Di pintu-pintu masuk perbatasan, belum terlihat gapura tanda bahwa Kota Bangil adalah ibu kota baru Kabupaten Pasuruan. Soewarno Santoso, pemerhati sejarah Kabupaten Pasuruan berpendapat, kesan bahwa Bangil adalah ibu kota kabupaten masih hambar. Belum terasa.
”Kami bandingkan dengan di Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Saat hendak masuk Kraksaan, ada gapura penunjuknya. Kalau di Bangil, mana?” tanya Soewarno yang juga ketua tim penulis buku sejarah Hari Jadi Kabupaten Pasuruan tersebut.
Dia berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan terkait hal ini. Identitas Bangil sebagai ibu kota Kabupaten Pasuruan sangatlah penting. Itu bisa berpengaruh kuat bagi sektor usaha. Saat ini, Pemkab Pasuruan terus membangun gedung-gedung baru di kompleks perkantoran Raci. Kantor-kantor pemkab yang masih berada di Kota Pasuruan dipindahkan secara bertahap.
Seharusnya, lanjut Soewarno, sudah ada gapura penanda masuk Kota Bangil di setiap perbatasan. Misalnya, di Beji dan Pandaan. Itu akan menambah pengaruh positif bagi dunia usaha, pariwisata, maupun sektor-sektor lainnya. ”Pasti akan terasa,” tegasnya.
Camat Bangil Komari membenarkan bahwa keberadaan gapura selamat datang di Kota Bangil memang perlu. Saat ini, baru ada satu gapura, yaitu di Latek, Kecamatan Bangil. Di tempat lain memang belum ada.
”Kami akan cek juga, apa ada usulan masuk di musrenbang,” pungkasnya. (one/far) Editor : Jawanto Arifin