Kondisi itu berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Di mana, sebelumnya makam tersebut hanya ditutupi atap reot dan ala kadarnya. Makam Pak Sakera saat ini mudah untuk dijujuki.
Di luar makam, ada patung yang menjadi ikon. Patung tersebut memegang celurit. Sosoknya menggambarkan seorang Pak Sakera.
Menurut Kasmiati, salah satu warga Kolursari, banyak peziarah datang ke makam Pak Sakera. Khususnya ketika Kamis atau malam Jumat. Mereka datang untuk berkirim doa.
Tidak hanya dari sekitara Bangil. Tapi juga dari beberapa kecamatan lain. Bahkan, ada pula yang dari luar kota. Seperti Madura ataupun daerah yang lain. “Kalau Kamis malam Jumat, biasanya ada yang berdatangan untuk tahlil atau kirim doa,” akunya.
Kunjungan semakin banyak, ketika hari Pahlawan tiba, 10 November. Peziarah dari berbagai kalangan datang untuk tabur bunga atau doa bersama. Baik dari kalangan mahasiswa ataupun dari berbagai unsur lainnya.
Ketua Forum Pamong Kebudayaan (FKP) Jatim Ki Bagong Sabdo Sinukarto memandang Pak Sakera merupakan pejuang yang melawan penindasan yang dilakukan Belanda dan antek-anteknya. Dulunya, Pak Sakera mungkin dianggap hanya sebuah legenda. Namun, keberadaan Pak Sakera adalah nyata.
Terbukti keberadaan makamnya di Bekacak, Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil. Karenanya, ia memandang Pak Sakera harusnya menjadi pahlawan nasional.
“Kami sangat berharap agar Pak Sakera bisa dijadikan pahlawan nasional. Karena beliau merupakan sosok pejuang dalam melawan penindasan penjajahan Belanda,” harap dia. (iwan andrik/hn) Editor : Ronald Fernando