Mobil Terbakar yang Tewaskan 2 Balita di Pandaan Pintunya Rusak

PANDAAN, Radar Bromo – Rifki Fadian Dwi Andri, 33, tidak menyangka sedan Daihatsu Charade nopol N 1274 CV miliknya terbakar saat ditinggal berlebaran. Dia dan istrinya, Ira, makin kaget saat tahu kebakaran itu membawa korban.

Dua balita anak tetangga mereka, meninggal di dalam sedan saat sedan terbakar. Yaitu, Aidan Gilang Maulana, 4, dan Khadeeja Firdauzi Azzahra, 4. Apalagi, dalam ingatannya, selama ini kedua korban tidak pernah bermain di dalam sedan itu. Kalaupun bermain, paling hanya duduk di kap sedan.

Rifki sendiri saat peristiwa memilukan itu terjadi, sedang tidak di rumah. Dia silaturrahmi ke rumah kerabatnya di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji. Tidak sendirian, Rifki ke Gununggangsir bersama istri dan anaknya, Rafa, 5.

Mereka berangkat berboncengan naik motor. Sementara sedan ditinggal di rumah, diparkir di garasi.  “Saya tidak tahu kebakaran itu. Saat itu saya berada di Gununggangsir bersama istri dan anak. Saya tahu sedan saya terbakar setelah ditelepon tetangga. Saya juga dikasih tahu, ada dua anak meninggal di mobil. Begitu tahu, saya langsung pulang,” terang Rifki.

Dijelaskan Rifki, pintu mobil memang tidak dikunci saat ditinggal pergi. Bukannya disengaja, pintu mobil dalam kondisi rusak karena itu tidak bisa dikunci. Rifki hanya menutup semua kaca mobil.

 

Baca Juga: Dua Balita di Pandaan Tewas di Mobil Tetangga yang Terbakar

 

Namun, selama ini mobil tersebut dipakai. Bahkan, mobil itu baru ganti nopol lima tahunan. Namun, dia belum mengganti nopol yang baru. Yang terpasang masih nopol lama.

Aidan dan Deeja –panggilan Khadeeja-, selama ini memang akrab dengan Rafa, putranya. Mereka kerap bermain bersama. Maklum, rumah ketiganya memang berdekatan.

Rumah orang tua korban Aidan dan TKP atau rumah orang tua Rafa, berada satu deret. Hanya dipisahkan sebuah lahan kosong dengan panjang sekitar 10 meter.

Sementara rumah orang tua korban Deeja, berhadapan dengan rumah orang tua korban Aidan. Namun, tidak berhadapan persis. Selisih satu rumah.

“Rafa, anak saya dengan Aidan dan Deeja selama ini memang sering bermain bareng. Bergantian mereka mainnya. Kadang main ke rumah saya, kadang ke rumah Aidan dan Deeja,” tuturnya.

Namun, menurutnya, selama ini kedua korban tidak pernah main ke dalam mobil. Biasanya mereka main di dalam rumah atau di teras. “Dak pernah mereka main sampai masuk ke mobil. Paling banter duduk di kap mobil,” ujarnya dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca menahan tangis.

Kades Nogosari Iswahyudi menambahkan, korban memang warganya. Mereka tinggal di kaplingan baru, Dusun Nampes. Warga sekitar menyebutnya Nampes Cilik.

Disebut Nampes Cilik, karena tempat tinggal mereka memang masih baru. Awalnya sawah, kini jadi kaplingan. Ada sekitar 10 kepala keluarga (KK) yang tinggal di Nampes Cilik. Semuanya pendatang.  Termasuk orang tua kedua korban dan orang tua Rafa.

Mereka baru sekitar setahun tinggal di kaplingan baru itu. Orang tua korban Aidan Gilang Maulana, yaitu pasutri M. Feri Maulana dan Devi Azizatul Choiroh, berasal dari Malang.

Lalu, Iin Munawaroh, ibu dari korban Khadeeja Firdauzi Azzahra, berasal dari Trenggalek. Sementara ayah korban, Erlangga Eka Prasetya Agus, berasal dari Kejapanan, Gempol, Kabupaten Pasuruan. (zal/hn)