M Husni Mubarok, Kolektor Motor Antik yang Nggak Kapok meski Sering Mogok

Bermula dari rasa penasaran dengan motor antik, M. Husni Mubarok, 41, akhirnya menjadi pehobi, sekaligus kolektor motor antik. Meski sering mogok saat dipakai, ia tak kapok berburu motor-motor antik.

————–

Sebuah motor jenis BSA, terparkir di bengkel depan rumah M. Husni Mubarok, 41, warga Cangkringmalang, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Motor buatan Inggris tahun 1951 itu sedang “ngambek”. Karena itu, harus segera diperbaiki agar bisa digunakan.

Namun, bukan hal mudah memperbaikinya. Maklum, spare part motor ini susah didapat. Jika ingin cepat, spare part harus didapat dengan cara kanibal. Yakni, mencomot spare part yang dibutuhkan dari kendaraan lain yang sesuai.

Kalaupun harus membeli spare part yang orisinil, membutuhkan dana yang tak murah. Bisa berlipat-lipat dari harga spare part nonorisinil. “Beginilah tantangan memiliki motor antik,” kata M. Husni Mubarok.

Motor langka tersebut merupakan salah satu koleksi dari Husni-sapaan M. Husni Mubarok. Ada sepuluh motor lawas lain yang dimilikinya. Sebagian ditaruh di garasinya.

Sebagian lainnya, ada yang sedang dipinjam temannya. “Total saya punya sebelas motor antik,” tambahnya.

Motor tersebut terdiri atas berbagai jenis. Selain BSA, juga ada Harley Davidson XLCH Class Iron Head, ada pula BSA Sideklep buatan Inggris tahun 1945, dan beberapa jenis lainnya.

Harganya, jangan ditanya. Meski tua, bisa sampai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Seperti Harley Davidson XLCH Class Iron Head, bisa sampai Rp 120 juta.

Hobi koleksi motor antik dimulai ketika ia merasa bosan dengan motor-motor biasa. Ia mengaku pernah punya Honda Tiger, RX King, hingga Kawasaki Ninja.

“Tapi, saya merasa bosan dengan motor-motor tersebut,” aku lelaki yang juga Ketua Motor Antique Club Indonesia (MACI) Cabang Bangil ini.

BERSAMA KELUARGA: Husni Mubarok membonceng istri dan anaknya. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Lalu pada tahun 2000, ada kerabatnya yang mampir ke rumah dengan membawa motor DKW Union. Motor buatan Jerman tahun 1955 itu, menyita perhatiannya. Sampai-sampai ia penasaran dan ingin memiliki motor tua juga.

Ketertarikannya sedikit terbayar dengan membeli Honda Dream. Harganya cukup murah, Rp 4,5 juta.

Ia mengaku, motor tersebut bukan incaran utamanya. Karena yang diinginkannya adalah motor Inggris BSA dengan akselerasi kecepatan tinggi.

“Tapi, karena tidak punya dana, akhirnya beli yang terjangkau,” ungkap suami dari Firka Yanti Husna ini.

Sejak itulah, ia rajin berburu motor-motor antik. Ada beberapa motor antik yang juga pernah dimilikinya. Seperti Matchless yang dibeli dengan harga Rp 30 juta.

Bapak empat anak ini mengaku, ada perasaan senang dan bangga ketika memiliki motor antik. Kebanggaan itu muncul ketika bisa mengendarainya tanpa masalah di jalanan.

Namun, bukan berarti memiliki motor tua tidak menyusahkan. Karena seringkali saat digunakan touring, motor mogok di jalan. “Pernah saat malam hari, mogok di jalan. Sendirian lagi. Saya minta bantuan teman,” kisahnya.

Meski begitu, ia tak kapok mengoleksi motor antik. Karena baginya, motor tua adalah investasi. Semakin lama, harganya tidaklah murah.

Untuk memiliki motor tua, kata Husni, setidaknya harus bisa mbengkel. Sebab, perawatan dan pemeliharaannya tidaklah murah. Bisa sampai dua kali lipat, bahkan lebih dari motor keluaran baru.

Onderdil atau spare part juga tidak mudah didapat. Harus melakukan “kanibal” dengan spare part kendaraan lain. Kalaupun orisinil, harus menyiapkan dana lebih.

Sebab, barangnya hanya ada di luar negeri. “Onderdilnya susah. Perawatannya pun tidak murah,” ulasnya.

Walau demikian, ia kekeh dengan hobinya. Padahal, harganya tak murah. Perawatannya juga mahal. Lalu, barang yang diincarnya, juga tidak selalu ada di Pasuruan atau Jawa Timur.

“Saya pernah berburu motor antik sampai ke Bali hingga Kalimantan,” tuturnya.

Gara-gara itu pula, ia nyaris menjadi korban penipuan. Setelah motor yang dipesan tidak kunjung dikirim. “Padahal sudah saya bayar. Akhirnya saya lacak dan untungnya ketemu,” pungkas lelaki yang hobi ziarah Wali naik motor lawas ini. (one/fun)