Dari 24 kecamatan, ada delapan kecamatan yang dinilai punya risiko bencana mengkhawatirkan.
Di delapan kecamatan itu, bahkan dibentuk kampung siaga bencana.
Selain relawan, ada unsur masyarakat yang ikut dilatih. Agar sama-sama memahami mitigasi risiko bencana.
Sekaligus mengetahui apa yang mesti dilakukan ketika bencana melanda.
Kepala Dinas Sosial Suwito Adi menyebut, pembentukan delapan kampung siaga bencana itu, berdasarkan pemetaan risiko bencana.
Dan hasilnya, ada delapan kecamatan yang memang cukup rawan dan berpotensi terjadi bencana.
“Sejauh ini risiko itu ada di Kecamatan Grati, Rejoso, Winongan, Beji, Bangil, Gempol, Tosari dan Prigen,” kata dia.
Keberadaan kampung siaga bencana itu, juga memerlukan support logistik. Sehingga, mereka memiliki peralatan dan bekal yang cukup ketika bencana tiba.
Meski keberadaan bencana, tak diharapkan. Namun, sebagai langkah antisipatif, logistik itu diperlukan.
“Pendistribusian logistik sudah kami realisasikan ke delapan kampung siaga bencana. Mulai peralatan dapur, family kit, sandang dan bahan pangan serta peralatan kedaruratan bencana,” sampainya. (tom/one)
Editor : Abdul Wahid