Polisi: Pemuda Grati yang Trek-trekan di Makam Tak Ditahan, Tapi Wajib Lapor

GRATI, Radar Bromo – ZA dan HM kini bisa sedikit bernapas lega. Sebab, aksi trek-trekan yang dilakukannya di area makam desa yang viral di media sosial (medsos), tak dibawa ke ranah hukum. Polisi memastikan kasus itu telah selesai dengan ungkapan permintaan maaf dari dua pemuda yang masih berusia 18 tahun itu.

Kapolsek Grati AKP Suyitno menyampaikan, kasus itu telah diselesaikan oleh jajaran pemerintah desa, tokoh agama, masyarakat, dengan melibatkan Muspika Grati. Sebelumnya, ZA dan HM memang sempat dimintai keterangan di Mapolsek Grati. Selain mereka, polisi juga mengamankan FW dan UF.

MINTA MAAF: Usai videonya viral, mereka meminta maaf. (Foto repro)

Sebab, dua pemuda itu juga dinilai berperan dalam aksi trek-trekan hingga viral di media sosial. FW merupakan pemuda yang merekam aksi dua temannya di makam. Sedangkan UF orang yang pertama kali menyebarkan video itu hingga memicu tanggapan negatif dari warganet.

Empat pemuda itu juga telah dipulangkan sejak Kamis (25/7) siang. Selama berada di Mapolsek Grati, mereka didampingi keluarganya masing-masing. “Sudah selesai, tidak berkelanjutan ke ranah hukum. Mereka hanya perlu pembinaan saja, makanya sudah kami minta untuk meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat luas,” kata Suyitno.

Perwira polisi dengan tiga setrip di bahunya itu menilai, ungkapan permintaan maaf itu telah diedarkan pula di media sosial. Dengan begitu, kata Suyitno, permintaan maaf itu diharapkan dapat diterima oleh masyarakat.

Di samping itu, perbuatan empat pemuda itu juga belum memenuhi unsur pidana jika dilanjutkan ke ranah hukum. Kecuali, aksi trek-trekan yang dilakukan mengakibatkan rusaknya makam yang dilintasi motor.

“Ini sudah cukup menjadi sanksi sosial karena yang mereka lakukan itu bertentangan dengan etika dan norma agama. Kami harap masyarakat juga memahami ini, sehingga situasi di desa kembali kondusif,” ungkap Suyitno.

Kendati demikian, polisi tetap mengharuskan keempat pemuda itu untuk wajib lapor. Menurut Suyitno, melalui wajib lapor itulah pihaknya dapat membina mereka agar tak mengulangi perbuatannya.

“Dikenai wajib lapor dua pekan sekali. Sesuai aturan yang ada, wajib lapor selama tiga bulan. Ini, bagian dari upaya pembinaan itu,” katanya.

Sementara, Ketua PC NU Kabupaten Pasuruan KH Imron Mutamakkin mengapresiasi kinerja kepolisian dalam mengusut identitas para pemuda yang terlibat dalam video itu. Sehingga keresahan masyarakat pasca beredarnya video itu sedikit reda.

“Kami juga sangat menyesalkan perilaku semacam ini. Kita ini diajarkan untuk saling menghargai dengan sesama, tidak hanya kepada yang masih hidup, melainkan juga kepada yang sudah mati. Walaupun tinggal jasad di kuburan tetap harus dihargai,” ungkapnya.

PC NU juga berharap hal tersebut tak terulang kembali. Karena itu, pihaknya meminta agar masyarakat juga lebih peka terhadap kondisi yang terjadi di lingkungannya. Terutama peranan orang tua dalam mengawasi aktivitas anak-anaknya.

“Hikmahnya, agar kita sama-sama lebih waspada lagi dalam mengawasi anak-anak kita yang baru beranjak dewasa. Kita harus lebih gigih lagi dalam mengawasi perilaku anak-anak kita agar tetap berpegang pada norma-norma,” jelas dia. (tom/mie)