alexametrics
24.4 C
Probolinggo
Tuesday, 16 August 2022

Ada Aksi Asusila di Kelas, Beri Terapi Psikososial pada Siswa SD Ini

GRATI – Aksi pencabulan yang terjadi di dalam kelas saat jam pelajaran di sebuah sekolah dasar wilayah timur Kabupaten Pasuruan, jadi atensi dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPT PPA) setempat. PPT PPA berupaya agar siswa setempat dapat melupakan aksi kekerasan dan amoral tersebut.

Senin (28/1), PPT PPA melakukan terapi psikososial pada 29 siswa setempat. Terapi psikososial ini dilakukan selama satu jam. Yakni, sejak pukul 11.00. Selama satu jam, siswa diberikan layanan dukungan psikososial penguatan lingkungan sekolah.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, puluhan siswa diajak bermain sejumlah permainan edukasi psikologi. Yakni, body mapping dengan menggunakan media kertas manila dan spidol. Selanjutnya, siswa diminta berbaring di kertas manila dan menyebutkan bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh.

Selanjutnya, siswa diajak memainkan permainan edukasi ular tangga raksasa. Dalam permainan ini divisualkan sejumlah bentuk kejahatan. Siswa diminta untuk melepar dadu dan memainkan ular tangga. Lalu, mereka diminta untuk menjawab keras-keras yang harus dilakukan.

Terakhir, mereka diajak memainkan permainan konsentrasi dengan gerakan dan lagu. Siswa lantas diminta untuk mengikuti apa yang diminta, buka apa yang digerakkan. Permainan ini untuk melihat dan melatih konsentrasi siswa.

Satuan Bakti Pekerja Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) di Kabupaten Pasuruan Primadita Wulandari mengungkapkan, terapi psikososial ini untuk membantu penguatan pada siswa dalam memutuskan mata rantai kekerasan seksual. Salah satunya dengan visual cara menjaga diri.

“Permainan ini sengaja kami pilih agar siswa dapat melupakan peristiwa kekerasan tersebut. Memang kami visualkan dalam permainan, supaya mereka lebih paham bagaiman caranya menjaga diri jika ada yang berniat jahat,” jelas Dita -sapaan akrabnya-.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Pasuruan Henda Sholchah menjelaskan, pihaknya juga memberikan pendampingan pada korban, Mawar (nama samaran). Dengan mendatangkan psikolog asal Surabaya, Risa Wahyuni.

Pendampingan ini akan terus dilakukan sampai psikis dan mental korban pulih seperti sediakala. Pemkab bakal mendampingi dan mengawal Bunga jika keluarga hendak memindahkan sekolahnya. Termasuk melakukan antar-jemput ke sekolah.

Rencananya, PPT PPA juga bakal melakukan terapi pada keluarga siswa. Terapi ini mengedepankan sosialisasi hak-hak anak dan perlindungan anak. Tujuannya, agar orang tua tidak hanya menuntut, namun suara mereka juga didengar dan diarahkan.

“Dalam waktu dekat, kami juga bakal melakukan pendampingan pada keluarga siswa. Ada tiga hak yang harus mereka ketahui pada diri seorang anak. Mulai hak hidup, tumbuh kembang, dan perlindungan serta partisipasi,” jelas Henda.

Kasatreskrim Polresta Pasuruan AKP Slamet Santoso menyebut, pihaknya sudah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan dari sejumlah saksi. Mulai dari kepala sekolah (kasek), guru, korban, dan ketiga terlapor.

Hasilnya, dari pemeriksaan sejumlah saksi tersebut, pihaknya memang mendapati adanya perbuatan asusila pada korban Mawar. Rencananya, dalam waktu dekat, Satreskrim Polresta Pasuruan bakal melakukan gelar perkara.

“Kami akan tetap memproses hukum perbuatan asusila tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Tentunya dengan mengacu pada sistem peradilan anak. Insya Allah dalam waktu dekat kami bakal lakukan gelar perkara,” ungkap mantan Kapolsek Purwodadi ini.

Diketahui, siswsi kelas 4 SD di wilayah timur Kabupaten Pasuruan, dilaporkan dicabuli beberapa teman sekelasnya. Aksi pencabulan itu terjadi di dalam kelas saat jam pelajaran. (riz/rf/mie)

GRATI – Aksi pencabulan yang terjadi di dalam kelas saat jam pelajaran di sebuah sekolah dasar wilayah timur Kabupaten Pasuruan, jadi atensi dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPT PPA) setempat. PPT PPA berupaya agar siswa setempat dapat melupakan aksi kekerasan dan amoral tersebut.

Senin (28/1), PPT PPA melakukan terapi psikososial pada 29 siswa setempat. Terapi psikososial ini dilakukan selama satu jam. Yakni, sejak pukul 11.00. Selama satu jam, siswa diberikan layanan dukungan psikososial penguatan lingkungan sekolah.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, puluhan siswa diajak bermain sejumlah permainan edukasi psikologi. Yakni, body mapping dengan menggunakan media kertas manila dan spidol. Selanjutnya, siswa diminta berbaring di kertas manila dan menyebutkan bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh.

Selanjutnya, siswa diajak memainkan permainan edukasi ular tangga raksasa. Dalam permainan ini divisualkan sejumlah bentuk kejahatan. Siswa diminta untuk melepar dadu dan memainkan ular tangga. Lalu, mereka diminta untuk menjawab keras-keras yang harus dilakukan.

Terakhir, mereka diajak memainkan permainan konsentrasi dengan gerakan dan lagu. Siswa lantas diminta untuk mengikuti apa yang diminta, buka apa yang digerakkan. Permainan ini untuk melihat dan melatih konsentrasi siswa.

Satuan Bakti Pekerja Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) di Kabupaten Pasuruan Primadita Wulandari mengungkapkan, terapi psikososial ini untuk membantu penguatan pada siswa dalam memutuskan mata rantai kekerasan seksual. Salah satunya dengan visual cara menjaga diri.

“Permainan ini sengaja kami pilih agar siswa dapat melupakan peristiwa kekerasan tersebut. Memang kami visualkan dalam permainan, supaya mereka lebih paham bagaiman caranya menjaga diri jika ada yang berniat jahat,” jelas Dita -sapaan akrabnya-.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Pasuruan Henda Sholchah menjelaskan, pihaknya juga memberikan pendampingan pada korban, Mawar (nama samaran). Dengan mendatangkan psikolog asal Surabaya, Risa Wahyuni.

Pendampingan ini akan terus dilakukan sampai psikis dan mental korban pulih seperti sediakala. Pemkab bakal mendampingi dan mengawal Bunga jika keluarga hendak memindahkan sekolahnya. Termasuk melakukan antar-jemput ke sekolah.

Rencananya, PPT PPA juga bakal melakukan terapi pada keluarga siswa. Terapi ini mengedepankan sosialisasi hak-hak anak dan perlindungan anak. Tujuannya, agar orang tua tidak hanya menuntut, namun suara mereka juga didengar dan diarahkan.

“Dalam waktu dekat, kami juga bakal melakukan pendampingan pada keluarga siswa. Ada tiga hak yang harus mereka ketahui pada diri seorang anak. Mulai hak hidup, tumbuh kembang, dan perlindungan serta partisipasi,” jelas Henda.

Kasatreskrim Polresta Pasuruan AKP Slamet Santoso menyebut, pihaknya sudah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan dari sejumlah saksi. Mulai dari kepala sekolah (kasek), guru, korban, dan ketiga terlapor.

Hasilnya, dari pemeriksaan sejumlah saksi tersebut, pihaknya memang mendapati adanya perbuatan asusila pada korban Mawar. Rencananya, dalam waktu dekat, Satreskrim Polresta Pasuruan bakal melakukan gelar perkara.

“Kami akan tetap memproses hukum perbuatan asusila tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Tentunya dengan mengacu pada sistem peradilan anak. Insya Allah dalam waktu dekat kami bakal lakukan gelar perkara,” ungkap mantan Kapolsek Purwodadi ini.

Diketahui, siswsi kelas 4 SD di wilayah timur Kabupaten Pasuruan, dilaporkan dicabuli beberapa teman sekelasnya. Aksi pencabulan itu terjadi di dalam kelas saat jam pelajaran. (riz/rf/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/