alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Pentingnya Istighfar, Sabar dan Syukur

ALHAMDULILLAH, kita dipertemukan lagi dengan bulan Ramadan, walaupun puasa tahun ini kita masih dalam suasana pandemi Covid-19. Marilah kita renungkan salah satu sabda Rasulullah SAW: “Puasalah adalah bulan melatih kesabaran, yakni bulan Ramadan” (Shum syahr al-shabr Ramadhan).

Jika salah satu hikmah berpuasa adalah melatih kesabaran, maka terlebih lagi berpuasa dalam situasi pandemi seperti saat ini. Kita benar-benar ditempa untuk menjadi manusia yang lebih banyak bersabar dalam menjalankan perintah agama di satu sisi, dan mengahadapi ujian hidup di sisi lainnya.

Dalam ajaran Islam, sabar adakalanya berhubungan dengan ketentuan takdir Allah, seperti kita sabar menghadapi situasi sekarang ini. Sabar juga ada kalanya berhubungan dengan upaya sekuat tenaga untuk bertahan dan tidak goyah menghadapi rayuan setan yang membujuk manusia agar melanggar perintah Allah dan Rasul-nya. Termasuk sabar pula adalah sabar menjalankan perintah dan beribadah untuk menggapai ridha-Nya Allah SWT, sebagaimana kita sabar di dalam menjalankan puasa di bulan Ramadan.

Puasa adalah menahan sekaligus meredam hasrat dan hawa nafsu yang terdapat dalam diri manusia. Pada saat seseorang berpuasa dapat dipastikan dirinya sedang bersabar dari segala hal yang dapat membatalkan puasanya, seperti makan, minum, berhubungan badan suami-istri semenjak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Seseorang yang berpuasa pada dasarnya sedang berada di puncak kesabaran yang tidak ada bandingannya, baik di dunia maupan kelak ketika berhadapan langsung dengan Allah SWT pada hari kiamat.

Esensinya orang yang berpuasa dididik untuk bersabar dan bersyukur. Sabar dan syukur sendiri baik untuk kehidupan manusia. Dalam surat Al-Baqarah ayat 45, Allah SWT mendahulukan sabar sebelum salat. Sebab, salat butuh kesabaran agar sempurna. Bukan kesabaran yang butuh salat. Kesabaran sendiri ada tiga macam yakni sabar dalam taat, sabar menjauhi maksiat, dan sabar atas musibah.

Jangan sampai saat terkena musibah, manusia malah memperkarakan Allah. Puasa, salat, dan zakat butuh sabar. Bahkan Rasulullah menyebut puasa adalah setengah kesabaran. Puasa juga mengajarkan manusia untuk bersyukur. Ketika seseorang berpuasa, ia menahan dirinya dari makanan, minuman, dan berdekatan dengan istrinya meski ia bisa mengakses itu semua.

Salah satu kewajiban manusia atas nikmat Allah adalah bersyukur. Allah SWT sudah berfirman, orang bersyukur akan diberi nikmat berlipat ganda. Di ujung surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT memerintahkan agar manusia menyempurnakan bilangan puasa dan puasa diwajibkan agar manusia bersyukur. Maka, Allah menuntut kita bersyukur. Terlebih kita diberi petunjuk untuk berpuasa. Puasa juga membuat manusia berkasih sayang. Saat seseorang bercukupan rezeki, di bumi lain ada saudara-saudara yang butuh itu semua. Ada yang tidak bisa makan bukan karena puasa, tapi karena miskin.

Rasulullah SAW bersabda; Barang siapa yang tidak menyayangi maka Allah tidak akan menyayanginya. Manusia yang memberi kasih sayang kepada penduduk bumi akan disayangi penduduk langit. Rasul Muhammad SAW adalah sosok yang paling berkasih sayang dan dermawan, terlebih saat Ramadan. Karena itu Islam mengharuskan Muslim berzakat fitrah saat Ramadan.

Dalam kehidupan, kata syukur, sabar dan istighfar merupakan hal yang tidak asing. Setiap orang mampu mengaplikasikannya, meski terkadang belum sempurna dengan hakikat sebenarnya. Dalam mukadimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnu Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros dan seseorang tidak akan lepas dari salah satunya.

Ketiga poros tersebut adalah syukur, sabar, dan istighfar. Allah SWT menciptakan setiap makhluk di muka dengan jaminan rezeki. Allah SWT juga membekali manusia dengan akal pikiran. “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya… .” (QS Hud, [11] : 6). Hal inilah seharusnya melatarbelakangi kita kita bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan. Syukur memiliki tiga rukun, yang jika ketiganya diamalkan, maka seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut. Pertama, mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut asalnya dari Allah. Kedua, mengucapkan kalimat syukur dengan lisan. Ketiga, menggunakan nikmat tersebut untuk menggapai ridha Allah.

Setelah kita bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan, Allah SWT pun menguji kita dengan kebaikan dan keburukan agar hambanya bersabar. Sebagaimana Allah tegaskan dalam firmannya : “…Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenarbenarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” ( QS al-Anbiya [21]: 35 ).

Kesabaran seorang hamba terhadap ketentuan yang telah Allah berikan tecermin dalam tiga hal. Pertama, menahan hati dari perasaan marah dan kesal terhadap ketentuan Allah. Kedua, menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah. Ketiga, menahan anggota badan dari melakukan sikap tidak terima terhadap keputusan Allah, seperti menyakiti diri sendiri.

Perlu kita pahami bahwa Allah SWT menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan hamba-Nya, melainkan untuk menguji sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Sebagaimana Allah gambarkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu (iblis) tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil (penolong).” (QS. al-Isra [17]: 65).

Syukur dalam arti ikhlas menjalankan ibadah karena Allah, cinta kepada Allah, takut terhadap Allah disertai mengharap rida-Nya Allah, serta banyak berzikir menyebut nama Allah. Rasa syukur itu harus selalu kita pupuk sekalipun dua kali bulan Ramadan ummat Islam menjalani ibadah puasa dan lainnya masih dalam masa pandemi Corona. Namun kali ini  tampaknya di Indonesia prosedurnya lebih longgar dengan diizinkanya salat berjamaah, Salat Tarawih dan sebagainya di masjid-masjid maupun di musala yang berada di zona hijau dan kuning, dengan keharusan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan pembatasan kapasitas tempat. Beruntunglah ummat Islam di Indonesia sebab kesempatan ini tidak didapati oleh semua umat Islam di Indonesia.

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa menjaga diri kita, melindungi keluarga kita, agar tetap sehat, aman, dan tentram dalam menunaikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah sunnah lainnya di bulan yang sangat mulia ini. Kita berharap mudah-mudahan semua dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Swt. Amin ya robbal alamin. (*)

ALHAMDULILLAH, kita dipertemukan lagi dengan bulan Ramadan, walaupun puasa tahun ini kita masih dalam suasana pandemi Covid-19. Marilah kita renungkan salah satu sabda Rasulullah SAW: “Puasalah adalah bulan melatih kesabaran, yakni bulan Ramadan” (Shum syahr al-shabr Ramadhan).

Jika salah satu hikmah berpuasa adalah melatih kesabaran, maka terlebih lagi berpuasa dalam situasi pandemi seperti saat ini. Kita benar-benar ditempa untuk menjadi manusia yang lebih banyak bersabar dalam menjalankan perintah agama di satu sisi, dan mengahadapi ujian hidup di sisi lainnya.

Dalam ajaran Islam, sabar adakalanya berhubungan dengan ketentuan takdir Allah, seperti kita sabar menghadapi situasi sekarang ini. Sabar juga ada kalanya berhubungan dengan upaya sekuat tenaga untuk bertahan dan tidak goyah menghadapi rayuan setan yang membujuk manusia agar melanggar perintah Allah dan Rasul-nya. Termasuk sabar pula adalah sabar menjalankan perintah dan beribadah untuk menggapai ridha-Nya Allah SWT, sebagaimana kita sabar di dalam menjalankan puasa di bulan Ramadan.

Puasa adalah menahan sekaligus meredam hasrat dan hawa nafsu yang terdapat dalam diri manusia. Pada saat seseorang berpuasa dapat dipastikan dirinya sedang bersabar dari segala hal yang dapat membatalkan puasanya, seperti makan, minum, berhubungan badan suami-istri semenjak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Seseorang yang berpuasa pada dasarnya sedang berada di puncak kesabaran yang tidak ada bandingannya, baik di dunia maupan kelak ketika berhadapan langsung dengan Allah SWT pada hari kiamat.

Esensinya orang yang berpuasa dididik untuk bersabar dan bersyukur. Sabar dan syukur sendiri baik untuk kehidupan manusia. Dalam surat Al-Baqarah ayat 45, Allah SWT mendahulukan sabar sebelum salat. Sebab, salat butuh kesabaran agar sempurna. Bukan kesabaran yang butuh salat. Kesabaran sendiri ada tiga macam yakni sabar dalam taat, sabar menjauhi maksiat, dan sabar atas musibah.

Jangan sampai saat terkena musibah, manusia malah memperkarakan Allah. Puasa, salat, dan zakat butuh sabar. Bahkan Rasulullah menyebut puasa adalah setengah kesabaran. Puasa juga mengajarkan manusia untuk bersyukur. Ketika seseorang berpuasa, ia menahan dirinya dari makanan, minuman, dan berdekatan dengan istrinya meski ia bisa mengakses itu semua.

Salah satu kewajiban manusia atas nikmat Allah adalah bersyukur. Allah SWT sudah berfirman, orang bersyukur akan diberi nikmat berlipat ganda. Di ujung surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT memerintahkan agar manusia menyempurnakan bilangan puasa dan puasa diwajibkan agar manusia bersyukur. Maka, Allah menuntut kita bersyukur. Terlebih kita diberi petunjuk untuk berpuasa. Puasa juga membuat manusia berkasih sayang. Saat seseorang bercukupan rezeki, di bumi lain ada saudara-saudara yang butuh itu semua. Ada yang tidak bisa makan bukan karena puasa, tapi karena miskin.

Rasulullah SAW bersabda; Barang siapa yang tidak menyayangi maka Allah tidak akan menyayanginya. Manusia yang memberi kasih sayang kepada penduduk bumi akan disayangi penduduk langit. Rasul Muhammad SAW adalah sosok yang paling berkasih sayang dan dermawan, terlebih saat Ramadan. Karena itu Islam mengharuskan Muslim berzakat fitrah saat Ramadan.

Dalam kehidupan, kata syukur, sabar dan istighfar merupakan hal yang tidak asing. Setiap orang mampu mengaplikasikannya, meski terkadang belum sempurna dengan hakikat sebenarnya. Dalam mukadimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnu Qayyim mengulas tiga hal di atas dengan sangat mengagumkan. Beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia berputar pada tiga poros dan seseorang tidak akan lepas dari salah satunya.

Ketiga poros tersebut adalah syukur, sabar, dan istighfar. Allah SWT menciptakan setiap makhluk di muka dengan jaminan rezeki. Allah SWT juga membekali manusia dengan akal pikiran. “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya… .” (QS Hud, [11] : 6). Hal inilah seharusnya melatarbelakangi kita kita bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan. Syukur memiliki tiga rukun, yang jika ketiganya diamalkan, maka seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut. Pertama, mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut asalnya dari Allah. Kedua, mengucapkan kalimat syukur dengan lisan. Ketiga, menggunakan nikmat tersebut untuk menggapai ridha Allah.

Setelah kita bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan, Allah SWT pun menguji kita dengan kebaikan dan keburukan agar hambanya bersabar. Sebagaimana Allah tegaskan dalam firmannya : “…Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenarbenarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” ( QS al-Anbiya [21]: 35 ).

Kesabaran seorang hamba terhadap ketentuan yang telah Allah berikan tecermin dalam tiga hal. Pertama, menahan hati dari perasaan marah dan kesal terhadap ketentuan Allah. Kedua, menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah. Ketiga, menahan anggota badan dari melakukan sikap tidak terima terhadap keputusan Allah, seperti menyakiti diri sendiri.

Perlu kita pahami bahwa Allah SWT menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan hamba-Nya, melainkan untuk menguji sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya. Sebagaimana Allah gambarkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu (iblis) tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabb-mu (Hai Muhammad) sebagai wakil (penolong).” (QS. al-Isra [17]: 65).

Syukur dalam arti ikhlas menjalankan ibadah karena Allah, cinta kepada Allah, takut terhadap Allah disertai mengharap rida-Nya Allah, serta banyak berzikir menyebut nama Allah. Rasa syukur itu harus selalu kita pupuk sekalipun dua kali bulan Ramadan ummat Islam menjalani ibadah puasa dan lainnya masih dalam masa pandemi Corona. Namun kali ini  tampaknya di Indonesia prosedurnya lebih longgar dengan diizinkanya salat berjamaah, Salat Tarawih dan sebagainya di masjid-masjid maupun di musala yang berada di zona hijau dan kuning, dengan keharusan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan pembatasan kapasitas tempat. Beruntunglah ummat Islam di Indonesia sebab kesempatan ini tidak didapati oleh semua umat Islam di Indonesia.

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa menjaga diri kita, melindungi keluarga kita, agar tetap sehat, aman, dan tentram dalam menunaikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah sunnah lainnya di bulan yang sangat mulia ini. Kita berharap mudah-mudahan semua dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Swt. Amin ya robbal alamin. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/