alexametrics
30.9 C
Probolinggo
Friday, 1 July 2022

Merindukan Surga

SUATU hari Rasulullah dalam khotbahnya saat menyambut bulan Ramadan menyampaikan: “Hendaklah kalian melakukan empat hal di bulan ini. Dua di antaranya menjadikan Allah ridho kepada kamu. Yaitu sering mengucapkan syahadat dan memohon selalu mendapat maghfirah pengampunan Allah”. Dan dua hal lainnya kata Rasulullah: “Janganlah tidak, kalian hendaknya berusaha untuk mendapatkannya. Dua hal itu adalah memohon surga dan perlindungan Allah dari neraka”.

Apa yang dimaksud dengan memohon surga? Ada satu catatan dan perlu digarisbawahi. Memohon kepada Allah, tentu berbeda dengan memohon kepada manusia. Sebagai contoh saat kita meminta seseorang untuk mengambilkan segelas air minum. Kita tidak akan dituntut untuk meninggalkan tempat dan pergi untuk mengambil gelas yang dibawakan. Yang perlu dilakukan hanya cukup duduk.

Lain halnya jika kita memohon kepada Allah. Pada saat kita bermohon kepada-Nya, maka kita dituntut untuk berusaha. Kita perlu melakukan sesuatu tindakan. Lalu apa yang tidak kita mampu untuk kita lakukan? Di saat itulah kita berharap Allah memberinya.

Artinya, kita dituntut untuk selalu berikhtiyar, berusaha dan memperjuangkan agar mampu melakukan segala amal baik, berusaha dan memperjuangkan agar mampu untuk menghindari segala keburukan dan kemaksiatan. Dalam pada itu kita mohonkan kepada Allah akan Surganya.

Sebuah ringkasan sederharna sebagai kata kunci bahwa sejumlah hal yang bisa dilakukan manusia untuk dapat meraih surga dan terhindar dari neraka; Pertama, mengenal Allah lalu mematuhinya. Kedua, mengenal setan lalu mendurhakainya. Berikutnya mengenal hak (kebenaran) lalu mengikutinya dan mengenal batil lalu menghindarinya. Keempat, mengenal dunia lalu mengeyampingkannya, dan mengenal akhirat lalu merindukannya”. Dari catatan ini menunjukkan bahwa ada beberapa yang harus kita kenal dahulu saat kita melakukan berusaha dan ikhtiyar, yakni; mengenal Allah, mengenal musuh Allah (syetan), mengenal kebenaran dan kebatilan, serta mengenal dunia dan akhirat.

Mengenal Allah SWT merupakan Ilmu Tauhid. Bahwa Allah SWT memiliki sifat sifat yang wajib kita ketahui misalnya Allah kekal, Allah itu ada, Allah itu berbeda dengan makhluk dan seterusnya, Allah SWT juga memiliki asmaul husna misalnya maha pengasih, maha penyayang, maha penerima taubat, maha lembut dll. Itulah bukti sederhana bahwa kita telah mengenal Allah SWT. Kedua, kita juga harus tahu bahwa Allah memiliki musuh yang nyata yaitu setan.

Siapakah setan itu? Bagaimana sepak terjang setan? Kita memang harus dan perlu mengenalnya. Setan disebut sebagai musuh yang nyata karena setan tak akan pernah berhenti menjerumuskan manusia kepada perbuatan maksiat, keji dan munkar. Setan puas saat manusia berbuat bejat dan durhaka, Tsumma na’udzubillah.

Berikutnya adalah “Haqun” artinya kebenaran dan “Bathil” artinya keburukan. Mengenal bahwa kebenaran/kebaikan merupakan bagian yang diperintahkan oleh Allah SWT. Mendapatkan imbalan pahala bagi manusia yang berjuang melakukan dan juga mengikutinya, misalnya; melaksanakan salat, mengeluarkan zakat, menjalankan ibadah puasa serta beribadah haji ke baitullah. Mengenal bahwa keburukan/kesesatan adalah bagian yang dilarang oleh Allah SWT serta mendapatkan imbalan siksa bagi yang nekat dan tidak mampu menghindarinya. Berbuat keji misalnya, merampok melukai orang, ghibah, menfitnah, melakukan perbuatan zina, melakukan perjudian, mabuk dll.

Adalah kelalaian, jika kita hanya mengenal kehidupan dunia saja, meremehkan untuk mengenal kehidupan akhirat. Bahwa kehidupan dunia pasti akan berakhir dan kita pasti akan digiring untuk menghadapi kehidupan di akhirat. Bahwa Dunia bersifat sementara sebagai ajang kita menanam dan menghimpun pahala, sebanyak banyaknya kita menghimpun. Bersedekah, menyambung sillaturrohim, sholat malam karna itulah Mazro’atil akhiroh. Sementara akhirat bersifat kekal sebagai ujung penghidupan kita yang terakhir. Sebagai tempat segala pembalasan apa yang telah kita perbuat saat di dunia, menghitung amal baik dan amal buruk. Di sanalah kita akan pasti dihadapkan pada Surga dan Neraka.

Pada saat amal baik kita melebihi amal buruk kita di kehidupan dunia maka disitulah kita berhak mendapatkan imbalan surga. Maka bekal kita di kehidupan akhirat hanyalah sebanyak-banyaknya pahala sebagai imbalan atas amal baik kita di dunia. Manakah yang akan kita pilih? Merindukan surga dan melupakan neraka? Ataukah kita menjerumuskan diri ke neraka dan melupakan surga. Yang terpenting adalah saat kita senantiasa muslim yang beriman dan tidak melakukan perbuatan maksiat dan kemungkaran maka kitalah yang berhak merindukan surga. (*)

SUATU hari Rasulullah dalam khotbahnya saat menyambut bulan Ramadan menyampaikan: “Hendaklah kalian melakukan empat hal di bulan ini. Dua di antaranya menjadikan Allah ridho kepada kamu. Yaitu sering mengucapkan syahadat dan memohon selalu mendapat maghfirah pengampunan Allah”. Dan dua hal lainnya kata Rasulullah: “Janganlah tidak, kalian hendaknya berusaha untuk mendapatkannya. Dua hal itu adalah memohon surga dan perlindungan Allah dari neraka”.

Apa yang dimaksud dengan memohon surga? Ada satu catatan dan perlu digarisbawahi. Memohon kepada Allah, tentu berbeda dengan memohon kepada manusia. Sebagai contoh saat kita meminta seseorang untuk mengambilkan segelas air minum. Kita tidak akan dituntut untuk meninggalkan tempat dan pergi untuk mengambil gelas yang dibawakan. Yang perlu dilakukan hanya cukup duduk.

Lain halnya jika kita memohon kepada Allah. Pada saat kita bermohon kepada-Nya, maka kita dituntut untuk berusaha. Kita perlu melakukan sesuatu tindakan. Lalu apa yang tidak kita mampu untuk kita lakukan? Di saat itulah kita berharap Allah memberinya.

Artinya, kita dituntut untuk selalu berikhtiyar, berusaha dan memperjuangkan agar mampu melakukan segala amal baik, berusaha dan memperjuangkan agar mampu untuk menghindari segala keburukan dan kemaksiatan. Dalam pada itu kita mohonkan kepada Allah akan Surganya.

Sebuah ringkasan sederharna sebagai kata kunci bahwa sejumlah hal yang bisa dilakukan manusia untuk dapat meraih surga dan terhindar dari neraka; Pertama, mengenal Allah lalu mematuhinya. Kedua, mengenal setan lalu mendurhakainya. Berikutnya mengenal hak (kebenaran) lalu mengikutinya dan mengenal batil lalu menghindarinya. Keempat, mengenal dunia lalu mengeyampingkannya, dan mengenal akhirat lalu merindukannya”. Dari catatan ini menunjukkan bahwa ada beberapa yang harus kita kenal dahulu saat kita melakukan berusaha dan ikhtiyar, yakni; mengenal Allah, mengenal musuh Allah (syetan), mengenal kebenaran dan kebatilan, serta mengenal dunia dan akhirat.

Mengenal Allah SWT merupakan Ilmu Tauhid. Bahwa Allah SWT memiliki sifat sifat yang wajib kita ketahui misalnya Allah kekal, Allah itu ada, Allah itu berbeda dengan makhluk dan seterusnya, Allah SWT juga memiliki asmaul husna misalnya maha pengasih, maha penyayang, maha penerima taubat, maha lembut dll. Itulah bukti sederhana bahwa kita telah mengenal Allah SWT. Kedua, kita juga harus tahu bahwa Allah memiliki musuh yang nyata yaitu setan.

Siapakah setan itu? Bagaimana sepak terjang setan? Kita memang harus dan perlu mengenalnya. Setan disebut sebagai musuh yang nyata karena setan tak akan pernah berhenti menjerumuskan manusia kepada perbuatan maksiat, keji dan munkar. Setan puas saat manusia berbuat bejat dan durhaka, Tsumma na’udzubillah.

Berikutnya adalah “Haqun” artinya kebenaran dan “Bathil” artinya keburukan. Mengenal bahwa kebenaran/kebaikan merupakan bagian yang diperintahkan oleh Allah SWT. Mendapatkan imbalan pahala bagi manusia yang berjuang melakukan dan juga mengikutinya, misalnya; melaksanakan salat, mengeluarkan zakat, menjalankan ibadah puasa serta beribadah haji ke baitullah. Mengenal bahwa keburukan/kesesatan adalah bagian yang dilarang oleh Allah SWT serta mendapatkan imbalan siksa bagi yang nekat dan tidak mampu menghindarinya. Berbuat keji misalnya, merampok melukai orang, ghibah, menfitnah, melakukan perbuatan zina, melakukan perjudian, mabuk dll.

Adalah kelalaian, jika kita hanya mengenal kehidupan dunia saja, meremehkan untuk mengenal kehidupan akhirat. Bahwa kehidupan dunia pasti akan berakhir dan kita pasti akan digiring untuk menghadapi kehidupan di akhirat. Bahwa Dunia bersifat sementara sebagai ajang kita menanam dan menghimpun pahala, sebanyak banyaknya kita menghimpun. Bersedekah, menyambung sillaturrohim, sholat malam karna itulah Mazro’atil akhiroh. Sementara akhirat bersifat kekal sebagai ujung penghidupan kita yang terakhir. Sebagai tempat segala pembalasan apa yang telah kita perbuat saat di dunia, menghitung amal baik dan amal buruk. Di sanalah kita akan pasti dihadapkan pada Surga dan Neraka.

Pada saat amal baik kita melebihi amal buruk kita di kehidupan dunia maka disitulah kita berhak mendapatkan imbalan surga. Maka bekal kita di kehidupan akhirat hanyalah sebanyak-banyaknya pahala sebagai imbalan atas amal baik kita di dunia. Manakah yang akan kita pilih? Merindukan surga dan melupakan neraka? Ataukah kita menjerumuskan diri ke neraka dan melupakan surga. Yang terpenting adalah saat kita senantiasa muslim yang beriman dan tidak melakukan perbuatan maksiat dan kemungkaran maka kitalah yang berhak merindukan surga. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/