BANGIL, Radar Bromo - Peluang pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Pasuruan, untuk bisa menembus pasar mancanegara semakin terbuka.
Pemerintah tengah membidik ratusan produk unggulan, yang mereka hasilkan untuk diekspor.
Hanya saja, ratusan produk itu harus bersaing. Dinas Perindustrian dan Perdagangan lebih dulu melakukan seleksi.
Kurasi produk itu sendiri, melibatkan Atase Perdagangan Malaysia, Export Center Surabaya dan juga dari ITPC di Pendopo Nyawiji Ngesti Wenganing Gusti, kemarin (21/5).
Kepala Disperindag Kabupaten Pasuruan Diana Lukita Rahayu mengatakan, sedikitnya ada 100 produk unggulan dari para pelaku usaha di wilayah Kabupaten Pasuruan, dengan klasifikasi industri kecil dan menengah.
Rinciannya 16 produk tekstil dan konfeksi, 60 produk makanan dan minuman (mamin), 5 produk furniture, 8 produk kerajinan, 9 produk batik, 1 produk bordir dan 1 produk alas kaki.
“Seluruh produk dinilai dari beberapa aspek penting. Di antaranya kualitas, legalitas, kapasitas dan kontinyuitas produksi pelaku IKM,” kata Diana.
Kurasi produk tersebut, digelar secara terbuka. Artinya, semua pelaku IKM punya kesempatan yang sama.
Hanya saja, yang akan berpeluang diekspor memang tidak semua.
Melainkan hanya produk yang benar-benar memenuhi syarat kurator. Dari 100 produk yang dikurasi, akan diambil sebanyak 25 produk yang akan dipilih.
“Nanti akan difasilitasi promosi produk, sekaligus diperkenalkan dalam even-even bertaraf internasional,” ujarnya.
Pj Bupati Pasuruan Andriyanto mengatakan, kurasi produk IKM itu, dengan sendirinya akan mendongkrak daya saing yang sehat.
Mengingat, sektor IKM selama ini, memang cukup bergairah. Sejauh ini, setidaknya ada sekitar 8.684 IKM yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Pasuruan.
Ribuan IKM tersebut paling banyak, tersebar di Kecamatan Bangil dengan jumlah 973 IKM. Kemudian Kecamatan Rembang, sebanyak 698 IKM.
Serta Kecamatan Gempol, sebanyak 646 IKM.
“Selama ini, pemerintah mendorong agar produk IKM naik kelas. Tetapi dari hasil kurasi produk ini, yang lolos bukan hanya naik satu kelas, melainkan bertingkat-tingkat. Karena akan diekspor ke luar negeri,” ungkapnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin