alexametrics
25 C
Probolinggo
Saturday, 13 August 2022

Begini Geliat Industri Konfeksi di Desa Tampung yang Pasarnya Tembus Luar Jawa

KERAJINAN bordir di Desa Tampung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, tidak ada matinya. Sejauh ini tetap eksis dan banyak ditekuni warga. Pasar industri konfeksi ini sampai merambah luar Jawa, termasuk Kalimantan.

—————-

Bunyi mesin bordir menghapus ketenangan ruang tamu rumah Anis. Dengan seksama perempuan asal Desa Tampung, Kecamatan Rembang, itu tak mengalihkan pandangannya. Tangannya terlihat kuat mengarahkan kain putih di mesin kerjanya. Sambil menggerak-gerakkan kain itu, tercipta pola yang diharapkan.

Begitulah setidaknya giat bordir yang dilakukannya. Anis memang salah satu perajin bordir asal Tampung. Sudah bertahun-tahun profesi sebagai tukang bordir dilakoninya. Dari yang semula ikut orang, hingga akhirnya ia membuka bordiran di rumahnya.

“Dulu saya setor ke Bangil. Sekarang cukup ngambil order di sini. Saya sudah belasan tahun menekuni profesi ini,” ujarnya. Kerajinan bordir memang bukan sesuatu yang langka di Desa Tampung. Banyak perempuan lain yang menekuni profesi sama.

Kepala Desa Tampung M. Faisol mengatakan, kerajinan bordir sudah lama banyak digeluti warganya. Kerajinan bordir ini sudah menjadi pekerjaan turun temurun. Tak salah jika akhirnya banyak yang menekuni industri ini. Terlebih, hasil dari bordir mampu untuk menunjang perekonomian warga.

“Di sini ada banyak perajin bordir. Terutama, wanita yang cenderung banyak menghabiskan waktunya di rumah. Sambil mengurus rumah, mereka memilih membantu perekonomian keluarga dengan menekuni kerajinan bordir,” ujar Faisol.

Faisol menambahkan, usaha bordir muncul di kampungnya setelah datangnya warga Bangil ke Desa Tampung. Warga di kampungnya mendapatkan pelajaran cara membordir. Lambat laun, mereka akhirnya terampil. Dari sanalah akhirnya berumculan perajin bordir.

Sebagian menjadikan usaha bordir sebagai sampingan. Namun, banyak pula yang akhirnya fokus menjadikan bordir sebagai usaha utama. “Banyak yang sukses menekuni industri ini. Bahkan, ada yang sampai memiliki karyawan,” ujar Faisol.

Kerajinan bordir Desa Tampung, tak hanya menembus pasar lokal. Namun, juga mampu bersaing di pasar hingga luar Jawa, salah satunya ke Kalimantan. “Pasarnya bukan hanya Jawa. Tapi, sampai ke Kalimantan,” ujarnya.

Pihaknya berharap, peran Pemkab Pasuruan untuk pengembangan industri bordir di Desa Tampung. Baik dengan pelatihan ataupun promosi agar lebih menunjang. Termasuk support peralatan. (one/fun)


TELATEN: Anis, salah seorang warga Desa, Kecamatan Rembang, berusaha menyelesaikan bordirannya. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

KERAJINAN bordir di Desa Tampung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, tidak ada matinya. Sejauh ini tetap eksis dan banyak ditekuni warga. Pasar industri konfeksi ini sampai merambah luar Jawa, termasuk Kalimantan.

—————-

Bunyi mesin bordir menghapus ketenangan ruang tamu rumah Anis. Dengan seksama perempuan asal Desa Tampung, Kecamatan Rembang, itu tak mengalihkan pandangannya. Tangannya terlihat kuat mengarahkan kain putih di mesin kerjanya. Sambil menggerak-gerakkan kain itu, tercipta pola yang diharapkan.

Begitulah setidaknya giat bordir yang dilakukannya. Anis memang salah satu perajin bordir asal Tampung. Sudah bertahun-tahun profesi sebagai tukang bordir dilakoninya. Dari yang semula ikut orang, hingga akhirnya ia membuka bordiran di rumahnya.

“Dulu saya setor ke Bangil. Sekarang cukup ngambil order di sini. Saya sudah belasan tahun menekuni profesi ini,” ujarnya. Kerajinan bordir memang bukan sesuatu yang langka di Desa Tampung. Banyak perempuan lain yang menekuni profesi sama.

Kepala Desa Tampung M. Faisol mengatakan, kerajinan bordir sudah lama banyak digeluti warganya. Kerajinan bordir ini sudah menjadi pekerjaan turun temurun. Tak salah jika akhirnya banyak yang menekuni industri ini. Terlebih, hasil dari bordir mampu untuk menunjang perekonomian warga.

“Di sini ada banyak perajin bordir. Terutama, wanita yang cenderung banyak menghabiskan waktunya di rumah. Sambil mengurus rumah, mereka memilih membantu perekonomian keluarga dengan menekuni kerajinan bordir,” ujar Faisol.

Faisol menambahkan, usaha bordir muncul di kampungnya setelah datangnya warga Bangil ke Desa Tampung. Warga di kampungnya mendapatkan pelajaran cara membordir. Lambat laun, mereka akhirnya terampil. Dari sanalah akhirnya berumculan perajin bordir.

Sebagian menjadikan usaha bordir sebagai sampingan. Namun, banyak pula yang akhirnya fokus menjadikan bordir sebagai usaha utama. “Banyak yang sukses menekuni industri ini. Bahkan, ada yang sampai memiliki karyawan,” ujar Faisol.

Kerajinan bordir Desa Tampung, tak hanya menembus pasar lokal. Namun, juga mampu bersaing di pasar hingga luar Jawa, salah satunya ke Kalimantan. “Pasarnya bukan hanya Jawa. Tapi, sampai ke Kalimantan,” ujarnya.

Pihaknya berharap, peran Pemkab Pasuruan untuk pengembangan industri bordir di Desa Tampung. Baik dengan pelatihan ataupun promosi agar lebih menunjang. Termasuk support peralatan. (one/fun)


TELATEN: Anis, salah seorang warga Desa, Kecamatan Rembang, berusaha menyelesaikan bordirannya. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

MOST READ

BERITA TERBARU

/