alexametrics
25.2 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Santriwati yang Dicabuli Pengasuh Ponpes Dinikahi di Dalam Mobil

KRAKSAAN – Kasus AS, santriwati asal Krejengan yang dicabuli pengasuh ponpes tempatnya mondok, membuat kecewa pihak keluarga. Betapa tidak, pengasuh bernama HS yang awalnya hendak menolong AS agar bisa melanjutkan pendidikan di ponpes secara gratis, ternyata punya maksud lain.

Bahkan HS yang menjemput AS ke rumah korban, memakai cara yang aneh. Yakni, mengajak nikah siri AS, dengan alasan jika nantinya belajar bersama digelar, dia bisa berhadap-hadapan tanpa dosa.

Ternyata ajakan nikah siri tersebut adalah modus. Bahkan nikah siri itu juga sangat aneh, lantaran HS menikahinya di dalam mobil pribadinya. Nah, setelah nikah itulah, HS kemudian mengajak AS pergi hingga kemudian memberikannya pil. Hingga akhirnya AS diajak ke sebuah hotel di kawasan Pasir Putih, Situbondo.

Nah, di dalam kamar hotel itulah HS melampiaskan nafsunya. Dua kali pula. AS sempat melawan, namun dia kalah tenaga.

Pengakuan mengejutkan itu terungkap saat AS bercerita di Polres Probolinggo. “Saya sudah berhenti sebenarnya, tapi dia (HS) menawarkan sendiri untuk mengajari langsung. Saya pikir diajari belajar kitab,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo Minggu (26/8).

Hingga akhirnya, Sabtu pagi lalu (25/8), AS dijemput HS di rumahnya dengan menggunakan mobil. HS dan AS lalu menuju ke toko usaha ayahnya yang ada di Kota Kraksaan. Nah saat itu, orang tua AS dipanggil HS ke mobil. Saat itu HS mengaku mau menikahi AS, secara siri.

Alasan pernikahan siri itu, supaya saat AS belajar langsung dan berhadapan dengan HS, tidak dosa. Bahkan, HS akan memberikan mahar mas kawin. Hingga akhirnya, nikah siri pun berlangsung di dalam mobil itu juga.

“Pikiran saya waktu itu dari awal tidak ada rasa curiga. Karena menganggap dia (HS) adalah kiai pengasuh saya. Nikah siri yang disampaikan (HS), saya pikir hanya hubungan guru dengan murid,” ungkapnya.

Setelah nikah siri itu, kata AS, dirinya diajak pergi naik mobil. Dipikirnya hendak diajak untuk belajar kitab. Namun, ternyata dirinya diajak pergi jauh, entah kemana. Dirinya sempat melihat penunjuk arah. Ternyata perjalanan mereka menuju Situbondo.

Hingga akhirnya berhenti di hotel di wilayah Pasir Putih Situbondo. Lagi- lagi, dirinya tidak curiga karena menganggap HS adalah pengasuhnya.

“Ternyata saya diajak ke kamar di hotel dan kuncinya diambil. Di dalam kamar itu, saya disuruh melayani. Karena sudah nikah siri, dia (HS) bilang saya halal dan harus melayani. Saya takut dan tidak bisa berbuat apa,” ungkapnya.

Setelah sekali dipaksa melayani HS, masih kata AS, dirinya pun keluar dari hotel. Selang beberapa jam kemudian, AS mengaku, kembali diajak ke kamar yang sama. Tiba-tiba saat masuk ke kamar, dirinya langsung diputar dan didorong ke tempat tidur dan diminta melayani HS untuk berhubungan layaknya suami-istri.

“Saya sudah berusaha berontak dan melawan. Tapi, saya menendang tidak bisa dan kejadian itu terulang,” tambahnya.

Hingga akhirnya dirinya pun diantar pulang kembali sekitar pukul 18.00 tiba di toko orang tuanya di Makam Pahlawan Kota Kraksaan. Dalam perjalanan pulang, HS sempat meminta untuk tidak menceritakan kejadian di kamar hotel itu ke orang lain. Termasuk orang tuanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, AS mengaku diperkosa HS yang tak lain pengasuh di tempatnya mondok di Krejengan. Sebelum diperkosa, AS sempat berniat mengundurkan diri lantaran alasan tak punya biaya. Namun HS mencegahnya, dan mengaku akan menolongnya untuk urusan pendidikan.

Tapi ternyata itu semua hanya modus. Sabtu (25/8) siang lalu, AS dijemput HS di rumahnya. Saat dijemput, HS juga menemui orangtua AS dan menyatakan, hendak menikahi sang anak secara siri. Nikah siri itu hanya untuk syarat agar saat HS mengajar AS, keduanya yang berbeda kelamin, tak dianggap nonmuhrim. Usai nikah siri itu, AS diajak HS ke sebuah hotel di Pasir Putih di Situbondo. Di hotel itulah AS diperkosa dua kali. (mas/fun)

KRAKSAAN – Kasus AS, santriwati asal Krejengan yang dicabuli pengasuh ponpes tempatnya mondok, membuat kecewa pihak keluarga. Betapa tidak, pengasuh bernama HS yang awalnya hendak menolong AS agar bisa melanjutkan pendidikan di ponpes secara gratis, ternyata punya maksud lain.

Bahkan HS yang menjemput AS ke rumah korban, memakai cara yang aneh. Yakni, mengajak nikah siri AS, dengan alasan jika nantinya belajar bersama digelar, dia bisa berhadap-hadapan tanpa dosa.

Ternyata ajakan nikah siri tersebut adalah modus. Bahkan nikah siri itu juga sangat aneh, lantaran HS menikahinya di dalam mobil pribadinya. Nah, setelah nikah itulah, HS kemudian mengajak AS pergi hingga kemudian memberikannya pil. Hingga akhirnya AS diajak ke sebuah hotel di kawasan Pasir Putih, Situbondo.

Nah, di dalam kamar hotel itulah HS melampiaskan nafsunya. Dua kali pula. AS sempat melawan, namun dia kalah tenaga.

Pengakuan mengejutkan itu terungkap saat AS bercerita di Polres Probolinggo. “Saya sudah berhenti sebenarnya, tapi dia (HS) menawarkan sendiri untuk mengajari langsung. Saya pikir diajari belajar kitab,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo Minggu (26/8).

Hingga akhirnya, Sabtu pagi lalu (25/8), AS dijemput HS di rumahnya dengan menggunakan mobil. HS dan AS lalu menuju ke toko usaha ayahnya yang ada di Kota Kraksaan. Nah saat itu, orang tua AS dipanggil HS ke mobil. Saat itu HS mengaku mau menikahi AS, secara siri.

Alasan pernikahan siri itu, supaya saat AS belajar langsung dan berhadapan dengan HS, tidak dosa. Bahkan, HS akan memberikan mahar mas kawin. Hingga akhirnya, nikah siri pun berlangsung di dalam mobil itu juga.

“Pikiran saya waktu itu dari awal tidak ada rasa curiga. Karena menganggap dia (HS) adalah kiai pengasuh saya. Nikah siri yang disampaikan (HS), saya pikir hanya hubungan guru dengan murid,” ungkapnya.

Setelah nikah siri itu, kata AS, dirinya diajak pergi naik mobil. Dipikirnya hendak diajak untuk belajar kitab. Namun, ternyata dirinya diajak pergi jauh, entah kemana. Dirinya sempat melihat penunjuk arah. Ternyata perjalanan mereka menuju Situbondo.

Hingga akhirnya berhenti di hotel di wilayah Pasir Putih Situbondo. Lagi- lagi, dirinya tidak curiga karena menganggap HS adalah pengasuhnya.

“Ternyata saya diajak ke kamar di hotel dan kuncinya diambil. Di dalam kamar itu, saya disuruh melayani. Karena sudah nikah siri, dia (HS) bilang saya halal dan harus melayani. Saya takut dan tidak bisa berbuat apa,” ungkapnya.

Setelah sekali dipaksa melayani HS, masih kata AS, dirinya pun keluar dari hotel. Selang beberapa jam kemudian, AS mengaku, kembali diajak ke kamar yang sama. Tiba-tiba saat masuk ke kamar, dirinya langsung diputar dan didorong ke tempat tidur dan diminta melayani HS untuk berhubungan layaknya suami-istri.

“Saya sudah berusaha berontak dan melawan. Tapi, saya menendang tidak bisa dan kejadian itu terulang,” tambahnya.

Hingga akhirnya dirinya pun diantar pulang kembali sekitar pukul 18.00 tiba di toko orang tuanya di Makam Pahlawan Kota Kraksaan. Dalam perjalanan pulang, HS sempat meminta untuk tidak menceritakan kejadian di kamar hotel itu ke orang lain. Termasuk orang tuanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, AS mengaku diperkosa HS yang tak lain pengasuh di tempatnya mondok di Krejengan. Sebelum diperkosa, AS sempat berniat mengundurkan diri lantaran alasan tak punya biaya. Namun HS mencegahnya, dan mengaku akan menolongnya untuk urusan pendidikan.

Tapi ternyata itu semua hanya modus. Sabtu (25/8) siang lalu, AS dijemput HS di rumahnya. Saat dijemput, HS juga menemui orangtua AS dan menyatakan, hendak menikahi sang anak secara siri. Nikah siri itu hanya untuk syarat agar saat HS mengajar AS, keduanya yang berbeda kelamin, tak dianggap nonmuhrim. Usai nikah siri itu, AS diajak HS ke sebuah hotel di Pasir Putih di Situbondo. Di hotel itulah AS diperkosa dua kali. (mas/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/