Selain Sulit Didapat, Pupuk di Kab Probolinggo Juga Mahal

GENDING, Radar Bromo – Petani di Kabupaten Probolinggo kini tak hanya kesulitan untuk mencari pupuk bersubsidi. Belakangan ini saat musim tanam di awal musim hujan, petani juga harus menghadapi mahalnya harga pupuk yang ada di pasaran. Terutama pupuk non-subsidi.

Naiknya harga pupuk itu diakui Suyanto, 45, salah satu petani padi asal Kecamatan Gending. Dia mengatakan, harga di tiap jenis pupuk berkisar Rp 4 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram. Sehingga, banyak petani mengeluh sebab menurutnya harga itu terlampau mahal.

“Jumat (24/1) lalu saya beli pupuk urea untuk tanaman. Harganya itu hampir capai Rp 3.000 per kilo, sebelumnya masih di bawah itu. Selain mahal, saat ini untuk mencari pupuk itu sangat sulit,” ujarnya, Sabtu (27/1).

Hal senada juga diungkapkan Gofur, salah satu pemilik kios pupuk di Kecamatan Gending. Harga pupuk yang nonsubsidi, kata Gofur, memang naik. Kenaikan bisa sampai dua kali lipat dari harga pupuk bersubsidi.

“Harga pupuk itu tergantung kelas kualitas pupuknya. Terlebih pupuk nonsubsidi, lebih tinggi harganya. Untuk saat ini, harga pupuk ada pada Rp 4 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram pada semua jenis pupuk. Untuk pupuk dengan harga termahal di kios saya itu masih NPK yakni Rp 485 ribu per sak,” ujarnya.

Tahun ini, Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi sebesar 83.235 ton. Rinciannya, pupuk urea sebesar 43.492 ton, pupuk SP-36 sebesar 4.145 ton, pupuk ZA sebesar 20.039 ton, pupuk NPK sebesar 11.497 ton, dan pupuk organik sebesar 4.062 ton. Alokasi pupuk tahun 2020 hampir pada semua jenis pupuk mengalami penurunan hinggga 50 persen lebih.

“Untuk penurunan kuota memang sudah terjadi dari pusat dan pihak kami tidak bisa apa-apa. Hanya tunggu kebijakan berikutnya,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari melalui Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Bambang Suprayitno.

Sedangkan untuk harga sendiri, sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Probolinggo Nomor 521.3/123/426.119/2018 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian di Kabupaten Probolinggo tahun 2019, pasal 9 ayat 2. Disebutkan Bambang, bahwa HET pupuk bersubsidi ditetapkan untuk pupuk urea sebesar Rp 1.800 per kg, pupuk SP-36 sebesar Rp 2.000 per kg, pupuk ZA sebesar Rp 1.400 per kg, pupuk NPK sebesar Rp 2.300 per kg dan pupuk organik sebesar Rp 500 per kg.

“Agar cukup meringankan harga pupuk, petani bisa mengambil pupuk subsidi dari pemerintah. Tentunya harus terdaftar pada Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).

Selain itu, Bambang meminta agar memanfaatkan pupuk bersubsidi sebijak mungkin, karena kuantitasnya terbatas. Selain itu, ia berharap agar petani dapat lebih memanfaatkan bahan organik untuk menyegarkan atau memulihkan kondisi lahan, sehingga daya dukung lahan tersebut tetap terjaga.

“Pupuk organik ini sangat bermanfaat dalam mengembalikan nutrisi tanah. Fungsinya memang sangat berbeda dengan pupuk yang lain, tetapi keberadaan pupuk organik sangat mendukung sekali, dan hasilnya tidak bisa langsung dirasakan,” harapnya. (mg1/fun)