alexametrics
26.7 C
Probolinggo
Sunday, 26 June 2022

Menghirup Asap Rokok atau Vape Tak Membatalkan Puasa

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ketika kita berpuasa, kemudian dengan sengaja atau tidak sengaja menghirup asap rokok atau vape dari orang yang tidak berpuasa, apa dapat membatalkan puasa?

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

ARMAN, Purworejo, Pasuruan


Waalaikum Salam Wr. Wb.

ROKOK dan puasa sudah menjadi bahasan para ulama sejak dahulu. Sebelumnya, kita perjelas dulu hukum merokok itu sendiri kaitannya dengan puasa. Karena, dari sana produk hukum perokok pasif akan muncul.

Merokok dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah syurbu addukhan. Secara bahasa artinya minum atau mengisap asap. Mengingat istilah merokok secara adat disebut asy-syurbu, serta perilaku yang tampak itu mengisap, maka dengan berpegang pada makna ini, para ulama berpendapat bahwa merokok dan sejenisnya seperti vape atau sisha itu membatalkan puasa.

Imam Nawawi Al-Banteni menyebutkan; “Termasuk membatalkan puasa yaitu sampainya suatu benda ke tenggorokan dari lubang yang terbuka secara sengaja dan mengetahui keharamannya seperti mengisap asap (yang dikenal sebagai rokok).” (Nihayatuz Zain fi Irsyadul Mubtadiin, Beirut: Darul Fikr, juz 1, halaman 187).

Sementara orang yang terpapar asap rokok (perokok pasif), maka puasanya tidak batal. Batalnya puasa hanya berlaku bagi perokok. Karena yang melakukan aktivitas syurbu addukhan adalah si perokok. Orang di sekitarnya hanya menghirup asap dari orang yang merokok, bahkan kebanyakan tanpa kesengajaan.

Di dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin hal 111-112 disebutkan, masuknya angin atau asap dupa misalnya, ke indera penciuman atau mulut, itu tidak membatalkan puasa. Termasuk juga yang tidak membatalkan puasa adalah masuknya uap atau aroma makanan ke indera penciuman. Ingat, aroma makanannya saja, bukan makanannya.

Jadi, bagi orang-orang yang berpuasa dan biasa terpapar asap rokok atau asap kendaraan dan asap-asap yang lain, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena puasa mereka tetap sah. Wallahu a’lam bishhowab. (*)

 

Nun Hassan Ahsan Malik, M.Pd.

Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong. Wakil Sekretaris Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur. Alumnus Rushaifah, Makkah, asuhan Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Al Maliki.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ketika kita berpuasa, kemudian dengan sengaja atau tidak sengaja menghirup asap rokok atau vape dari orang yang tidak berpuasa, apa dapat membatalkan puasa?

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

ARMAN, Purworejo, Pasuruan


Waalaikum Salam Wr. Wb.

ROKOK dan puasa sudah menjadi bahasan para ulama sejak dahulu. Sebelumnya, kita perjelas dulu hukum merokok itu sendiri kaitannya dengan puasa. Karena, dari sana produk hukum perokok pasif akan muncul.

Merokok dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah syurbu addukhan. Secara bahasa artinya minum atau mengisap asap. Mengingat istilah merokok secara adat disebut asy-syurbu, serta perilaku yang tampak itu mengisap, maka dengan berpegang pada makna ini, para ulama berpendapat bahwa merokok dan sejenisnya seperti vape atau sisha itu membatalkan puasa.

Imam Nawawi Al-Banteni menyebutkan; “Termasuk membatalkan puasa yaitu sampainya suatu benda ke tenggorokan dari lubang yang terbuka secara sengaja dan mengetahui keharamannya seperti mengisap asap (yang dikenal sebagai rokok).” (Nihayatuz Zain fi Irsyadul Mubtadiin, Beirut: Darul Fikr, juz 1, halaman 187).

Sementara orang yang terpapar asap rokok (perokok pasif), maka puasanya tidak batal. Batalnya puasa hanya berlaku bagi perokok. Karena yang melakukan aktivitas syurbu addukhan adalah si perokok. Orang di sekitarnya hanya menghirup asap dari orang yang merokok, bahkan kebanyakan tanpa kesengajaan.

Di dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin hal 111-112 disebutkan, masuknya angin atau asap dupa misalnya, ke indera penciuman atau mulut, itu tidak membatalkan puasa. Termasuk juga yang tidak membatalkan puasa adalah masuknya uap atau aroma makanan ke indera penciuman. Ingat, aroma makanannya saja, bukan makanannya.

Jadi, bagi orang-orang yang berpuasa dan biasa terpapar asap rokok atau asap kendaraan dan asap-asap yang lain, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena puasa mereka tetap sah. Wallahu a’lam bishhowab. (*)

 

Nun Hassan Ahsan Malik, M.Pd.

Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong. Wakil Sekretaris Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur. Alumnus Rushaifah, Makkah, asuhan Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Al Maliki.

MOST READ

BERITA TERBARU

/