alexametrics
25.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Waduh, Tiga Early Warning System Rusak Jelang Musim Hujan

DRINGU, Radar Bromo – Menghadapi musim hujan dibutuhkan alat early warning system (EWS) atau alat pantau ketinggian air sungai. Sayang, tiga alat EWS milik Pemkab Probolinggo, tengah rusak. Karenanya, BPBD Kabupaten Probolinggo mengusulkan pengadaan EWS melalui APBD 2020.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi, mengatakan usulan yang menjadi prioritas pengadaan EWS. Sebab, tiga EWS yang dimiliki sudah rusak.

“Kami punya tiga EWS, tapi kondisinya rusak. Karena aplikasinya sudah tidak upgrade dan alatnya sudah lama. Perkiraan alat itu sudah 4-5 tahun lalu. Aplikasinya sudah tidak connect karena alat-alatnya rusak,” katanya.

Menurut Anggit, EWS itu dipasang di sungai untuk mengantisipasi banjir. Dengan adanya alat EWS, saat terjadi kenaikan ketinggian air sungai langsung terdeteksi. Petugas yang mantau alat EWS bisa langsung mengimbau warga sekitar lokasi sungai.

“Menghadapi musim hujan alat EWS ini sangat dibutuhkan. Karena, saat sudah musim hujan ketinggian air sungai berubah-ubah. Adanya banjir yang akan terjadi bisa dipantau dengan ketinggian air sungai,” terangnya.

Anggit mengaku sudah mengusulkan kegiatan pengadaan alat-alat EWS. Namun, pihaknya belum bisa memastikan realisasinya. Sebab, harga alat EWS cukup mahal. Sekiatar Rp 400 juta untuk satu EWS. “Kami masih belum dapat mastikan berapa realisasinya. Termasuk apakah beli baru atau memperbaiki alat-alat EWS yang rusak,” ujarnya. (mas/rud/fun)

DRINGU, Radar Bromo – Menghadapi musim hujan dibutuhkan alat early warning system (EWS) atau alat pantau ketinggian air sungai. Sayang, tiga alat EWS milik Pemkab Probolinggo, tengah rusak. Karenanya, BPBD Kabupaten Probolinggo mengusulkan pengadaan EWS melalui APBD 2020.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Anggit Hermanuadi, mengatakan usulan yang menjadi prioritas pengadaan EWS. Sebab, tiga EWS yang dimiliki sudah rusak.

“Kami punya tiga EWS, tapi kondisinya rusak. Karena aplikasinya sudah tidak upgrade dan alatnya sudah lama. Perkiraan alat itu sudah 4-5 tahun lalu. Aplikasinya sudah tidak connect karena alat-alatnya rusak,” katanya.

Menurut Anggit, EWS itu dipasang di sungai untuk mengantisipasi banjir. Dengan adanya alat EWS, saat terjadi kenaikan ketinggian air sungai langsung terdeteksi. Petugas yang mantau alat EWS bisa langsung mengimbau warga sekitar lokasi sungai.

“Menghadapi musim hujan alat EWS ini sangat dibutuhkan. Karena, saat sudah musim hujan ketinggian air sungai berubah-ubah. Adanya banjir yang akan terjadi bisa dipantau dengan ketinggian air sungai,” terangnya.

Anggit mengaku sudah mengusulkan kegiatan pengadaan alat-alat EWS. Namun, pihaknya belum bisa memastikan realisasinya. Sebab, harga alat EWS cukup mahal. Sekiatar Rp 400 juta untuk satu EWS. “Kami masih belum dapat mastikan berapa realisasinya. Termasuk apakah beli baru atau memperbaiki alat-alat EWS yang rusak,” ujarnya. (mas/rud/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/