
Angka tersebut masih jauh dari harapan. Terutama bila dibandingkan, dengan realisasi produksi yang dicapai tahun lalu, sebanyak 23.800 ton.
Bahkan, dibandingkan target tahunan, masih terhitung 19 persen. Alfi Khasanah, kepala Dinas Perikanan, mengungkapkan produksi ikan tangkap selama awal tahun, memang dipengaruhi faktor cuaca.
“Faktor cuaca itu, sangat mempengaruhi produktivitas nelayan,” kata Alfi.
Sejauh ini, di Kabupaten Pasuruan terdapat 8.543 nelayan yang aktif menangkap ikan. Jumlah nelayan terbanyak, berada di Kecamatan Kraton, Lekok, dan Nguling.
Potensi perikanan laut yang besar ada di 20 desa pesisir.
Selain itu, terdapat pula potensi perikanan di perairan darat yang terpusat di Ranu Grati.
“Di waktu-waktu tertentu, terkadang grafik realisasi produksi tidak sama. Karena tergantung pada produktivitas dan faktor yang melatarbelakangi,” imbuhnya.
Meski begitu, ia optimis target tahun ini, bisa tetap terpenuhi. Apalagi, pihaknya juga terus mengkampanyekan konsumsi ikan di tengah masyarakat.
Agar kebutuhan protein terpenuhi.
Di samping itu, juga penting untuk mengentaskan masalah stunting.
“Di sisi lain, kami juga mengimbau kepada masyarakat, untuk menjaga kelestarian laut dengan tidak membuang sampah ke laut. Dan bagi nelayan, juga terus dilakukan pembinaan. Supaya tetap menggunakan alat tangkap ramah lingkungan,” bebernya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin