Ada Bacakades di Kab Pasuruan Sebut APBDes Singkatan dari Apartemen Bangun Desa

BANGIL, Radar Bromo – Pemkab Pasuruan akhirnya memberi ruang atas keberatan bakal calon kepala desa (bacakades) tak lulus ujian akademis. Ruang itu diberikan dengan mengundang Lembaga Penelitian Pendidikan dari Universitas Brawijaya sebagai pelaksana ujian akademis.

Penjelasan atas keberatan bacakades tak lulus ujian akademis itu dilakukan bertahap. Dimulai Rabu (30/10) dengan agenda penjelasan untuk 19 bacakades. Sisanya, akan dilanjutkan hari ini (31/10).

Kegiatan tersebut berlangsung di ruang KONI Kabupaten Pasuruan, dimulai sekitar pukul 13.00. Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, kegiatan tersebut tertutup untuk umum.

Hanya bacakades yang diperbolehkan masuk satu persatu bersama muspika. Abdul Khamid, salah satu bacakades yang gagal ujian akademis enggan memberikan komentar saat dikonfirmasi tentang hasil ujiannya.

Ia hanya mengakui sudah melihat hasil dari jawabannya. “Banyak coretannya,” akunya singkat.

Asiten I Pemkab Pasuruan Anang Saiful Wijaya menyampaikan kegiatan tersebut dilakukan untuk menyampaikan penjelasan atas keberatan bacakades terhadap hasil ujian akademis mereka. Sebelumnya, Pemkab Pasuruan menerima setidaknya surat keberatan dari 55 bacakades atas hasil ujian akademis mereka.

“Keberatan itu perlu kami sikapi. Yakni, dengan memfasilitasi pemberian penjelasan yang langsung disampaikan pihak Universitas Brawijaya sebagai pelaksana penguji akademis,” ulasnya.

Kegiatan tersebut dilakukan bertahap, selama dua hari. Dalam kegiatan tersebut, hasil uji akademis masing-masing bacakades yang mengajukan keberatan dibeberkan.

“Rata-rata peserta ada yang mau dan ada yang menolak untuk dibeberkan. Ada pula yang sebelum dipaparkan, memilih untuk mencabut permintaan penjelasan. Bahkan, ada yang menolak apa yang telah dijelaskan,” tandasnya.

Karena itulah, pihaknya siap jika seandainya ada pihak yang tak puas hingga memilih untuk mengajukan yudicial review.

Ketua Pelaksana Ujian Akademis dari Universitas Brawijaya Sarwono menegaskan, ada perasaan tak nyaman ketika harus membeberkan hasil ujian akademis bacakades yang tak lulus. Bukan tanpa alasan, karena beberapa jawaban yang ditulis membuat miris.

Seperti pengertian APBDes. Dalam lembar jawaban salah satu bacakades, disebutkan bahwa kepanjangan dari APBDes yaitu Apartemen Bangun Desa. Padahal yang benar, anggaran pendapatan dan belanja desa.

Begitupun ketika diminta menyebutkan nama Bupati Pasuruan. Ada salah satu bacakdes yang menulis dengan ejaan salah. Bukan Irsyad Yusuf seperti nama sebenarnya, tetapi Irsyat Yusuf.

“Bahkan, ada pula jawaban esay yang kosong. Saya ini kan seorang guru. Sebenarnya, saya sedih untuk membeberkan jawaban-jawaban tersebut ke banyak orang. Makanya sebelum dibeberkan saya tawarkan dulu,” ulasnya.

Ia menegaskan, tugasnya hanya membuat, menilai, dan menyelenggarakan ujian akademis. Sementara untuk tahap lainnya adalah kewenangan Pemkab. (one/hn)