Mengunjungi Pantai Permata Pilang yang Terdampak Erupsi Gunung Bromo 2010

MENCARI KERANG: Pantai Permata tidak hanya jadi jujugan wisata, namun juga jadi tempat mencari kerang warga sekitar. Erupsi Bromo membuat biota pantai seperti kerang, makin banyak. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Erupsi Gunung Bromo pada 2010 menyebabkan terjadi perubahan ekologi di Pantai Permata Pilang. Puluhan hektar kawasan hutan Mangrove berubah menjadi gumuk pasir. Dengan penghutanan kembali, kawasan itu kini menjadi pantai jujugan wisata.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Kota Probolinggo merupakan kawasan pesisir yang mempunyai garis pantai cukup pendek. Yaitu sekitar 7 km, terbentang dari Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan sampai Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan.

Seperti kawasan pantai pada umumnya, hutan Mangrove membentang di sepanjang pesisir Kota Probolinggo. Menjadi sabuk hijau pantai di kawasan pesisir.

Namun sejak 2010, hutan Mangrove di muara avour Pilang mengalami perubahan ekologi pantai. Terutama di Pantai Permata, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan.

Perubahan ekologi terjadi akibat erupsi Bromo pada 2010. Material pasir dari letusan Gunung Bromo, terbawa banjir lahar dingin hingga muara. Yaitu di DAS Pesisir dan avour Pilang, Kota Probolinggo.

Akibatnya terjadi pendangkalan sungai dan pantai di kawasan Pantai Pilang dan Ketapang, Kota Probolinggo. Termasuk pantai yang saat ini dikenal masyarakat sekitar sebagai Pantai Permata di Pilang.

Pasir hitam menutupi hutan mangrove seluas lebih dari 8 hektar di Pantai Permata. Sehingga, sebagian besar tanaman bakau di Pantai Permata pun mati secara alami. Bakau mati, karena tidak tergenang air pasang minimal 4 jam sehari. Bakau-bakau itu tertutup pasir.

Di kawasan bakau yang rusak itu, kemudian terjadi suksesi secara alami. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, hamparan mangrove jadi layaknya padang rumput dan semak.

Sebagain hutan mangrove menjadi gumuk pasir atau hamparan pasir gersang. Kemudian di sana tumbuh rumput pengikat pasir atau rumput lari-lari atau dalam bahasa Madura disebut rebba angen.

Perubahan ekologi pesisir Pilang ini dirasakan betul oleh Misnaji, Ketua Kelompok Tani Sumber Tani Pilang. Misnaji pun menggagas agar sungai Sumber Penang (avour Pilang), yaitu sungai yang bermuara di pesisir Pantai Permata Pilang itu, dibersihkan.

“Saat erupsi Bromo, terjadi banjir di sungai Sumber Penang. Namun, banjir yang terjadi tidak seperti biasa. Biasanya kalau banjir, airnya kemerah-merahan. Tapi waktu itu airnya berwarna hitam karena menggandung pasir,” ujarnya.

Misnaji pun menggagas untuk membersihkan Sumber Penang dari endapan pasir. Jika tidak, pasir ini akan terbawa arus dan masuk ke saluran irigasi.

“Kami melaporkan ke Pemkot Probolinggo saat itu. Pemkot kemudian melakukan revitalisasi sungai. Dengan dibantu banyak pihak, material pasir dari Bromo yang masuk ke sungai, diangkut menggunakan truk,” terangnya.

Selama satu tahun, truk-truk itu membersihkan pasir di saluran sungai. Akses jalan masuk truk-truk pengangkut pasir inilah yang sekarang menjadi akses masuk ke Pantai Permata Pilang, melalui Jalan Anggrek. Tepatnya sekitar 500 meter ke utara, dari perempatan Pilang.

Misnaji mengungkapkan, luasan hutan Mangrove di Pilang sekitar 30 hektar. Sementara yang terdampak erupsi Gunung Bromo hanya di bagian muara.

Selepas masa erupsi, muncul gagasan penghutanan kembali. Namun, tidak lagi menanam bakau jenis Rhizopora. Melainkan menanam Cemara Laut.

Gagasan ini muncul dari anggota Tagana Kota Probolinggo yang juga warga sekitar, Sudarno, warga Kampung Armada, Kelurahan Pilang. Dengan dukungan DLH Kota Probolinggo, Tagana dan melibatkan sekolah-sekolah, penanaman terus dilakukan.

Bahkan, sampai saat ini bersama sejumlah komunitas yagn tergabung dalam Komite Masyarakat Peduli Wisata (Komsyalita), penanaman terus dilakukan. Ini menjadi salah satu kegiatan utama pengembangan Pantai Permata jadi kawasan wisata.

Cemara laut sendiri dipilih, karena merupakan vegetasi yang sistem perakarannya mempunyai fungsi mengikat pasir. Cocok dengan kondisi Pantai Permata yang saat itu mengalami suksesi.

Hasilnya, hutan mangrove yang sempat mengalami perubahan ekologi itu kini menjadi pantai yang indah dengan mikro iklim yang baik. Bahkan, menjadi salah satu jujugan warga sekitar untuk berwisata. Terutama di sore hari.

Bahkan, erupsi Gunung Bromo saat ini memberikan manfaat positif lain. Yaitu, menyebabkan melimpahnya biota pantai. Seperti kerang, tebalan, udang, kepiting, dan yang lain.

Hal yang sama diungkapkan Budi krisyanto, Kepala DLH Kota Probolinggo. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Kota probolinggo adalah menjalin kerja sama dengan pihak swasta.

“Seperti melakukan penanaman Mangrove di Pantai Pilang. Di sana Mangrovenya rusak karena abu dari Gunung Bromo,” ujarnya.

Budi Kris –biasa disapa mengungkapkan, ada 10 hektar hutan Mangrove yang terdampak erupsi Bromo. “Menurut Informasi dari kelompok masyarakat ada 10 hektar hutan Mangrove yang rusak karena pasir Bromo,” ujarnya.

Sudarno yang juga Ketua Komsyalita berharap, Pantai Pilang bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata edukasi atau edu-wisata. “Kawasan ini bisa menjadi tempat masyarakat belajar tentang Mangrove, biota pantai, dan konservasi pantai. Bahkan, bisa jadi tempat warga sekitar mencari kerang,” katanya.

Atmari, 50, warga Kelurahan Pilang adalah salah satu yang sering mencari kerang di Pantai Permata. Menurutnya, saat ini dia biasa mencari kerang dan kepiting di Pantai Permata.

Harian ini bertemu dengan Atmari di Pantai Permata sebelah timur sungai.        Pria yang berpdofesi sebagai nelayan ini mengungkapkan, penghutana kembali Mangrove sudah dilakukan oleh Pemkot Probolinggo.

“Ada penanaman Mangrove oleh Pemkot Probolinggo. Itu di sana banyak yang ditanami,” ujarnya menunjuk beberapa tanaman Mangrove setinggi sekitar 80 cm.

Saat media ini berkunjung ke Pantai Permata, juga ada beberapa keluarga yang datang untuk mencari kerang. Beberapa pemuda juga sedang melatih burung dara.

“Sering kami ke sini. Biasanya buat cari kerang,” ujar Rico,25 warga Kelurahan Wonoasih, Kota Probolinggo.

Kerang-kerang itu tidak untuk dijual, namun untuk konsumsi sendiri. “Kadang kalau dapat banyak dibagikan ke tetangga,” ujarnya.

Rico mengaku sejak sekolah sudah mengenal Panti Permata. Termasuk kondisinya yang terdampak erupsi Bromo. “Tapi penanaman kembali sudah sering dilakukan Pemkot di sini,” ujarnya. (hn/rf)