alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Matahari Berada di Sekitar Khatulistiwa jadi Penyebab Panasnya Suhu Udara

KEDOPOK, Radar Bromo – Belakangan ini suhu udara sangat panas. Penyebabnya, karena matahari berada di sekitar garis Khatulistiwa. BPBD Kota Probolinggo pun mengimbau warga banyak minum air putih agar tidak dehidrasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Prijo Djatmiko menjelaskan, selama ini kemarau panjang dinilai menjadi salah satu penyebab cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini. Namun, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bukan itu penyebabnya.

Melalui akun twitter resminya, BMKG menyebut, suhu panas di selatan Khatulistiwa erat kaitannya dengan gerak semu matahari. “Menurut BMKG pada September, matahari berada di sekitar wilayah Khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan hingga Desember mendatang,” bebernya.

Selain itu, atmosfir di Indonesia bagian selatan selama dua hari ini, menurut BMKG, juga relatif kering. Sehingga menghambat pembentukan awan untuk menghalangi panas matahari.

Dengan demikian, pada bulan Oktober ini posisi semu matahari akan berada di sekitar Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan beberapa wilayah lain di Indonesia bagian selatan. Kondisi ini menyebabkan adanya radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi pada wilayah tersebut menjadi lebih banyak. Sehingga, meningkatkan suhu udara pada siang hari.

Bahkan, BMKG tiga stasiun pengamatan di Sulawesi mencatat suhu maksimal tertinggi pada 20 Oktober. Tiga stasiun tersebut adalah Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) mencatat suhu 38.8 Celsius, Stasiun Klimatologi Maros mencatat 38.3 Celsius, dan Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera mencatat 37.8 Celsius.

“Menurut BMKG, ketiga daerah tersebut, suhu udara itu adalah yang tertinggi atau terpanas selama satu tahun terakhir,” beber Prijo

Sementara suhu udara yang tercatat di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara pada periode 19-20 Oktober berkisar antara 35 hingga 36,5 Celsius. Namun, menurut BMKG gerak semu matahari ini merupakan siklus biasa yang terjadi setiap tahun. Sehingga, potensi suhu udara panas seperti ini juga bisa berulang pada periode sama setiap tahunnya.

“Hasil dari pantauan BMKG mengatakan, kondisi dan potensi suhu terik ini masih akan berlanjut sekitar satu minggu ke depan. Sebab, potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari masih kecil pertumbuhannya,” tambahnya.

Karena itu, Prijo mengimbau agar warga lebih banyak mengonsumsi air putih. Sehingga, tidak mengalami dehidrasi. Selain itu, warga yang akan keluar ruangan lebih baik menggunakan pakaian yang melindungi kulit.

“Kami imbau agar warga Kota Probolinggo banyak minum air putih agar tidak dehidrasi. Juga gunakan pakaian pengaman kulit, seperti jaket agar tidak terkena terik matahari secara langsung,” pungkasnya. (rpd/hn/fun)

KEDOPOK, Radar Bromo – Belakangan ini suhu udara sangat panas. Penyebabnya, karena matahari berada di sekitar garis Khatulistiwa. BPBD Kota Probolinggo pun mengimbau warga banyak minum air putih agar tidak dehidrasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Prijo Djatmiko menjelaskan, selama ini kemarau panjang dinilai menjadi salah satu penyebab cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini. Namun, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bukan itu penyebabnya.

Melalui akun twitter resminya, BMKG menyebut, suhu panas di selatan Khatulistiwa erat kaitannya dengan gerak semu matahari. “Menurut BMKG pada September, matahari berada di sekitar wilayah Khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan hingga Desember mendatang,” bebernya.

Selain itu, atmosfir di Indonesia bagian selatan selama dua hari ini, menurut BMKG, juga relatif kering. Sehingga menghambat pembentukan awan untuk menghalangi panas matahari.

Dengan demikian, pada bulan Oktober ini posisi semu matahari akan berada di sekitar Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan beberapa wilayah lain di Indonesia bagian selatan. Kondisi ini menyebabkan adanya radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi pada wilayah tersebut menjadi lebih banyak. Sehingga, meningkatkan suhu udara pada siang hari.

Bahkan, BMKG tiga stasiun pengamatan di Sulawesi mencatat suhu maksimal tertinggi pada 20 Oktober. Tiga stasiun tersebut adalah Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) mencatat suhu 38.8 Celsius, Stasiun Klimatologi Maros mencatat 38.3 Celsius, dan Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera mencatat 37.8 Celsius.

“Menurut BMKG, ketiga daerah tersebut, suhu udara itu adalah yang tertinggi atau terpanas selama satu tahun terakhir,” beber Prijo

Sementara suhu udara yang tercatat di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara pada periode 19-20 Oktober berkisar antara 35 hingga 36,5 Celsius. Namun, menurut BMKG gerak semu matahari ini merupakan siklus biasa yang terjadi setiap tahun. Sehingga, potensi suhu udara panas seperti ini juga bisa berulang pada periode sama setiap tahunnya.

“Hasil dari pantauan BMKG mengatakan, kondisi dan potensi suhu terik ini masih akan berlanjut sekitar satu minggu ke depan. Sebab, potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari masih kecil pertumbuhannya,” tambahnya.

Karena itu, Prijo mengimbau agar warga lebih banyak mengonsumsi air putih. Sehingga, tidak mengalami dehidrasi. Selain itu, warga yang akan keluar ruangan lebih baik menggunakan pakaian yang melindungi kulit.

“Kami imbau agar warga Kota Probolinggo banyak minum air putih agar tidak dehidrasi. Juga gunakan pakaian pengaman kulit, seperti jaket agar tidak terkena terik matahari secara langsung,” pungkasnya. (rpd/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/