alexametrics
30.3 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Libatkan Tim Negosiator dan Asmaul Husna, Cara Polisi Tangani Unras

MAYANGAN, Radar Bromo – Sejumlah massa ngeluruk gedung DPRD Kota Probolinggo, Minggu (29/9). Mereka memprotes pembahasan sejumlah RUU yang dinilai tidak memihak rakyat.

Massa bahkan memaksa masuk ke gedung DPRD. Namun, petugas kepolisian yang berjaga menghadang. Sehingga, saling dorong antara petugas dan massa pun tak terelakkan.

Bahkan, tim negosiator yang berusaha memediasi, tak digubris massa. Barulah kemudian, tim Asmaul Husna maju membacakan lantunan ayat Alquran. Dan massa pun mulai terkendali .

Itulah simulasi penanganan demonstrasi yang dilakukan Polres Probolinggo Kota (Polresta), Minggu (29/9). Simulasi digelar untuk mengasah skill dan drill, mengantisipasi unjuk rasa yang mungkin terjadi. Sebab, belakangan banyak unjuk rasa yang berujung bentrok.

ASMAUL HUSNA: Tim dari kepolisian yang mengawasi jalannya unras. Salah satunya akan mengerahkan Asmaul Husna. (Foto: Humas Polresta for Jawa Pos Radar Bromo)

 

Dimulai pukul 07.00, simulasi melibatkan puluhan petugas. Juga ada pasukan dalmas, lengkap dengan mobil Water Cannon. Selain itu, ada tim negosiator dan tim yang dijuluki Asmaul Husna. Tim Asmaul Husna yang didominasi polwan bertugas meredam massa dengan lantunan ayat Alquran dan bacaan Asmaul Husna.

“Kegiatan ini merupakan latihan untuk meningkatkan kemampuan personel agar semakin terasah dan siaga setiap saat,” terang Kapolresta AKBP Ambaryadi Wijaya saat dihubungi Jawa Pos Radar Bromo

Menurutnya, dalam setiap pengamanan unras, Polresta selalu mengutamakan pendekatan humanis kepada para pengunjuk rasa. Hal tersebut menurutnya, sesuai dengan moto Polres yaitu “Mangga Manis” (aman, terjaga, nyaman dan humanis).

“Jajaran kami siap memberikan pengamanan dan pelayanan kepada masyarakat yang unras atau menggelar aksi solidaritas. Tentunya, harapannya unras tetap mengedepankan ketertiban, tidak anarkis, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat lainnya,” ujar Kapolresta.

Menurutnya, Tim Negosiator dan Asmaul Husna diturunkan agar unjuk rasa berjalan tertib, tanpa emosi. Namun, tanpa mengurangi esensi dari aksi tersebut untuk menyampaikan pendapat.

“Jika situasi panas, lapar, dan lelah, maka emosi mudah naik. Oleh karenanya, kami terjunkan tim negosiator dan Asmaul Husna dengan harapan bisa meredam emosi,” pungkasnya. (rpd/hn/fun)

MAYANGAN, Radar Bromo – Sejumlah massa ngeluruk gedung DPRD Kota Probolinggo, Minggu (29/9). Mereka memprotes pembahasan sejumlah RUU yang dinilai tidak memihak rakyat.

Massa bahkan memaksa masuk ke gedung DPRD. Namun, petugas kepolisian yang berjaga menghadang. Sehingga, saling dorong antara petugas dan massa pun tak terelakkan.

Bahkan, tim negosiator yang berusaha memediasi, tak digubris massa. Barulah kemudian, tim Asmaul Husna maju membacakan lantunan ayat Alquran. Dan massa pun mulai terkendali .

Itulah simulasi penanganan demonstrasi yang dilakukan Polres Probolinggo Kota (Polresta), Minggu (29/9). Simulasi digelar untuk mengasah skill dan drill, mengantisipasi unjuk rasa yang mungkin terjadi. Sebab, belakangan banyak unjuk rasa yang berujung bentrok.

ASMAUL HUSNA: Tim dari kepolisian yang mengawasi jalannya unras. Salah satunya akan mengerahkan Asmaul Husna. (Foto: Humas Polresta for Jawa Pos Radar Bromo)

 

Dimulai pukul 07.00, simulasi melibatkan puluhan petugas. Juga ada pasukan dalmas, lengkap dengan mobil Water Cannon. Selain itu, ada tim negosiator dan tim yang dijuluki Asmaul Husna. Tim Asmaul Husna yang didominasi polwan bertugas meredam massa dengan lantunan ayat Alquran dan bacaan Asmaul Husna.

“Kegiatan ini merupakan latihan untuk meningkatkan kemampuan personel agar semakin terasah dan siaga setiap saat,” terang Kapolresta AKBP Ambaryadi Wijaya saat dihubungi Jawa Pos Radar Bromo

Menurutnya, dalam setiap pengamanan unras, Polresta selalu mengutamakan pendekatan humanis kepada para pengunjuk rasa. Hal tersebut menurutnya, sesuai dengan moto Polres yaitu “Mangga Manis” (aman, terjaga, nyaman dan humanis).

“Jajaran kami siap memberikan pengamanan dan pelayanan kepada masyarakat yang unras atau menggelar aksi solidaritas. Tentunya, harapannya unras tetap mengedepankan ketertiban, tidak anarkis, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat lainnya,” ujar Kapolresta.

Menurutnya, Tim Negosiator dan Asmaul Husna diturunkan agar unjuk rasa berjalan tertib, tanpa emosi. Namun, tanpa mengurangi esensi dari aksi tersebut untuk menyampaikan pendapat.

“Jika situasi panas, lapar, dan lelah, maka emosi mudah naik. Oleh karenanya, kami terjunkan tim negosiator dan Asmaul Husna dengan harapan bisa meredam emosi,” pungkasnya. (rpd/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/