alexametrics
31.7 C
Probolinggo
Saturday, 13 August 2022

Dari Januari-April, Terjadi 69 Kasus DBD di Kab Pasuruan

BANGIL, Radar Bromo – Ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) saat penghujan tidak boleh disepelekan. Buktinya, rentetan kasus yang disebabkan nyamuk aedes aegypti ini terus bermunculan.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit di Dinkes Kabupaten Pasuruan, Agus Eko Iswahyudi menjelaskan, kasus demi kasus DBD bermunculan di awal tahun 2020. Pada Januari 2020, ada 20 kasus DBD.

Angka itu menurun di bulan berikutnya, sebanyak 19 pada Februari. Namun, kembali menanjak di bulan Maret, sebanyak 21 kasus. “Total sampai dengan pertengahan April, ada temuan 69 kasus DBD,” jelas Agus-sapaannya.

Agus menambahkan, musim penghujan memang berdampak terhadap tingginya kasus DBD. Karena munculnya genangan air, bisa memicu nyamuk berkembang biak. Sehingga, risiko penyebaran DBD semakin meningkat.

“Kami terus mendorong masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Sehingga, ancaman DBD ini bisa dihindari,” sampainya.

Meski begitu, kasus kematian imbas DBD, tahun ini tidak sampai terjadi. Padahal, kematian imbas DBD selalu mengintai setiap tahunnya.

Pada tahun 2016 misalnya,, ada 764 kasus DBD dengan angka kematian mencapai 27 orang. Jumlah itu menurun pada 2017. Saat itu, ada 313 kasus DBD dengan jumlah kematian 13 orang.

Tingginya kasus DBD itu, membuat Kabupaten Pasuruan berstatus KLB. Hingga pada 2018, kasus DBD berhasil ditekan. Ada 191 kasus dengan kematian 4 orang.

Lalu pada 2019, kasus DBD berkurang lagi. Dengan jumlah 190 kasus dan kematian terjadi pada dua orang. Sementara hingga pertengahan April 2020, ada 69 kasus dengan angka kematian nol.

“Peran petugas kesehatan, kader dan masyarakat menjadi faktor menurunnya angka kasus DBD. Penerapan gemasdarling atau gerakan masyarakat sadar lingkungan, memberi arti penting dalam meminimalisir kasus DBD ataupun kasus kematian imbas DBD,” tutup dia. (one/hn/fun)

BANGIL, Radar Bromo – Ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) saat penghujan tidak boleh disepelekan. Buktinya, rentetan kasus yang disebabkan nyamuk aedes aegypti ini terus bermunculan.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit di Dinkes Kabupaten Pasuruan, Agus Eko Iswahyudi menjelaskan, kasus demi kasus DBD bermunculan di awal tahun 2020. Pada Januari 2020, ada 20 kasus DBD.

Angka itu menurun di bulan berikutnya, sebanyak 19 pada Februari. Namun, kembali menanjak di bulan Maret, sebanyak 21 kasus. “Total sampai dengan pertengahan April, ada temuan 69 kasus DBD,” jelas Agus-sapaannya.

Agus menambahkan, musim penghujan memang berdampak terhadap tingginya kasus DBD. Karena munculnya genangan air, bisa memicu nyamuk berkembang biak. Sehingga, risiko penyebaran DBD semakin meningkat.

“Kami terus mendorong masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Sehingga, ancaman DBD ini bisa dihindari,” sampainya.

Meski begitu, kasus kematian imbas DBD, tahun ini tidak sampai terjadi. Padahal, kematian imbas DBD selalu mengintai setiap tahunnya.

Pada tahun 2016 misalnya,, ada 764 kasus DBD dengan angka kematian mencapai 27 orang. Jumlah itu menurun pada 2017. Saat itu, ada 313 kasus DBD dengan jumlah kematian 13 orang.

Tingginya kasus DBD itu, membuat Kabupaten Pasuruan berstatus KLB. Hingga pada 2018, kasus DBD berhasil ditekan. Ada 191 kasus dengan kematian 4 orang.

Lalu pada 2019, kasus DBD berkurang lagi. Dengan jumlah 190 kasus dan kematian terjadi pada dua orang. Sementara hingga pertengahan April 2020, ada 69 kasus dengan angka kematian nol.

“Peran petugas kesehatan, kader dan masyarakat menjadi faktor menurunnya angka kasus DBD. Penerapan gemasdarling atau gerakan masyarakat sadar lingkungan, memberi arti penting dalam meminimalisir kasus DBD ataupun kasus kematian imbas DBD,” tutup dia. (one/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/