Kasus Pengedar Pil Tewas, Polisi Fokus Periksa Permintaan Tebusan

WONOMERTO – Keluarga Nur Hasan, 18, akhirnya bisa menerima kematian DPO pengedar pil itu. Kini, Polres Probolinggo Kota (Polresta) pun fokus menyelidiki permintaan uang tebusan sebesar Rp 15 juta pada keluarga almarhum.

Rencananya, Senin (29/7), petugas akan memanggil Muis. Pria asal Pohsangit Leres, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo ini akan dimintai keterangan tentang uang tebusan tersebut.

Sebab, Muis-lah yang menyampaikan pada Busari, ayah almarhum, bahwa petugas Polresta meminta uang Rp 15 juta. Uang itu diperuntukkan menebus almarhum yang saat itu ditangkap lantaran kasus peredaran pil.

“Benar memang jika Busari pinjam uang Rp 15 juta kepada Yuyun (paman almarhum). Uang itu diberikan kepada Muis. Makanya kami akan panggil Muis untuk dimintai keterangan. Uang tersebut diberikan kepada siapa dan atas perintah siapa,” terang Kapolresta Probolinggo AKBP Alfian Nurrizal, Sabtu (27/7) siang.

Dengan demikian, lanjut Alfian, dapat diketahui muaranya. Apakah ada anggota yang terlibat dalam permintaan uang tebusan itu, atau tidak.

Alfian pun menegaskan akan bekerja secara profesional. Artinya, jika ada anggota yang terlibat, akan diberi tindakan yang tegas. Termasuk saat ini sedang dilakukan proses pemeriksaan, apakah ada prosedur yang salah atau tidak.

“Harusnya saat ditangani tim medis, anggota memberikan informasi kepada pihak keluarga. Makanya, ini kami masih lakukan pemeriksaan pada anggota. Yang jelas, kami bekerja secara profesional,” imbuhnya.

Polresta sendiri, menyampikan duka atas meninggalnya Nur Hasan. Karena itu, Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal beserta sejumlah anggota hadir dalam pemakaman Nur Hasan.

Hasan –sapaannya– dimakankan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat. Yakni, di Desa Kareng Kidul, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, Jumat (26/7) pukul 21.30.

Alfian menjelaskan, Hasan dimakamkan setelah pihak keluarga bersepakat bahwa kasus itu merupakan musibah. Mereka tidak ingin memperpanjang, dan menerima kematian Hasan karena overdosis.

“Saya menemui keluarga dan menjelaskan. Bahwa jika keluarga menginginkan otopsi, kami fasilitasi. Namun pihak keluarga ingin jenazah cepat dikubur. Mereka sepakat tidak ingin melakukan visum lagi,” terangnya.

Setelah kesepakatan itu, jenazah Hasan dibawa pulang dan langsung dimakamkan, Jumat (26/7) malam.

“Kami turut belasungkawa atas kematian almarhum dan keluarga yang ditinggalkan. Kami doakan, untuk almarhum agar diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Dan untuk keluarga korban, diberikan kekuatan menghadapi cobaan ini,” tambahnya.

Tak hanya itu. Kapolresta meminta nama lengkap Hasan kepada Polsek Wonomerto untuk membadalkan haji Hasan. Polresta juga memfasilitasi urusan tahlilan yang dilakukan di rumah duka.

“Jadi kita minta data, termasuk nama lengkapnya untuk kita badalkan haji. Kita sudah koordinasi dengan Kemenag terkait dengan hal itu,” ujar Alfian.

Selanjutnya, Holis yang ditangkap untuk dijadikan saksi, pada Jumat malam juga dipulangkan kepada keluarga. “Holis ini kan hanya saksi. Dan dia sudah dikembalikan pada pihak keluarga,” bebernya.

Sebelumnya diberitakan, Nur Hasan, 18, tewas setelah 12 jam ditangkap petugas buser Polresta. Hasan yang jadi DPO peredaran pil itu, tewas di RSUD dr Mohamad Saleh, Kota Probolinggo.

Keluarga Hasan pun tidak terima. Mereka menduga, Hasan tewas dianiaya oknum polisi. Karena itu, pihak keluarga yang diwakili Musa, 45, paman Hasan, minta agar jenazah Hasan diotopsi ulang. Selain itu, keluarga minta oknum polisi yang menganiaya agar dihukum dan diberhentikan. (rpd/hn)