BANGIL, Radar Bromo- Aksi demonstrasi siswa SMAN 1 Bangil dan SMAN Taruna Madani yang dilakukan Senin (30/10) lalu membuat Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur turun tangan. Tak hanya mengecek ke sekolah. Dispendik juga berencana untuk membentuk tim investigasi.
Langkah itu diambil untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya di SMAN 1 Bangil dan Taruna Madani tersebut. Hal itu ditegaskan Kepala Dispendik Jawa Timur, Aris Agung Paewai saat kunjungannya ke SMAN 1 Bangil, Selasa (31/10).
Ia menegaskan, pihaknya sengaja datang ke SMAN 1 Bangil untuk mengecek persoalan yang terjadi sebenarnya. Hal itu berkaitan pula dengan aksi demonstrasi siswa, yang terjadi di hari sebelumnya (30/10).
"Ada beberapa hal yang perlu kami koordinasikan. Termasuk terkait kegiatan demonstrasi, yang perlu kami dapatkan klarifikasi langsung dari pihak sekolah. Informasi unjuk rasa kemarin (Senin, red) sudah didengar oleh ibu Gubernur Jawa Timur, sehingga perlu pula untuk mengetahuinya secara langsung," kata Aris saat kunjungannya ke SMAN 1 Bangil.
Aris menambahkan, sekolah merupakan sarana untuk belajar siswa. Sehingga, tujuan utama sekolah yakni tempat untuk siswa belajar, bisa terpenuhi. Jika ada polemik, diharapkannya bisa terselesaikan secara internal.
"Kalaupun ada masyarakat yang memberikan masukan, masukan itu bisa ditanggapi dengan baik. Sehingga tidak diselesaikan seperti kejadian kemarin," bebernya.
Menurut Aris, persoalan yang terjadi di SMAN 1 Bangil ataupun SMAN 1 Taruna Madani, bukan hanya ada di sekolah setempat. Banyak sekolah lain yang juga mengalami hal serupa.
Baik itu masalah air, masalah jaringan internet ataupun hal lainnya. Hal itu, berkaitan dengan kondisi wilayah. Serta, sarana penunjang di sekolah.
Ia menegaskan, terkait minimnya fasilitas yang ada, memang perlu dukungan dari semua pihak. Masyarakat bisa memberikan support dengan bentuk sumbangan.
Karena, sekolah ataupun pemerintah, tidak mungkin, untuk memenuhi semua kebutuhan yang ada. Sehingga, dukungan masyarakat itu, diperbolehkan. Yakni dengan pemberian sumbangan.
Dengan catatan, sumbangan tidak menggunakan nominal. Sifatnya sukarela. Jika menggunakan nominal, hal itu tidak diperkenankan.
"Kami akan lakukan investigasi terlebih dahulu, terkait sumbangan ataupun hal-hal lain yang ada di sekolah ini," paparnya.
Hal inilah yang membuatnya belum bisa memberikan sanksi. Karena, harus melalui investigasi terlebih dahulu untuk memastikan kebenarannya.
Jika ada pelanggaran, jelas akan ada sanksi. Baik teguran atau yang lebih berat bisa dimutasi. "Kami tidak bisa serta merta memberikan sanksi ataupun memindahkan seseorang, gara-gara demontrasi. Kami perlu melakukan investigasi terlebih dahulu untuk memastikan kebenarannya," tambahnya.
Kepala SMAN 1 Bangil Imron Rosidi mengaku, terkait minimnya fasilitas seperti air, salah satunya dipengaruhi karena faktor cuaca. Di sekolah setempat, ada ribuan siswa. Sehingga kebutuhan air cukup tinggi.
Sementara, saat ini kemarau masih berlangsung. Sehingga, air juga sulit untuk memenuhi kebutuhan ribuan siswa tersebut. "Begitu juga dengan wifi, kan butuh jaringan juga," bebernya.
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Hikmah Bafaqih mengaku prihatin dengan apa yang terjadi di SMAN 1 Bangil dan SMAN Taruna Madani. Karenanya, ia berencana untuk mengklarifikasi pihak-pihak terkait, untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya.
"Adanya kejadian demonstrasi tersebut, jelas memprihatinkan. Berarti, ada masalah komunikasi. Besok kami akan ketemu untuk menerima laporannya," singkatnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, para pelajar SMAN 1 Bangil dan SMAN Taruna Madani berunjuk rasa di sekolah mereka, Senin (30/10). Aksi itu sebagai luapan protes atas sarana dan prasarana sekolah yang tak sesuai.
Protes ini berlangsung ketika upacara sumpah pemuda digelar. Berbagai hal disampaikan. Mulai buruknya fasilitas yang disediakan. Hingga makanan katering yang kerap basi. Belum lagi soal minimnya dukungan dana untuk kegiatan ekstra. Hal ini yang membuat siswa marah. Mereka melayangkan protes di sekolah. Bahkan, mereka menuntut agar kepala sekolah, mundur dari jabatannya. (one/fun)
Editor : Ronald Fernando