alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Petani di Krejengan Tewas Kena Petir, Suaminya Selamat tapi Sempat Menyaksikan saat Istri Disambar

KREJENGAN, Radar Bromo – Nahas menimpa Subhana, 52, warga Desa Temenggungan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Kamis (28/5) sore, dia meregang nyawa lantaran terkena sambaran petir. Ironisnya, insiden tersebut dialaminya saat dia menanam tembakau di sawahnya.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, insiden itu terjadi sekitar pukul 14.30. Sebelum insiden, daerah sekitar sedang dilanda hujan lebat disertai petir.

Nah, di saat hujan dan petir terjadi, Subhana beserta keluarganya berjumlah tiga orang serta 26 buruh tani, tengah melakukan tanam tembakau. Subhana sendiri ketika itu tengah menanam di sawahnya sendiri.

Sekitar pukul 14.15, para buruh tani yang bekerja kepadanya, pulang karena pekerjaannya selesai. Sedangkan Subhana dan suaminya yakni Mustami, 55, serta kedua anaknya, tidak pulang. Mereka melanjutkan bersih-bersih di sawahnya. Tiba-tiba, sambaran petir menyambar kepala Subhana. Sontak, seketika itu korban tersungkur dan langsung tewas di lokasi kejadian.

“Saat petir menyambar, suaminya melihat. Jaraknya berdekatan mereka. Tetapi, yang kena hanya satu,” kata Rohim, kepala Desa Temenggungan.

Melihat Subhana tersambar kilat, kontan saja mereka yang masih ada di sawah, langsung kaget dan berlarian menghambiri korban. Sayang, nyawanya sudah tidak bisa tertolong. Ia kemudian dibawa ke rumah duka.

“Korban langsung dibawa ke rumah duka. Keluarga tidak berkenan dibawa ke rumah sakit,” terangnya.

Sementara itu, mendapat laporan adanya warga yang tersambar petir, Polsek Krejengan langsung ke lokasi rumah duka. Mereka memastikan terkait kejadian itu. “Ya memang benar ada orang tersambar petir. Hanya satu yang tersambar dan tewas,” kata Kapolsek Krejengan Iptu Yuliana.

Ia juga menjelaskan, dari kejadian itu, pihak keluarga menerima bahwa kejadian itu memang disebabkan oleh petir. Selain itu, pihak keluarga juga menolak untuk dilakukan visum. Mereka memilih untuk langsung membawa korban ke rumah duka.

“Langsung bawa ke rumah duka. Keluarga menerima bahwa kejadian ini adalah musibah,” ungkapnya. (sid/fun)

KREJENGAN, Radar Bromo – Nahas menimpa Subhana, 52, warga Desa Temenggungan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Kamis (28/5) sore, dia meregang nyawa lantaran terkena sambaran petir. Ironisnya, insiden tersebut dialaminya saat dia menanam tembakau di sawahnya.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, insiden itu terjadi sekitar pukul 14.30. Sebelum insiden, daerah sekitar sedang dilanda hujan lebat disertai petir.

Nah, di saat hujan dan petir terjadi, Subhana beserta keluarganya berjumlah tiga orang serta 26 buruh tani, tengah melakukan tanam tembakau. Subhana sendiri ketika itu tengah menanam di sawahnya sendiri.

Sekitar pukul 14.15, para buruh tani yang bekerja kepadanya, pulang karena pekerjaannya selesai. Sedangkan Subhana dan suaminya yakni Mustami, 55, serta kedua anaknya, tidak pulang. Mereka melanjutkan bersih-bersih di sawahnya. Tiba-tiba, sambaran petir menyambar kepala Subhana. Sontak, seketika itu korban tersungkur dan langsung tewas di lokasi kejadian.

“Saat petir menyambar, suaminya melihat. Jaraknya berdekatan mereka. Tetapi, yang kena hanya satu,” kata Rohim, kepala Desa Temenggungan.

Melihat Subhana tersambar kilat, kontan saja mereka yang masih ada di sawah, langsung kaget dan berlarian menghambiri korban. Sayang, nyawanya sudah tidak bisa tertolong. Ia kemudian dibawa ke rumah duka.

“Korban langsung dibawa ke rumah duka. Keluarga tidak berkenan dibawa ke rumah sakit,” terangnya.

Sementara itu, mendapat laporan adanya warga yang tersambar petir, Polsek Krejengan langsung ke lokasi rumah duka. Mereka memastikan terkait kejadian itu. “Ya memang benar ada orang tersambar petir. Hanya satu yang tersambar dan tewas,” kata Kapolsek Krejengan Iptu Yuliana.

Ia juga menjelaskan, dari kejadian itu, pihak keluarga menerima bahwa kejadian itu memang disebabkan oleh petir. Selain itu, pihak keluarga juga menolak untuk dilakukan visum. Mereka memilih untuk langsung membawa korban ke rumah duka.

“Langsung bawa ke rumah duka. Keluarga menerima bahwa kejadian ini adalah musibah,” ungkapnya. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/