Abdul Kadir Sebut Jon Junaedi Banyak Bohongnya saat jadi Saksi di Persidangan

KRAKSAAN, Radar Bromo–  Setelah sempat mangkir dalam siding pemeriksaan saksi beberapa waktu lalu, Akhirnya ketua DPC Gerindra Kabupaten Probolinggo hadir untuk memberikan kesaksian. Dalam kesaksiannya, ia membantah semua tudingan bahwa ia terlibat dalam kasus dugaan ijazah palsu.

Ia datang dengan tiga orang saksi lain. Yaitu Dewi Korina Kepala Dinas Pendidikan setempat dan Raset yang merupakan teman akrab Jon. Mereka bertiga dimintai keterangan secara terpisah setelah disumpah.

Seperti biasa, sidang tersebut dipimpin oleh ketua majelis hakim Gatot Ardian Agustriono. Dia didampingi oleh hakim anggota Yudistira Alfian dan M Syafrudin Prawira Negara. Sidang dimulai sekitar pukul 13.00. Setelah pengambilan sumpah dilakukan, lantas satu persatu saksi kemudian dimintai keksaksiannya dalam kasus itu.

Jon Junaedi menjadi saksi kedua yang dimintai keterangannya. Dia menyebut mengenal terdakwa. Perkenalannya terhadap terdakwa mulai 2017. Itu saat salah seorang penasihat PAC Gerindra Kecamatan Besuk, membawanya ke rumahnya. Mulai saat itu, ia kenal dan berdasarkan hasil pleno partai, Abdul Kadir kemudian diangkat menjadi ketua PAC Gerindra Kecamatan Besuk.

“Dia (Abdul Kadir, Red) dibawa oleh penasihat PAC, saudara Bahral. Dia (Abdul Kadir, Red) dijadikan ketua PAC karena ketokohannya yang dikenal baik,” katanya.

Ia sendiri mengaku mengetahui, kasus yang menjerat kadernya itu dari media elektronik. Saat itu, lantas ia berupaya menyelamatkan nama baik partainya. Dengan cara menyelesaikan perkara tersebut secara kekeluargaan. Namun, uapaya tersebut gagal hingga ramai diberitakan oleh media dan berujung ke ranah hukum.

“Yang menuntut ini juga kader kami. Dia adalah Fatoni ketua PAC Kraksaan. Sudah saya fasilitasi agar tidak ramai. Itu saya lakukan dua kali dan berusaha mempertemukan. Tetapi tidak kunjung ketemu dan ramai,” katanya.

Ardian Junaidi, sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) melontarkan pertanyaan berdasarkan keterangan saksi Bahral pada sidang sebelumnya. Yaitu, ia meminta tanggapakan dari keterangan Bahral yang mengatakan jika tidak sanggup mencarikan ijazah terdakwa, maka dirinya yang akan membereskan.

“Saudara saksi saya minta untuk jujur. Pada beberapa waktu lalu, saksi atas nama Bahral mengatakan bahwa jika Bahral tidak bisa mencarikan ijazah, maka saudara yang akan membereskan. Bagaimana pendapat saudara terkait hal itu,” katanya.

Dengan tegas Jon Junaedi menjawab bahwa hal itu adalah bohong. ”Tidak benar itu,” ujarnya singkat.

Giliran penasihat hukum terdakwa yang mencecar pertanyaan terhadap Jon yaitu Amam Afif Ramadani. Pertanyaan yang dilontarkan oleh pria yang akrab disapa Rama itu juga bersumber dari kesaksian saksi pada sidang sebelumnya. Dimana saksi atas nama Markus mengatakan bahwa Jon Junaedi yang memfasilitasi. Bahkan Markus mendapatkan imbalan uang sejumlah Rp 7 juta dari Jon Junaedi untuk menyelesaikan ijazah terdakwa.

“Bagaimana pendapat anda berdasarkan keterangan dari saudara Markus yang mengatakan dia disuruh anda (Jon Junaedi, Red) untuk membuat ijazah. Dan dia mendapatkan imbalan uang sekitar Rp 7 juta,” katanya.

Lagi-lagi Jon Junaedi membantah pernyataan itu. Menurutnya, pernyataan itu tidak benar. Ia tidak pernah sama sekali terlibat dalam kasus tersebut. Dengan Markus sendiri, Jon mengaku hanya kenal. ”Tidak benar itu. Saya tidak pernah berhubungan dengan dia. Hanya kenal, itupun dalam acara pemkab dan paripurna,” terangnya.

SUMPAH DULU: Ketiga saksi saat diambil sumpahnya sebelum memberi keterangan. (Foto M Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Namun, pernyataan Jon Junaedi dalam sidang itu dibantah Abdul Kadir. Menurut Abdul Kadir, dalam keterangan yang disampaikan oleh ketua partainya itu banyak yang palsu. Diantaranya yaitu yang memfasilitasi pembuatan ijazah itu adalah Jon Junaedi. Dan dirinya sering ke rumah Jon Junaedi. Proses dirinya menjadi caleg merupakah perintah Jon.

“Banyak bohongnya keterangan dari Pak Jon Junaedi. Pak Jon itu tahu semua siapa calegnya yang menggunakan ijazah paket. Sebab, semuanya yang mengkoordinir Pak Jon. Dan yang memerintahkan saya nyaleg itu, ya Pak Jon,” katanya.

Sementara itu penasihat hukum terdakwa lainnya Hosnan Taufik menegaskan, dari tiga saksi yang dimintai keterangan, banyak bohongnya. Terutama Jon Junaedi dan juga Raset. Karena itu, kedepan pihaknya meminta majelis hakim untuk mengkonfrontir antara Bahral, Markus, Jon dan juga Raset. Sebab, kesaksian mereka saling bertentangan.

“Sudah kami ajukan. Tinggal nanti apakah disetujui oleh majlis hakim. Kami harap itu nanti disetujui,” terangnya.

Selain itu, dalam sidang yang akan datang, pihaknya juga akan menghadirkan dua orang saksi. Mereka yang akan dihadirkan adalah orang orang yang mengetahui terkait kasus tersebut.”Ada saksi yang akan kami hadirkan. Mereka semua tahu kronologis mengenai pembuatan ijazah palsu dan siapa saja aktor dibaliknya,” terangnya. (sid/fun)