Lima Parpol Non Parlemen Berkoalisi di Pilwali Pasuruan 2020

PASURUAN, Radar Bromo – Hampir semua partai politik belum menentukan arah politiknya dalam Pilwali Pasuruan 2020. Namun, lima partai politik peserta Pemilu 2019 yang gagal mendudukkan kadernya di DPRD Kota Pasuruan, mulai bergerak.

Kelima partai politik ini sepakat membangun Koalisi Non Parlemen (KNOP), setelah sepekan melakukan komunikasi intensif. Yakni Partai Berkarya, Partai Perindo, PKPI, PBB, dan Partai Demokrat.

Koalisi itu dideklarasikan di sebuah rumah makan di Jalan A Yani, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Sabtu (27/7). Bergabungnya lima partai politik dalam koalisi itu tak hanya didasari persamaan nasib. Yaitu, sama-sama tak punya wakil di DPRD Kota Probolinggo.

Melainkan juga karena memiliki kesamaan visi dan perspektif dalam menyikapi situasi politik saat ini. Yaitu, menolak politik transaksional.

“Kami banyak menelan pengalaman pahit dalam beberapa Pilkada sebelumnya. Karena yang terjadi sama sekali tak mencerminkan budaya lokal. Politik transaksional mengakar kuat di tengah masyarakat kita,” kata Ketua DPC Partai Berkarya, M Roemlatif.

Meski hanya sepekan menjalin komunikasi, lima parpol itu sepakat membangun koalisi. Gerakan politik Koalisi Non Parlemen IKNOP) itu bukan semata demi kepentingan politik menjelang Pilwali 2020.

“Kami hadir untuk mengusung isu moral dalam perpolitikan di Kota Pasuruan,” kata Koordinator KNOP, Sucipto.

Dia menambahkan, KNOP ingin mengkampanyekan gerakan anti money politics. Sebab, jual beli suara dinilai merusak marwah pesta demokrasi itu sendiri.

“Sudah saatnya kontestasi politik di Kota Pasuruan ke depan diisi dengan pertarungan gagasan dan program,” imbuh Sucipto.

Karena itu, KNOP juga ingin mengajak semua elemen masyarakat untuk mewujudkan gerakan moral itu. Dengan alasan itulah, deklarasi KNOP juga menghadirkan Sekretaris MUI Kota Pasuruan, Basori Alwi. Serta kalangan akademisi seperti Ronny Winarno yang juga Rektor Universitas Merdeka Pasuruan.

“Kami sadar gerakan semacam ini akan menemui banyak tantangan. Justru inilah yang akan kami lawan. Akademisi punya peran melakukan penyadaran melalui pendidikan, begitupun tokoh agama,” sambung Roemlatif. (tom/hn)