Protokol Akad Nikah Cegah Korona: Pakai Masker-Sarung Tangan

MAYANGAN, Radar Bromo – Adanya larangan berkerumun juga jadi perhatian Kemenag Kota Probolinggo. Kemenag pun meminta semua pasangan yang menikah, tak menggelar resepsi pernikahan dulu.

Di Kota Probolinggo, tercatat ada puluhan pernikahan yang sudah terdaftar di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Semua rencana pernikahan yang sudah teregister, tidak boleh dibatalkan. Akad nikah tetap dilakukan, namun dengan protokol khusus.

Di antaranya, prosesi akad nikah tidak boleh dihadiri oleh lebih dari 10 orang. Meski akad nikah diperbolehkan, namun semua resepsi pernikahan dilarang atau ditunda pelaksanaannya.

“Jadi, resepsinya harus ditunda dua hingga tiga bulan mendatang, setelah pandemi korona berakhir,” terang Humas Kemenag Kota Probolinggo, Arifurrahman Rabu (25/3) siang.

Saat akad nikah pun, lanjut Arif, protokol dari Kemenkes harus dilakukan. Seperti menjaga jarak dan menggunakan masker. Jika akad nikah dilakukan di KUA, maka yang boleh masuk ketika akad nikah hanya calon pengantin (catin) dan saksi.

“Untuk akad nikah yang dilakukan di luar KUA, maka mudin meminta surat tugas ke Kemenag serta melakukan protokol sesuai dengan SOP Kemenkes,” lanjutnya.

Di Kota Probolinggo sendiri, ada puluhan pasang catin yang suda teregister menggelar akad nikah. Di KUA Kecamatan Kanigaran, bulan Maret ada 44 pasang dan April ada 30 pasang.

“Untuk bulan Maret, akad nikah yang digelar di KUA ada 20 pasang dan sisanya, yakni 24 pasang nikah di luar kantor. Sementara untuk April, dari 30 pasang, 13 pasang menikah di KUA dan 17 sisanya akad nikah di luar KUA,” terang Kepala KUA Kecamatan Kanigaran Arifin Budianto.

Sementara di KUA Kecamatan Kademangan, terhitung mulai 25 Maret hingga 31 Maret ada 11 pasang catin yang akan menikah. “Data bulan April saya dak hafal. Yang jelas, akad nikah tetap bisa dilakukan bagi catin yang sudah terdaftar,” tutur Kepala KUA Kecamatan Kademangan Kusnanda.

Hal selaras diungkapkan Kepala KUA Kecamatan Wonoasih Anwar Sadad. Menurutnya, terhitung mulai 20 Maret hingga akhir Maret, ada 10 catin yang sudah terdaftar. Kemudian untuk Kecamatan Kedopok, pada 26 Maret hingga akhir Maret, ada empat pernikahan yang sudah terjadwal.

“Tetap kami laksanakan dan hadiri sesuai SE dari Menag. Tentunya dengan SOP dari Bimas Islam tentang pencegahan penularan Covid-19,” beber Yusron Siswanto, kepala KUA Kecamatan Kedopok.

 

Penerapan di Pasuruan

Sementara itu, di Kemenag Kabupaten Pasuruan, sampai kemarin (25/3) belum ada laporan dari KUA tentang pembatalan atau penundaan akad nikah. Yang jelas, Kemenag sudah memiliki protokol agar prosesi akad nikah berlangsung aman.

Fausi, kasubag TU Kemenag Kabupaten Pasuruan dan Plt Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam mengatakan, sudah ada edaran dari Kemenag Pusat tentang protokol penanganan Covid-19 pada area publik. Sehingga, akad nikah harus mengacu pada protokol itu.

“Untuk pembatalan atau penundaan akad nikah, belum ada laporan dari KUA-KUA. Sejauh ini, akad nikah tetap dilayani di kantor KUA ataupun di luar KUA,” terangnya.

Prosesi akad nikah di KUA pun tetap gratis. Dan jika mendatangkan petugas ke rumah, maka membayar biaya Rp 600 ribu. Namun, memang saat ini proses akan nikah diperketat. Baik yang akad nikah di KUA ataupun di luar. Jumlah orang dalam satu ruangan termasuk pengantin sampai saksi, tidak lebih dari 10 orang.

“Saat akad nikah tidak boleh lebih dari 10 orang. Selain itu, juga ada protokol kesehatan, salah satunya, semua harus steril dengan menggunakan hand sanitizer. Lalu, penghulu, pengantin, dan yang menikahkan memakai sarung tangan saat akad nikah. Dan semua yang datang wajib menggunakan masker,” terangnya.

Di sisi lain, menurutnya, di bulan Maret ini pengajuan pernikahan cenderung menurun. Berbeda dengan bulan Februari, jumlah pernikahan mencapai 1.049.

“Maret karena mendekati Ramadan, memang trennya cenderung turun. Saat ini perkiraan mencapai 200-300 pernikahan di Kabupaten Pasuruan,” terangnya.

Apalagi, kegiatan kerumunan sementara ditunda. Termasuk salah satunya kegiatan rutin bimbingan pranikah. Biasanya menjelang Ramadan, ada beberapa kegiatan bimbingan pranikah yang mengundang puluhan catin.

“Sementara ini semua ditunda, sampai situasi aman. Namun untuk akad nikah tetap kami layani, tapi tetap dengan protokol di atas,” jelasnya. (rpd/eka/hn)