alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Kondisi Nenek Korban Limbah Gula Kian Drop saat Dirawat di Rumah

BANYUANYAR – Sujiani, 72, warga Dusun Pring, RT 3/RW 1 Desa Klenang Lor, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo yang meninggal Senin (29/10) lalu karena kondisinya terus memburuk. Itu setelah ia terperosok ke limbah pabrik gula, tak jauh dari rumahnya.

Sukardi, 60, putra korban saat ditemui media ini mengatakan, sesaat setelah terperosok, korban langsung dibawa ke Puskesmas Maron. Namun, karena lukanya cukup serius, puskesmas merujuk ke RSUD Waluyo Jati Kraksaan.

Selama 10 hari, ibunya dirawat di rumah sakit menggunakan kartu BPJS warga tidak mampu. “Kebetulan ibu punya kartu BPJS, jadi di rumah sakit pakai BPJS,” ujarnya.

Selama dirawat, diketahui luka yang diderita ibunya tak semakin membaik. Bak petir di siang bolong, petugas medis menyampaikan kabar bahwa kaki sang ibu harus diamputasi.

Tindakan medis berupa amputasi itu kemudian ditolak keluarga. Pihak keluarga memilih membawa pulang korban. Apalagi, saat itu keluarga korban mendapat informasi jika BPJS hanya menyediakan pelayanan kesehatan selama 10 hari.

Karena itulah, keluarganya pasrah. Sampai akhirnya, Senin sekira pukul 17.00, Sujiani mengembuskan napas terakhir.

Selama di rumah, ia mendapat perawatan ala kadarnya. Malam itu juga, korban kemudian dimakamkan. “Pihak PG sudah memberikan tali asih saat ibu meninggal. Kalau soal biaya selama sakit, kami tanggung sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Genegar Manager PG Gending Imam Cipto belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, tak kunjung diangkat. Pesan singkat via WhatsApp belum dibalas.

Di sisi lain, Fathur Rahman selaku kepala keamanan PG Gending mengatakan, pihaknya menganggap kejadian yang di Desa Klenang Lor selesai. Seiring dengan pemberian tali asih dan pernyataan hitam di atas putih bahwa keluarga korban menerima kejadian itu.

“Dengan pihak keluarga korban sudah selesai semua. Termasuk saat penguburan, kami PG sudah ke sana dan memberi tali asih,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo (30/10).

Meski begitu, Fathur mengaku jika limbah di lokasi itu merupakan limbah dari PG Gending yang dibuang tahun 2014 lalu. Pihaknya saat itu juga sudah menjalin kerja sama dengan pihak ketiga.

Aktivitas pembuangan itu juga sudah mengantongi izin dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). “Secara aturan sudah habis masa kontraknya pembuangan limbah itu. Karena kontrak dengan pihak ketiga selama tiga tahun mulai tahun 2014 sampai 2017,” terangnya.

Disinggung soal proses pembuangan limbah yang diduga menyalahi aturan? Fathur mengaku tidak mengetahui soal itu. Semua itu diserahkan pada pihak ketiga yang kontrak soal pembuangan limbah. “Itu, langsung ke pihak ketiga yang menanganinya,” ujarnya.

Kejadian itu menambah daftar panjang warga yang menjadi korban limbah pabrik gula. (mas/mie)

BANYUANYAR – Sujiani, 72, warga Dusun Pring, RT 3/RW 1 Desa Klenang Lor, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo yang meninggal Senin (29/10) lalu karena kondisinya terus memburuk. Itu setelah ia terperosok ke limbah pabrik gula, tak jauh dari rumahnya.

Sukardi, 60, putra korban saat ditemui media ini mengatakan, sesaat setelah terperosok, korban langsung dibawa ke Puskesmas Maron. Namun, karena lukanya cukup serius, puskesmas merujuk ke RSUD Waluyo Jati Kraksaan.

Selama 10 hari, ibunya dirawat di rumah sakit menggunakan kartu BPJS warga tidak mampu. “Kebetulan ibu punya kartu BPJS, jadi di rumah sakit pakai BPJS,” ujarnya.

Selama dirawat, diketahui luka yang diderita ibunya tak semakin membaik. Bak petir di siang bolong, petugas medis menyampaikan kabar bahwa kaki sang ibu harus diamputasi.

Tindakan medis berupa amputasi itu kemudian ditolak keluarga. Pihak keluarga memilih membawa pulang korban. Apalagi, saat itu keluarga korban mendapat informasi jika BPJS hanya menyediakan pelayanan kesehatan selama 10 hari.

Karena itulah, keluarganya pasrah. Sampai akhirnya, Senin sekira pukul 17.00, Sujiani mengembuskan napas terakhir.

Selama di rumah, ia mendapat perawatan ala kadarnya. Malam itu juga, korban kemudian dimakamkan. “Pihak PG sudah memberikan tali asih saat ibu meninggal. Kalau soal biaya selama sakit, kami tanggung sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Genegar Manager PG Gending Imam Cipto belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, tak kunjung diangkat. Pesan singkat via WhatsApp belum dibalas.

Di sisi lain, Fathur Rahman selaku kepala keamanan PG Gending mengatakan, pihaknya menganggap kejadian yang di Desa Klenang Lor selesai. Seiring dengan pemberian tali asih dan pernyataan hitam di atas putih bahwa keluarga korban menerima kejadian itu.

“Dengan pihak keluarga korban sudah selesai semua. Termasuk saat penguburan, kami PG sudah ke sana dan memberi tali asih,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo (30/10).

Meski begitu, Fathur mengaku jika limbah di lokasi itu merupakan limbah dari PG Gending yang dibuang tahun 2014 lalu. Pihaknya saat itu juga sudah menjalin kerja sama dengan pihak ketiga.

Aktivitas pembuangan itu juga sudah mengantongi izin dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). “Secara aturan sudah habis masa kontraknya pembuangan limbah itu. Karena kontrak dengan pihak ketiga selama tiga tahun mulai tahun 2014 sampai 2017,” terangnya.

Disinggung soal proses pembuangan limbah yang diduga menyalahi aturan? Fathur mengaku tidak mengetahui soal itu. Semua itu diserahkan pada pihak ketiga yang kontrak soal pembuangan limbah. “Itu, langsung ke pihak ketiga yang menanganinya,” ujarnya.

Kejadian itu menambah daftar panjang warga yang menjadi korban limbah pabrik gula. (mas/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/