Merasa jadi Korban Match Fixing di Liga 3, Persekabpas Siap Buka-bukaan

SAAT AWAY: Laga antara Persekabpas melawan Persibara di stadion R Soedarsono pada 9 Oktober lalu. Saat itu Persekabpas menang 3-2, namun akhirnya kalah 3-0 ketika away ke banjarnegara. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

BANGIL – Terbongkarnya kasus pengaturan pertandingan membuat banyak pihak senang. Tak terkecuali Persekabpas. Tim kebanggaan masyarakat Kabupaten Pasuruan itu, sangat senang atas kinerja Satgas Antimafia Sepakbola bentukan Polri yang sudah menetapkan beberapa orang menjadi tersangka.

Seakan mendukung langkah tersebut, Persekabpas juga siap buka-bukaan bila Polri meminta bantuan. Ini lantaran Persekabpas juga merasa pernah menjadi korban, saat masih mengikuti kompetisi Liga 3, khususnya saat laga di regional 2 nasional. Persekabpas menilai, ada bentuk kecurangan yan dilakukan sejumlah oknum di perangkat pertandingan hingga akhirnya tersingkir usai dikalahkan Persibara Banjarnegara.

Niatan ingin buka-bukan itu disampaikan manajer Persekabpas, Suryono Pane. Dia sangat senang karena Polri akhirnya membentuk Satgas Antimafia Sepakbola yang kini sudah menetapkan salah satu exco PSSI menjadi tersangka. “Kami angkat topi karena kinerja satgas ini sangat cepat. Dan itu memang fakta yang diungkap,” beber Suryono Pane.

Melihat perkembangan penyidikan yang dilakukan Satgas, Suryono Pane merasa, tim bentukan Polri ini juga jangan berpatok hanya pada oknum di PSSI. “Tapi juga oknum perangkat pertandingan, seperti wasit. Karena kami merasa, tersingkirnya Persekabpas saat kalah agregat oleh Persibara lalu, juga dikarenakan adanya oknum perangkat pertandingan,” beber lelaki yang berprofesi sebagai lawyer tersebut.

Sejatinya, kata Suryono, Persekabpas sudah melaporkan adanya indikasi kecurangan tersebut ke PSSI. “Tapi ternyata, responnya lebih cepat Satgas. Kami sendiri juga sudah kembali melayangkan surat protes untuk menindaklanjuti kecurangan. Surat ini tak hanya kami kirim ke PSSI. Tapi juga ke Mabes Polri,” beber Suryono Pane.

Adapun bentuk kecurangan dan indikasi adanya memenangkan salah satu tim, yakni saat Persekabpas “dikerjai” ketika leg kedua di stadion Soemitro Kolopaking, Banjarnegara pada 16 Oktober silam. Saat itu Persekabpas yang sudah menang 3-2 saat laga di kandang, akhirnya tersingkir karena kalah agregat lantaran kalah saat away dengan skor 3-0.

“Yang menjadi soal, banyak insiden yang terjadi di lapangan dan kami dirugikan. Mulai dari gol offside, hadiah penalti yang diberikan wasit padahal tidak ada kontak, kartu kuning yang diberikan kepada pemain Persekabpas, hingga terjadinya bentrokan saat laga,” beber Suryono Pane.

Persibara Banjarnegara sendiri, lanjut Suryono Pane, memang akhirnya ikut melaporkan adanya pengaturan skor. Menurut Suryono Pane, Persibara memang bisa menjadi korban. “Tapi Persibara juga bisa menjadi pelaku karena sebelumnya membayar oknum, agar pertandingannya dimenangkan. Nah, di posisi inilah kami merasa, Persekabpas yang jadi korban,” beber Suryono Pane.

Alasan itulah yang membuat manajemen, juga membuat surat tembusan ke Satgas Antimafia Sepakbola Polri. Supaya penyidikan juga ikut melibas sampai sebelum kasus ini mencuat. “Makanya kami mendukung apabila penyidikan tak hanya sekedar di oknum PSSI. Tapi sampai perangkat pertandingan. Semua harus dilibas. Prinsipnya, kami siap dimintai keterangan,” terang Suryono Pane.

Dalam surat tindak lanjut protes itu, manajemen Persekabpas mengajukan diri, bila Polri membutuhkan bantuan. “Meski tidak akan sampai merubah hasil pertandingan sebelumnya, kami ingin sistem dibenahi. Sehingga kompetisi musim depan akan lebih sehat. Tidak ada lagi mafia di sepabola Indonesia,” terang Suryono.

Bukan hanya sekedar mengajukan surat. Manajemen Persekabpas juga melengkapi dengan video rekaman selama pertandingan saat melawan Persibara lalu. (one/fun)