alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Selama Januari-Juni, Ada 10 ODHA Baru di Kota Pasuruan

BUGULKIDUL, Radar Bromo – Temuan penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan masih cukup tinggi. Sepanjang semester pertama tahun 2019, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menemukan 10 orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Mayoritas penderita adalah kaum heteroseksual.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan dr. Shierly Marlena mengungkapkan, temuan penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan setiap tahunnya termasuk tinggi. Ia merinci pada 2017, Dinkes menemukan 8 ODHA. Selanjutnya, pada 2018 meningkat menjadi 40 orang. Sementara, Januari sampai Juli 2019, Dinkes menemukan 10 ODHA baru. Berdasarkan temuan itu, diketahui ODHA rata-rata berada di usia produktif.

“Usia produktif ini berada di rentang 25 sampai 40 tahun. Meski cukup tinggi, namun Dinkes belum menemukan penderita yang tewas karena HIV/AIDS,” ungkapnya.

Shierly –sapaan akrabnya- menjelaskan, mayoritas penderita HIV/AIDS tertinggi adalah kaum heteroseksual atau mereka yang suka berganti-ganti pasangan. Biasanya, saat melakukan hubungan seks bersama lawan jenis, mereka tidak mengetahui pasangannya terjangkit virus HIV.

Lalu, tertinggi kedua adalah ibu rumah tangga (IRT). Kondisi ini biasanya diakibatkan virus HIV/AIDS menular padanya dari suaminya. Selanjutnya adalah terjadi pada prenatal akibat penularan ibu kepada anak yang dikandungnya.

“IRT dan masa prenatal cukup rawan terjangkiti virus HIV. Untuk itu, jabang bayi dalam kandungan harus dilahirkan di rumah sakit untuk segera ditangani,” jelas Shierly.

Meski temuan HIV/AIDS dari tahun ke tahun selalu tinggi, ia menyebut hal ini sangat baik. Sehingga, ODHA bisa diobati dan virus HIV/AIDS tidak semakin menyebar. Sebab, penyebaran HIV/AIDS dapat terjadi melalui hubungan seksual atau pemakaian jarum narkoba suntik secara bergantian.

Di sisi lain, menurutnya, stigma negatif pada ODHA di Kota Pasuruan tetap ada. Karena itu, Dinkes bersama Komisi Pemberantasan AIDS (KPA) di Kota Pasuruan rutin melakukan sosialisasi ke sekolah atau kelurahan dengan membentuk kader. Harapannya, saat ditemukan ODHA, langsung dapat dilaporkan ke puskesmas terdekat.

Saat ini Dinkes sudah membentuk klinik infeksi menular seksual di delapan puskesmas. Juga ada care support therapy (CST) di RSUD Purut untuk melayani ODHA.

“Kami berharap agar ODHA tidak dijauhi. Memang tidak bisa disembuhkan, namun dengan berobat virusnya tidak menyebar. Sehingga, harapan hidup bisa lebih lama,” terang Shierly. (riz/fun)

BUGULKIDUL, Radar Bromo – Temuan penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan masih cukup tinggi. Sepanjang semester pertama tahun 2019, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menemukan 10 orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Mayoritas penderita adalah kaum heteroseksual.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan dr. Shierly Marlena mengungkapkan, temuan penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan setiap tahunnya termasuk tinggi. Ia merinci pada 2017, Dinkes menemukan 8 ODHA. Selanjutnya, pada 2018 meningkat menjadi 40 orang. Sementara, Januari sampai Juli 2019, Dinkes menemukan 10 ODHA baru. Berdasarkan temuan itu, diketahui ODHA rata-rata berada di usia produktif.

“Usia produktif ini berada di rentang 25 sampai 40 tahun. Meski cukup tinggi, namun Dinkes belum menemukan penderita yang tewas karena HIV/AIDS,” ungkapnya.

Shierly –sapaan akrabnya- menjelaskan, mayoritas penderita HIV/AIDS tertinggi adalah kaum heteroseksual atau mereka yang suka berganti-ganti pasangan. Biasanya, saat melakukan hubungan seks bersama lawan jenis, mereka tidak mengetahui pasangannya terjangkit virus HIV.

Lalu, tertinggi kedua adalah ibu rumah tangga (IRT). Kondisi ini biasanya diakibatkan virus HIV/AIDS menular padanya dari suaminya. Selanjutnya adalah terjadi pada prenatal akibat penularan ibu kepada anak yang dikandungnya.

“IRT dan masa prenatal cukup rawan terjangkiti virus HIV. Untuk itu, jabang bayi dalam kandungan harus dilahirkan di rumah sakit untuk segera ditangani,” jelas Shierly.

Meski temuan HIV/AIDS dari tahun ke tahun selalu tinggi, ia menyebut hal ini sangat baik. Sehingga, ODHA bisa diobati dan virus HIV/AIDS tidak semakin menyebar. Sebab, penyebaran HIV/AIDS dapat terjadi melalui hubungan seksual atau pemakaian jarum narkoba suntik secara bergantian.

Di sisi lain, menurutnya, stigma negatif pada ODHA di Kota Pasuruan tetap ada. Karena itu, Dinkes bersama Komisi Pemberantasan AIDS (KPA) di Kota Pasuruan rutin melakukan sosialisasi ke sekolah atau kelurahan dengan membentuk kader. Harapannya, saat ditemukan ODHA, langsung dapat dilaporkan ke puskesmas terdekat.

Saat ini Dinkes sudah membentuk klinik infeksi menular seksual di delapan puskesmas. Juga ada care support therapy (CST) di RSUD Purut untuk melayani ODHA.

“Kami berharap agar ODHA tidak dijauhi. Memang tidak bisa disembuhkan, namun dengan berobat virusnya tidak menyebar. Sehingga, harapan hidup bisa lebih lama,” terang Shierly. (riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/